Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Cinta Dan Obsesi


__ADS_3

"Kamu sudah gila ! Ya Tuhan apa yang sudah kamu lakukan Fano ?" Ucap Gina kesal saat mendapati tubuh Flora sudah terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang di dalam apartemen yang entah milik siapa.


Sore ini Fano memintanya datang, namun karena banyaknya pasien yang datang ke tempat praktek miliknya, membuat Gina baru bisa datang ke alamat yang di kirim Fano malam ini.


Dan betapa terkejut saat mendapati istri dari sahabatnya sedang terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang di dalam kamar apartemen yang baru dia ketahui ternyata milik dari calon suaminya ini.


"Aku mencintainya." Ucap Fano datar sambil menatap sendu pada tubuh yang terbaring di ranjang setelah dia beri obat penenang yang ke sekian kalinya.


"Kamu tidak mencintainya Fano, kamu terobsesi padanya." Teriakan Gina memenuhi kamar apartemen baru milik calon suaminya.


Calon suami ? Yah si brengsek ini adalah calon suaminya. Dan sangat di sayangkan hati dan perasaannya masih utuh untuk laki-laki yang terlanjur mencintai hingga nyaris gila dengan wanita yang sudah menjadi istri orang lain.


Dengan tangan yang gemetar, Gina kembali memeriksa denyut jantung bayi yang semakin melemah karena obat bius yang terus masukn ke dalam tubuh ibunya.


Fano yang memberitahu padanya, jika Flora sendang mengandung dan itu semakin mebuatnya geram karena sudah berapa kali Fano memasukan obat bius agar Flora tidak sadar.


"Jangan memberinya obat bius lagi Fano, janinya lemah. Aku mohon jika kamu mencintai Flora, maka cintai juga janinya. Ini adalah keajaiban, Kevin pernah cerita sama aku, Flora ngga akan bisa hamil. Jadi aku mohon, jangan menyakiti anak mereka, jika kamu mencintai Flora jangan membuat dia terluka dengan kehilangan malaikat kecil yang begitu sulit dia dapatkan." Ujar Gina berusaha menyadarkan Fano.


Laki-laki itu masih bergeming menatap sendu pada tubuh yang masih belum sadarkan diri. Sedikit rasa bersalah memang sejak tadi mengganggunya, namun hanya ini jalan satu-satunya agar bisa bersama Flora.


Apakah sudah benar yang dia lakukan sekarang ? Entahlah, tapi membayangkan Flora tidak akan bisa dia miliki membuatnya hampir gila beberapa bulan ini.


"Kevin akan membunuh mu jika terjadi apa-apa dengan anak dan istrinya." Tegas Gina.


"Sebentar lagi Flora akan menjadi istriku." Ujar Fano dingin sambil menatap tajam ke arah Gina.


Plak...


Tamparan Gina telak menghantam wajah Fano.


"Sadarlah, sebanyak apapun cinta yang kamu punya, tidak akan pernah bisa merubah takdir yang sudah Tuhan gariskan. Kamu hanya manusia Fano, tidak semua hal yang kamu inginkan harus kamu dapatkan." Ucap Gina bersamaan dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.

__ADS_1


Sakit, hatinya sakit lagi-lagi mendapati kenyataan ini. Dua bulan setelah pernikahan Flora, dia berfikir laki-laki sialan yang masih bertahta di hatinya ini, sudah berusaha melupakan wanita yang tidak akan pernah bisa dia miliki. Namun kenyataan yang dia dapati hari ini membuat hati yang berusaha dia obati dari luka penolakan, kembali menganga perih.


Dia sangat mencintai putra dari majikan sang Ayah, namun terpaksa harus mengubur perasaanya dalam-dalam karena memang laki-laki yang kini bergeming karena tamparan yang dia berikan, tidak pernah menyambut rasa itu dengan baik.


drrttt...drrtttt


Gina menatap layar ponsel miliknya, dan yah nama yang sedang mereka bahas tertera di sana.


"Kembalikan dia sebelum terlambat Fano. Kamu akan menyesalinya jika tidak melakukan apa yang aku suruh." Ucapnya lalu melangkah meninggalkan kamar tempat Fano dan Flora berada.


"Ada apa Vin ?" Tanyanya gugup.


"Kamu dimana Gina ? aku ke apartemen kamu tadi, tapi kata satpam kamu belum pulang."


