Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Merindu


__ADS_3

"Kenapa baru di angkat ?" Tanya Kevin saat wajah cantik istrinya sudah menghias di layar ponselnya.


Flora tersenyum menatap wajah lelah suaminya. Jas yang membalut tubuh Kevin tidak lagi ada disana, tersisa kemeja biru dengan dasi yang tidak lagi serapi pagi tadi.


"Ada banyak pasien, tahu lah UGD seperti apa." Ucapnya.


"Sudah makan siang ?" Tanya Kevin dan Flora menggeleng. Bagaimana bisa dia makan siang, sedangkan dia baru saja keluar dari ruangan yang penuh dengan pasien yang membutuhkan penanganan segera.


"Kok bisa, ini sudah siang Flo." Ucap Kevin memohon dan Flora tahu suaminya ini sedang menahan kesal karena jawabannya.


"Iya habis ini aku makan siang." Jawab Flora masih dengan senyum manisnya.


"Sekarang Flo."


Flora menggeleng


"Aku masih rindu." Ucapnya.


Kevin menatap istrinya dengan penuh rasa bersalah. Ini baru satu minggu setelah pernikahan mereka, namun dia harus terpaksa meninggalkan Flora sendirian di sana.


"Aku tidak akan lama di sini, besok aku usahain pulang ya." Ucap Kevin.


"Aku benaran rindu Vin, sampai rasanya ingin nyusul kamu hari ini juga." Lirih Flora.


"Maafkan aku sayang." Ucap Kevin. Sekuat tenaga dia ingin menyelesaikan agar bisa pulang malam ini, namun pekerjaan ini terlalu banyak.


"Permisi Dok." Ucap Lia di depan pintu yang sedikit terbuka.


"Iya ada apa Lia ?" Tanya Flora.


"Ini pesanan makan siang Dok sudah di antar kurir." Ucap Lia.


"Makan siang dulu Flo, nanti aku telfon lagi." Kevin kembali bersuara setelah mendengar suara asisten istrinya di balik ponselnya.


"Ya udah, kamu juga jangan lupa makan siang. Aku tunggu kepulangan kamu besok ya Vin." Ucap Flora memohon.


Kevin mengangguk mengiyakan.


"Bawa kesini Lia." Pinta Flora setelah memutus panggilan di ponselnya.


Lia mwmbawakan makan siang yang berasal dari salah satu restoran mewah itu lalu mulai menata makanan ke atas meja kerja Flora.

__ADS_1


"Terimakasih ya Lia sudah memesan makan siang ini. Jadi berapa harga semuanya ?" Tanya Flora.


Asistennya berhenti sebentar dari kesibukannya menata makanan yang terlihat menggiurkan di hadapannya.


"Ini sudah di bayar dok, dan bukan saya yang memesannya." Ujarnya jujur.


Flora menatap heran ke arah makanan mewah di hadapannya ini, karena dia pun merasa tidak memesan makanan sebanyak ini.


"Jadi siapa yang memesannya ?" Tanya Flora dan Asistennya itu hanya menggeleng tidak tahu.


Flora meraih ponselnya lalu kembali menghubungi nomor Kevin, namun ponsel suaminya itu sudah berada di luar jangkauan.


Ting....


"Jangan lupa makan siang Flora, aku memesan makanan dari restoran favorit kamu."


Sebuah pesan membuat Flora terbelalak, nomor yang sama yang mengirim pesan selamat atas pernikahannya kini kembali mengirim pesan singkat padanya.


"Lia...


Perawat sekaligus asistennya yang hendak keluar dari ruangannya kembali menoleh, menatap wajah Flora yang memucat di tempat duduknya.


Meskipin merasa heran, Lia tidak bertanya. Perawat cantik itu kembali memasukkan satu persatu kotak makanan ke dalam paper bag semula lalu membawa makanan itu keluar dari ruangan Flora.


Flora kembali fokus dengan benda pipih dyang ada dinfalma genggamannya.


Suara operator terdengar jelas dintelinganya satabdia mencoba menghubungi nomor yang baru saja mengirimnya pesan singkat. Nomor itu sedang di alihkan oleh pemiliknya, itu berarti siapapun itu memang hanya ingin menerornya. Tapi siapa yang melakukan hal ini ?


