
***Happy Reading***
"Apa yang terjadi denganmu ?" Tanya Flora pada gadis yang sudah terlihat jauh lebih baik di sampingnya.
Karin mengalihkan pandangannya dari awan putih yang terlihat begitu indah di matanya.
"Entahlah, setiap kali aku menginjakkan kakiku di kota Bali, yang kata orang-orang adalah kota kelahiranku selalu saja seperti ini. Aku kehilangan banyak memori, dan setiap kali sedikit bayangan masa lalu melintas, kepalaku bagaikan di hujam dengan banyak paku." Jawab Karin menjelaskan. "Aku terlalu pengecut untuk menghadapi sesuatu." Sambungnya lalu kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela pesawat.
"Jadi apa sekarang kamu seorang mahasiswa ?" Tanya Flora sambil melihat ke arah gadis yang jauh lebih mudah darinya ini.
Karin menggeleng, tatapannya masih melihat awan-awan putih tebal yang terlihat begitu empuk di luar sana.
"Aku seorang model." Jawab Karin. "Aku bahkan tidak bisa menyelesaikan SMA ku, dan jangan tanya kenapa, sungguh aku tidak mengingat apapun." Sambungnya lalu tertawa miris.
Flora ikut tersenyum miris, pengecut ? ah dia adalah salah satunya. Pengecut karena tidak mau menghadapi masalah dan kembali memilih menjauh dari laki-laki yang masih begitu dia cintai.
"Semua orang punya masalah yang berbeda-beda dalam hidup, dan setiap orang berhak memilih cara yang dia inginkan untuk menyelesaikannya." Ucap Flora dan di angguki oleh gadis cantik di sampingnya.
Selagi cara yang di pakai tidak merugikan orang lain, maka lakukanlah. Kata pengecut terkadang berguna di saat sebuah keberanian tidak lagi bisa di pakai untuk menyelesaikan.
Jika menjadi seorang pecundang bisa cepat terbebas dari masalah, kenapa harus menjadi seorang pemenang dan justru menyakiti orang lain.
Namun kembali lagi pada masing-masing manusia, karena ego dan ambisi setiap manusia berbeda-beda.
Flora memilih menjadi pecundang untuk bisa keluar dari masalah yang semakin hari semakin menggerogoti hatinya.
Melupakan bukanlah hal yaang mudah, terlebih lagi ini perkara sebuah rasa yang masih bertahta di relung hati terdalam. Namun bukankah waktu akan terus berjalan ?
Memilih menjauh dan mencoba melupakan bersama waktu yang terus berlalu, bukankah jauh lebih baik dari pada memilih bertahan dengan waktu yang terus berjalan bersama dengan hati yang semakin hari semakin terluka dalam.
*****
Kurang lebih dua jam mengudara, kini pesawat yang di tumpangi Flora mendarat dengan selamat di Bandara di ibu kota.
"Briana Karina, tapi semua orang biasa memanggilku Karin." Ucap Karin sembari mengulurkan tangannya ke arah Flora. Sebelum mereka berpisah, dia ingin memperkenalkan nama pada dokter mudah di sampingnya ini.
"Flora Bramantyo." Jawab Flora lalu menyambut uluran tangan dari gadis di sampingnya.
"Baiklah Dokter Flora, senang bertemu denganmu." Ucap Karin lalu mulai melangkah keluar dari pesawat bersama asistennya.
__ADS_1
Sejenak Flora terdiam, dari gadis itu dia belajar jika di dunia ini tidak hanya dirinya yang punya masalah yang nyaris membuat kepalanya sakit.
Flora menarik nafasnya dalam lalu kembali menghembuskannya dengan perlahan bersamaan dengan sesak yang menghimpit rongga dadanya.
Langkah kakinya mwngikuti orang-orang yang bersiap keluar dari burung beai yang membawa mereka dari pulau dewata Bali.
Kota Bali kembali dia tinggalkan, mungkin kedepannya dia juga akan sama seperti Karin yang enggan menginjakkan kakinya lagi di kota wisata itu. Terlalu banyak yang menyakitkan hatinya di kota itu.
Membenci ? sepertinya satu hal ini tidak akan pernah bisa dia lakukan untuk laki-laki seperti Kevin. Ada banyak hal indah dulu yang mereka lalui bersama. Masa kecil penuh kebahagiaan, kemudian masa remaja yang di penuhi dengan kisah cinta manis yang menggebu. Kenangan manis yang masih tersimpan rapi di memorinya, tidak akan semudah itu menghapusnya.
Ah seandainya saja dia bisa seperti Karin yang kehilangan banyak ingatan masa lalu, mungkin akan jauh lebih baik.
