
*** Sungguh aku belum pintar membuat konflik yang berat, jadinya hanya bisa muter-muter di kisah mereka berdua. Maaf ya jika belum bisa memenuhi ekspektasi kalian semua 🙏🏼 Terimakasih masih mau mampir dan membaca cerita receh dari amatiran ini. Boleh deh berikan kritik dan masukan yang membangun, biar bisa othor pakai untuk memperbaiki cerita ini kedepannya 😊🙏🏼 ***
** Selamat membaca 😊 **
*****
"Mami Kevin kemana ?" Tanya Flora saat memasuki ruang makan. Stelan kerja sudah membalut tubuhnya, juga jas berwarna putih itu sudah berada di lengannya.
"Loh dia ngga pamit padamu semalam ? Mami fikir dia sudah cerita jika pagi ini dia harus pulang ke Bali." Jawab Rosa dengan dada yang berdebar takut ketahuan berbohong.
"Dia ngga ngomong apa-apa Mi. Semalam aku janji mau antar dia ke Bandara." Wajah sendu terlihat jelas di wajah Flora namun dia tetap menarik satu buah kursi dan duduk di sana.
Rosa menyodorkan satu piring roti yang sudah di olesi selai dan satu gelas susu ke arah putrinya.
Bram diam, dia bingung harus memulai dari mana membicarakan ini pada putrinya. Kevin sudah menjelaskan semuanya semalam, jika Flora belum mengetahui apapun soal ini dan meminta bantuannya untuk menyampaikan tentang rencana cakon menantunya itu.
Bram menghentikan sarapannya lalu menatap putrinya yang lebih sibuk dengan benda pipih dalam genggamannya dari pada roti yang ada di depannya.
"Dia tidak akan lagi bisa di hubungi." Ucap Bram pelan.
Flora menoleh sambil menautkan alisnya bingung namun tetap melanjutkan aktivitasnya untuk menghubungi laki-laki yang pagi ini tidak lagi dia dapati di dalam rumahnya.
Suara operator terdengar, nomor yang sedang dia tuju sudah berada di luar jangkauan.
"Mungkin dia sudah di pesawat, nanti saja." Gumam Flora menghibur dirinya sendiri. Sebenarnya perasaannya mulai tidak enak, namun dia berusaha untuk menepisnya.
"Dia sudah pergi, dan memilih membatalkan pernikahan kalian." Ucap Bram.
Flora bungkam, tangan yang masih mengusap layar ponsel mahal seketika terhenti lalu menatap ke arah papinya. Otak pintarnya masih mencerna apa yang baru saja di ucapkan oleh laki-laki terbaik dalam hidupnya ini.
Membatalkan ? Itu hal yang mustahil, laki-laki itu memintanya menikah semalam dan mereka sudah baik-baik saja.
Rosa beranjak dari samping suaminya, lalu duduk di samping Flora. Ingin mengusap punggung putrinya itu, namun dia takut jika gadis lecilnya ini akan mengamuk padanya. Sungguh dia akan menghukum suaminya jika putri kesayangannya ini mengamuk padanya.
Flora terdiam, perih yang sempat menguap semalam, kini kembali terasa. Laki-laki itu kembali membohonginya.
__ADS_1
"Dia membohongi ku Mi, semalam kami sudah baik-baik saja." Ucap Flora pelan. Air mata tidak lagi ingin dia keluarkan untuk laki-laki sialan itu.
"Dia memang meminta izin pada Papi kemarin untuk menyudahi perjodohan kalian." Ucap Bram membuat Rosa melotot ke arah suaminya.
"Tapi semalam kami sudah baik-baik saja, dia bahkan berjanji untuk memperbaiki semuanya." Ucap Flora.
"Tidak ada lagi yang bisa di perbaiki nak, mungki nanti namun kesalahan yang dia dan kedua orang tuanya buat akan kembali datang menghantuimu. Untuk itu Ayah dan Ibunya juga mebyetujui pembatalan pernikahan kalin." Jelas Bram.
Flora bergeming, runtuh sudah semua harapan yang dia bangun semalam. Berharap untuk bisa membina keluarga kecil bahagia bersama Kevin kini di hempas oleh laki-laki itu begitu saja.
Seharusnya dia tidak lagi menahan Kevin kemarin, seharusnya dia membiarkan laki-laki itu meninggalkannya kemarin. Seharusnya dia memilih untuk melanjutkan usahanya untuk melupakan laki-laki itu.
"Aku tetap mau menikah." Ucap Flora membuat Bram dan Rosa terkejut.
"Kamu belum di apa-apain sama Kevin kan ?" Tanya Rosa cepat.
