Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Memperbaiki


__ADS_3

"Jangan tinggalkan aku." Lirih Flora lagi. Tangannya membalas dekapan Kevin dengan sama eratnya.


"Aku tetap akan mencintaimu sebagai sahabat Flo." Jawab Kevin. "Aku ingin kamu bahagia, dan mungkin hanya sebagai sahabat aku bisa memberimu itu." Sambungnya.


Flora menggelengkan kepalanya yang terbenam di dada Kevin.


Kevin semakin mengeratkan pelukannya, kepala Flora yang hanya sebatas dadanya itu di kecupnya berulang. Sungguh dia pun merasa tersiksa setiap kali membayangkan Flora tidak akan pernah menjadi miliknya, namun dia akan lebih tersiksa lagi jika terus melihat Flora terluka.


"Temani aku pulang ke rumah untuk membicarakan ini dengan Papi dan Mami." Pinta Flora.


Kevin merenggangkan pelukannya di tubuh mungil Flora, lalu mengangguk menyetujui permintaan gadis itu.


Mobil yang di kendarai Gina sudah berlalu dari parkiran bandara, meninggalkan sepasang kekasih yang masih saja menarik ulur hubungan mereka. Teriakan untuk meminta transferan dari Kevin terdengar dari mulut gilanya.


*****


Mobil Flora yang kembali di kendarai oleh mulai membelah jalanan padat ibu kota. Tidak ada yang bersuara di antara mereka, keduanya masih setia bungkam bersama dengan perasaan yang bekecamuk.


Flora menarik nafasnya pelan untuk mengisi paru-parunya yang terasa begitu sesak ketika bayangan masa lalu manis mereka kembali melintas. Sad ending, sungguh dia tidak menginginkan ini terjadi, namun dia tidak lagi punya alasan jika Kevin yang memilih untuk tidak lagi berjuang.


Berjuang ? ah dia sadar, selama beberapa bulan terlewati ini dia sama sekali tidak pernah menghargai perjuangan Kevin. Laki-laki yang terus fokus dengan kemudinya ini, terus berusaha berjuang untuk memperbaiki semuanya, dan dia terus berusaha melupakan semuanya. Lelah ? Tentu saja, Kevin mungkin sudah lelah terus berjuang dan selalu saja dia abaikan.


Mobil sport berwarna merah yang di kendarai Kevin sudah terparkir rapi di depan rumah mewah milik keluarga Flora, keduanya masih diam di dalam mobil mewah itu tanpa suara, sibuk dengan fikiran masing-masing bahkan saat petugas keamanan menyapa tidak lagi mereka jawab.


"Aku fikir kisah kita akan sampai pada tujuan yang memang sejak dulu kita inginkan." Ucap Kevin sambil tersenyum miris.


Flora menoleh, embun di netranya begitu jelas terlihat saat mendengar kalimat yang keluar dari bibir Kevin.


"Aku fikir pun begitu." Jawab Flora sambil tersenyum namun tidak semanis biasanya. Mata yang berkaca-kaca itu mulai terlihat mengembun di pelupuk matanya.


"Kita berdua lupa bahwa jalan tidak selamanya lurus, apalagi jalan yang begitu panjang pasti akan ada belokan dan sandungan di mana-mana. Sayanganya aku tidak sempat mempersiapkan diriku untuk mengatasinya agar tidak menyakitimu." Ucap Kevin sambil mengusap buliran bening yang mulai menetes di pipi Flora.

__ADS_1


"Aku masih mencintaimu Vin. Sampai saat ini, bayangan menyakitkan saat kamu menyentuh banyak wanita sama sekali tidak bisa membuat cinta itu pergi. Aku sudah berusaha melupakan semua kenangan yang belasan tahun kita lalui, namun hanya membuatku semakin tersiksa." Ucap Flora di sela isakannya. Tangannya sudah menggenggam erat tangan Kevin yang berada di pipinya.


"Aku tahu, maafkan aku. Tapi inilah kenyataannya, aku tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki tiga tahun yang aku lewati dengan penuh kebodohan ini, dan aku takut jika memaksakan untuk terus bersamamu justru hanya akan membuatmu terluka." Ucap Kevin. "Kita bisa menjadi teman yang baik Flo, dan mungkin dengan itu kamu bisa bahagia." Sambungnya.