"Ah aku sedang ada di Bali Vin, ada sedikit urusan mendadak. Ada apa ?" Tanya Gina.


Jantungnya berdgup kencang. Rasa bersalah menyelimutinya karena tega membohongi sahabat sebaik Kevin demi melindungi laki-laki yang dia cintai.


"Flora Gin, dia ngga ada... Dia di culik.."


"Vin..


"Dia sedang mengandung Gin, dia sedang membawa anak kami yang masih sangat lemah di dalam tubuhnya. Sungguh aku sangat takut kehilanag dia."


Gina mendongak, berharap cairan bening yang terkumpul di kelopak matanya tidak akan meluncur jatuh namun sayangnya, air mata itu terlalu banyak menggenang hingga matanya tidak lagi sanggup menampung.


"Dia pasti akan baik-baik saja Vin, kamu tenang dulu ya, nanti aku bantu setelah aku pulang." Bujuk Gina.


****


Fano masih duduk di sisi ranjang tempat Flora terbaring, sedangkan Gina terus mondar mandir di depan Fano yang masih saja menatap wajah pucat yang sedang terbaring di atas ranjang.

__ADS_1


"Kenapa dia belum sadar juga ?" Gumam Gina khawatir. "Berapa banyak dosis yang kamu gunakan Fano ?" Tanya Gina.


Fano menoleh, menatap wajah Gina dengan gurat khawatir yang terlihat sangat jelas.


"Aku lupa, aku terburu-buru tadi karena dia tiba-tiba sadar." Jawab Fano pelan.


"Sialan Fano, kamu itu masih manusia bukan ? Ya Tuhan." Desis Gina kesal.


Sungguh laki-laki yang kini berada di hadapannya ini membuat dia takut. Rasa obsesi Fano terhadap Flora membuat Gina merinding, apakah cinta memang harus segila ini ?


"Jika terjadi sesuatu padanya, kamu akan meneyesal seumur hidup Fano." Ucap Gina lagi. Kali ini wajahnya terlihat tenang, berusaha membujuk laki-laki ini agar mengikuti sarannya untuk membawa Flora kembali pada keluarganya.


"Aku akan membawanya pergi Gina. Aku, Flora dan bayi yang sedang berada di dalalm kandungannya pasti akan bahagia." Ucap Fano.


"Dan kamu fikir Flora akan bahagia juga ? mungkin dia akan menyetujui keinginanmu demi menyelamatkan anak yang masih berada dalam kandungannya, namun dia tidak akan pernah bahgia Fano. Dia tidak mencintaimu sadarlah."


"Diam !! " Bentak Fano. Sumpah demi apapun kata penolakan yang kembali terdengar dari mulut Gina tidak lagi bisa dia terima. Meskipun semua memanglah benar, tapi bisakah tidak perlu untuk mengingatkan hal itu lagi padanya ? Tidak maslah jika Flora tidak mencintainya. Dia sangat mencintai Flora, bukankah itu sudah cukup ?


Gina terkjut, sekejap dia melihat tubuh Flora yang sedikit bergerak. Mungkin Flora juga ikut terkejut karena teriakan Fano padanya. Flora sudah sadar ? sejak kapan ?


"Fano, ayo kita menikah dan pulang ke rumah yang dulu kita tempati hm.." Ujar Gina membujuk.


"Jangan mimpi Gina, kamu tidak pantas bersamaku dan kamu tahu aku tidak mencintaimu sejak dulu." Tegas Fano dengan tatapan meremehkan yang sejak dulu dia arahkan pada Gina.


Gina tersenyum, jika dulu dia akan sangat terluka namun kini dia sudah terbiasa dengan tatapan juga ucapan penuh penolakan dari Fano.


"Aku tahu ! kita tidak perlu memiliki cinta untuk menikah Fano. Ayo kita mencobanya, dan hidup bahagia di sana." Paksanya lagi. "Papa dan Mama paati akan sangat senang jika kita kembali dan hidup bersama mereka di sana." Ucpa Gina lagi.


Fano menggeleng tegas


"Aku hanya ingin menikah dan hidup bersama Flora." Ucapnya.

__ADS_1


Gina menoleh, melihat tangan Flora yang terkepal erat.


" sampai matipun aku tidak akan pernah mau hidup dengan laki-laki se brengsek kamu." Ujar Flora.


__ADS_2