"Ngga, aku tidak akan pernah sudi di sentuh olehnya walau hanya di ujung rambutku." Jawab Flora dingin. Kecewa, yah laki-laki itu tidak hanya membuatnya terluka namun juga ikut menghancurkan seluruh cinta yang dia punya.
"Carikan saja, terserah siapa saja. Bawahan Papi di kantor pun ngga masalah." sambungnya lalu beranjak dari kursi makan.
Pagi ini, dia berharap akan kembali menyapa hari yang beru bersama Kevin. Memulai kembali semuanya dari awal. Bukankah semalam Kevin bilang jika mereka bisa mengubah masa depan mereka ? Pembohong !
Mobil sport milik Flora mulai melaju di jalana Jakarta. Klakson terus saja dia teriakkan saat ada mobil lain yang menghalangi jalannya. Flora memilih menepi di pinggir jalan. Dadanya bergemuruh, tenghorokannya sesak. Air mata mulai luruh membasahi pahanya yang terbalut rok selutut.
"Hallo ?" Suara wanita terdengar di sana.
"Ibu ?" Suara seraknya begitu terdengar jelas.
Anggun yang memang sudah berada di rumah Papa nya di Jakarta, menoleh pada putranya yang terlihat sedikit khawatir di tempat duduknya saat suara Flora yang sedang terisak terdengar dari ponselnya.
"Ada apa Flora ?" Tanya Anggun pelan.
Roby yang juga berada di dalam ruang keluarga kediaman mertuanya ikut menatap tajam ke arah putranya yang terlihat gelisah karena mendengar suara tangisan Flora di ponsel istrinya.
"Kevin ninggalin aku Bu. Aku harus apa ? Semalam kami sudah baik-baik saja." Kalimat Flora di sela tangisannya terdengar begitu jelas di dari ponsel Anggun.
__ADS_1
"Kamu sekarang dimana ?" Tanya Anggun.
"Aku lagi di pinggir jalan mau berangkat ke Rumah Sakit." Jawab Flora yang terdengar sudah sedikit tenang.
"Kamu tenang dulu, ibu akan menghubunginya dan segera memberi kabar padamu hm." Bujuk Anggun. Sesungguhnya dia merasa khawatir, dia sudah mengenal calon menantunya itu sejak balita dan dia tidak ingin hal yang buruk terjadi pada gadis itu.
"Nomornya ngga bisa di hubungi Bu." lirih Flora lagi.
"Kamu tenang aja dulu, dia pasti sedang menuju ke sini. Jika dia sudah sampai, Ibu akan menghubungi mu." Ucap Anggun, setelah mendapatkan persetujuan dari calon menantunya itu Anggun segera kengakhiri panggilan.
"Kamu tuh macam-macam aja, kalau terjadi apa-apa dengannya baru tahu rasa kamu." Omel Anggun pada Putranya.
Dia sangat kesal dengan laki-laki mudah mirip suaminya ini, pernikahan yang sudah di aturnya dengan baik satu bulan lagi kini berantakan karena rencana dadakan Kevin.
"Kalian bahkan belum fitting baju pengantin, undangannya belum tersebar." Omelnya lagi.
"Kami hanya ingin pemberkatan yang sederhana Bu, ngga usah yang besar-besar." Jawab Kevin. "Soal gaun pengantinnya, aku sudah memesan di butik tante Mey. Ibu tidak usah mengkhawatirkan yang tidak perlu." Sambungnya.
Bukan masalah pernikahan mereka yang dia khawatirkan, namun dia khawatir dengan gadis yang mungkin saja sekarang masih menangis di pinggir jalan.
"Ayah yakin dia akan semakin memebencimu karena rencana bodohmu ini." Ejek Robi pada putranya.
"Diamlah Ayah." Kesal Kevin.
Sanjaya yang sejak tadi menyimak apa yang sedang terjadi di ruang keluarga rumahnya terbahak sambil menggelengkan kepalanya. "Kelakuan anak mudah sekarang begitu rumit, kalau menikah ya menikah saja, kenapa harus memberikan kejutan-kejutan yang tidak perlu seperti ini dan menyiksa diri sendiri." Ucapnya.
"Aku bilang diam Opa." Ucap Kevin lagi namun lagi-lagi kakek tua itu semakin tertawa keras mendengar bentakan dari cucunya.
"Kalian sudah menghubungi Keyla dan Gerry kan ?" Tanya Sanjaya pada putri dan menantunya. Dia merindukan putra dan menantu yang sempat di bencinya dulu itu.
Anggun mengangguk, Gerry dan adik iparnya itu sudah berangakat sejak tadi malam dari Prancis.
"Gama juga datang ?" Tanya Sanjaya lagi.
"Gama tidak ikut, anak itu sedang berada di Berlin." Jawab Anggun.
__ADS_1