Flora menggeleng "Aku tidak bisa." Ucapnya


Kevin tersenyum lalu membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Bukan hanya Flora yang tidak bisa, dia pun sama. Sungguh, sekuat apapun dia berusaha memikirkan untuk melepaskan Flora selama dua bulan ini, tetap saja dia tidak begitu kuat untuk melakukannya. Hari ini dia memberanikan dirinya, karena dia juga ikut merasa perih saat mendengar isakan menyayat hati Flora di dalam kamar mandi tadi.


"Kita tidak bisa merubah waktu 3 tahun yang menyakitakan ini, namun kita punya kesempatan untuk memperbaiki masa depan kita berdua Flora." Ucap Kevin pelan sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Flora. "Jangan menangis lagi, kamu ngga cocok jadi gadis yang cengeng." Sambungnya sambil menghapus air mata yang menetes di pipi Flora.


"Kepalaku sakit, sejak tadi bawaannya nangis mulu." Ucap Flora membuat Kevin tertawa.


"Jadi apa kamu mau menikah dengan ku ?" Tanya Kevin.


"Kita memang akan menikah, kamu lupa ? tidak sampai satu bulan lagi loh itu." Jawab Flora kini wajah judesnya mulai terlihat.


"Itu kan permintaan Papi kamu, kali ini aku ingin memintamu dengan benar Flo." Jawab Kevin. Senyum hangat bercampur lega terlihat jelas di wajah blasterannya.


Kevin tergelak, sifat asli gadis kesayangannya sudah kembali.


"Cincin ngga kamu pakai ya ?" Tanya Kevin karena tidak melihat cincin pertunangan yang dia sematkan di jari Flora beberapa bulan yang lalu.


"Aku pakai kok, tapi di tempat lain." Jawabnya sambil menarik kalung yang tertutup blouse nya. Cincin berlian itu menggantung di kalung yang melingkar di leher nya.


"Lepaskan, kalungku." Perintahnya pada Kevin namun laki-laki itu menggeleng.


"Biarkan saja disitu, terlihat jauh lebih indah." Jawab Kevin sambil menyentuh cicin berlian yang ibunya pilihkan untuk Flora dulu. "Kalung ini ibu yang memilihnya." Sambungnya.


"Aku tahu, untuk itu aku tetap memakainya. Meskipun kita tidak lagi sama, namun Ibu dan Ayah masih sama. Mereka masi menyayangiku seperti dulu." Jawab Flora.


"Maafkan aku, sungguh maafkan aku karena sudah berbuat bodoh dan menyakitimu." Mohon Kevin. Tidak lagi bisa terhitung, berapa kali dia memohon maaf atas kebodohannya selama ini.

__ADS_1


"Aku pun minta maaf terlalu egois, selama ini hanya memintamu untuk mengerti namun tidak mau mengerti tentang kamu. Maafkan Papi juga karena membuatmu melepaskan kedokteranmu." Ucapnya pelan.


"Lupakan, aku berfikir dulu tidak ada yang lebih berarti selain kamu, dan itu masih sama. Semuanya masih tentang kamu Flora, aku hanya ingin kamu meskipun harus melepaskan segalanya." Jawab Kevin.


"Dih, gombal banget." Ledek Flora namun dadanya berdebar karena mendengar kalimat Kevin.


Kevin tertawa, mendengar ledekan gadis yang masih saja sama seperti dulu.


"Gimana sudah bisa ngerayu cewe lain belum ?" Ucap Kevin sambil mengedipkan matanya.


"Cih, sudah ah ayo masuk." Ajak Flora lalu membuka pintu mobilnya.


"Buat apa aku masuk ? kan tidak lagi ada yang perlu aku jelaskan pada Papi dan Mami kamu."


"Jadi kamu mau kemana ?" Tanya Flora


"Pulang ke rumah Opa, koper aku ada di sana." Jawab Kevin.


"Bukannya di apartemen Gina ?" Tanya Flora.


"Ah iya aku lupa." Ucap Kevin sambil menggeruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamu lagi bohongin aku ya ?" Tanya Flora sambil menatap Kevin lekat. Tangannya sudah terlipat di dadanya.


"Ngga kok, Gina pasti sudah mengantar koperku kembali ke rumah Opa." Jawab Kevin


"Ya udah, nginap aja di rumah Papi, nanti besok aku antar ke rumah Opa lalu ke Bandara." Ajak Flora.


"Tidur sama kamu ?" Tanya Kevin dengan wajah bodohnya.


"Jangan mimpi, dasar mesum." Ucap Flora lalu meninggalkan laki-laki yang kini sudah mengutuki mulut dan fikiran bodohnya.

__ADS_1


__ADS_2