"Sialan." Umpat Flora kesal saat kembali mendengar suara operator dari benda pipih miliknya saat mencoba untuk menghubungi nomor itu.


Flora memaksa dirinya keluar dari ruangannya menuju kantin rumah sakit untuk mengganjal perutnya. Rasa lapar yang dia rasa tadi sudah menguap entah kemnaa, namun langkah kakinya tetap memaksanya berjalan menuju stand makanan di kantin rumah sakit agar lambungnya tidak akan sakit.


Seseorang di ujung ruangan mengepalkan tangannya saat melihat Flora memilih untuk menikmati makanan di kantin rumah sakit, padahal dia sudah memastikan jika makanan yang dia pesan untuk wanita itu sampai dengan selamat ke ruangannya.


Dokter senior yang menjadi sahabat dekatnya beberapa bulan terakhir ini ikut mendudukan tubuhnya di depan Flora. Keduanya makan siang bersama sambil bercerita tentang pasien yang mereka tangani hari ini.


"Benarkah ? Wah kamu sih terlalu cantik sampai sudah punya suami pun masih ada penggemar rahasia." Ujar Gia sambil menatap layar ponsel Flora dengan pesan yang tertera di sana.


"Aku serius Ka, ini ke dua kalinya nomor ini mengirim pesan singkat. Aku jadi takut pulang mana Kevin masih di Bali lagi." Ucap Flora.


Gia tertawa

__ADS_1


"Kemana gadis bar-bar yang dengan tega menghantam kepala suami dengan hels di malam pertama ? Masa sama suami tega sama orang lain takut." Ujar Gia mengejek.


"Iya ini beda Ka, walaupun aku apain Kevin, dia ga akan ngebalas. Namun orang ini aku tidak tahu siapa." Ucap Flora pelan karena beberapa perawat dan dokter sudah menatap ke arah mereka.


"Suami kamu tahu ?" Tanya Gia. Kali ini dokter yang sudah berumur namun masih terlihat cantik itu bertanya dengan wajah serius.


Flora menggeleng


"Ponselnya berada di luar jangakauan." Jawabnya.


Gia mendesah pelan.


"Kamu tinggal di mana ? biar aku antar." Ucap Gia.


"aku tinggal di rumah Opa. Tidak perlu mengantarku, pengawal Opa akan menjemputku saat pulang kerja nanti." Jawab Flora.


Gia mengangguk mengerti lalu kembali melanjutkan makan siangnya berasa Flora.


"Rencananya mau punya anak berapa Flo ?" Tanya Gia.


Flora yang hendak menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya mengurungkan niatnya lalu mendongak menatap Zia sendu.


"Aku akan sangat bersyukur jika Tuhan memberikan keajaiban itu Ka." Ucapnya.


"Loh kenapa ? kalau sudah nikah pasti akan punya anak. Kecuali kalian belum ngapa-ngapain."


"Ada sedikit gangguan di rahimku, dan itu sudah sejak dulu terdeteksi karena aku sering marasakan neyri yang berkepanjanagn saat mensturuasi sewaktu aku masih kuliah." Jawab Flora jujur.


Gia menepuk pelan punggung tangan Flora


"Jangan putus asa, kita tidak akan tahu apa yang sedang Tuhan siapakan do masa depan" Ucap Gia.


Flora mengangguk membenarkan kalimat Seniornya ini. Tuhan menggenggam kendali setiap kehidupan manusia, dan tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah berkehendak.


***


Langit jingga terlihat indah di sela-sela ujung gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di tengah kota Jakarta. Mobil yang membawa Flora mulai membela jalanan padat dengan perlahan.


Suara deru mesin mobil juga klakson yang terdengar saling bersahutan di pemberhentian lampu merah, sama sekali tidak bisa mengalihkan fikiran Flora dari kejadian hari ini. Sungguh rasa penasarannya semakin menggunung, saat nomor yang dia abaikan di hari pernikananya kembali mengirimnya pesan singkat hari ini. Bukan hanya pesan singkat namun juga makan siang yang di kirimkan oleh pemilik nomor itu yang tidak dia ketahui siapa.


Lupakan ? Ingin rasanya melupakan. Namun semakin dia ingin mengabaikan, rasa penasaran sekaligus takut semakin mengganggunya.

__ADS_1


__ADS_2