****
Flora sudah masuk ke dalam sebuah taxi untuk mengantarkannya ke rumah, ponselnya tidak lagi bisa dia gunakan untuk menghubungi mami dan papinya karena sim card yang tidak lagi berada di tempatnya.
Tess..
Satu tetes air mata memaksa keluar dari netra indahnya. Rindu, dia sangat merindukan laki-laki itu.
Flora menatap nanar setiap bangunan-bangunan yang seperti bergerak menjauh. Sesekali dia mengusap pipinya yang basah dengan air mata.
Lebih baik untuk tersakiti dari sebuah perpisahan, dari pada memperthankan kebersamaan dan hanya membuat luka semakin menganga sakit.
***
Taxi yang dia tumpangi sudah berhenti di depan rumah mewah yang sedari kecil dia tempati. Kediaman keluarga Handoko itu tidak berubah, rumah mewah itu masih verdiri komoh dengan megahnya di tenga-tenga kota Jakarta.
"Kenapa pulang ngga ngabarin sayang." Ucap Rosa sambil memeluk putri semata wayangnya.
"Ponsel aku rusak Mi." Jawab Flora sambil melepaskan pelukan erat sang mami.
"Kok bisa ?" Tanya Rosa tidak percaya.
"Mana aku tahu, sudah waktunya minta di ganti kali." Jawab Flora sambil tersenyum jail ke arah sang mami "Papi ada ?" Tanyanya.
"Di kantor sayang."
"Baiklah, aku mau istirahat sebentar. Nanti kalau papi sudah pulang kasih tau aku." Ucap Flora kemudian berlalu dari sana.
__ADS_1
***
Flora memasuki kamar yang sudah sejak kecil dia tempati. Hanya ranjang dan beberapa perabot lainnya yang di ganti namun dekorasi atau apapun tidak ada yang di rubah dari kamar mewahnya itu. Dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar miliknya. Menutup matanya bersama dengan buliran bening yang kembali memaksa keluar tanpa bisa di cegahnya.
Bunyi pintu kamar yang memang tidak tertutup rapat terdengar dengan jelas di dorong okeh seseorang dari luar.
Flora segera menarik selimut dan berpura-pura tertidur ketika mendengar sang mami sedang berbicara melalui ponsel dan kini melangkah masuk ke dalam kamar tidurnya.
"Dia sudah tertidur nak." Ucap Rosa pelan.
"Tapi dia baik-baik sajakan tante ?" Tanya Kevin diujung ponsel.
"Iya dia baik-baik saja, nanti jika sudah bangun akan tante suruh menghubungimu segera." Jawab Rosa lalu mengakhiri pembicaraannya dengan sang calon menantu.
Rosa berjalan kembali menuju pintu kamar putrinya, lalu menutup pintu itu dengan perlahan.
Flora begitu terkejut, dia berharap setelah mengunci pintu kamarnya sang mami sudah keluar dari sana namun kini wanita yang selalu bisa menebak keadaanya ini sedang menatapnya dengan lekat.
"Apa yang terjadi ?" Tanya Rosa cepat.
Flora menggeleng.
"Jangan bohong Flora." Ujar Rosa tegas.
Flora sudah terdiam dengan air mata yang semakin deras meluncur dari mata indahnya.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kami Mami." Ucap Flora di sela-sela isakannya.
Rosa terkejut dengan apa yang dia dengar dari mulut putrinya.
"Jadi benar kamu mencintai Fano ?" Tanya Rosa dengan suara yang sudah memenuhi kamar Flora. "Mami tidak mau mengecewakan keluarga mereka karena hubungn sesaatmu itu. Putuskan hubungan kalian segera, dan fokuslah pada pernikahanmu." Sambungnya kesal.
Flora hanya terdiam, sungguh dia tidak ingin membeberkan kebenarannya. Dua keluarga yang sempat berselisih dulu, tidak boleh lagi terulang untuk yang ke dua kalinya.
Ayah dari laki-laki yang masih bertahta di hatinya, bahkan merelakan darah daging mereka pergi hanya untuk menjaga ikatan dua keluarga ini, bagaimana bisa dia merusak semuanya begitu saja.
"Aku masih belum ingin menikah." Jawab Flora pelan. Biarlah alasan ini mungkin tidak akan berpengaruh namun setidaknya ini bisa menunda dan paling penting sang papi tidak akan mangamuk pada keluarga itu.
"Istirahatlah, kita akan bicarakan nanti setelah papi pulang." Ucap Rosa lalu berbalik meninggalkan kamar putrinya.
__ADS_1