
Flora duduk termenung di taman rumah sakit. Tubuhnya yang masih terasa lemas di rengkuh nya erat bersama switer rajut yang menutupi seragam pasien yang ia kenakan.
Sesekali matanya tertutup untuk menikmati hembusan angin pagi yang berhembus di wajah, hingga menerbangkan helaian rambut panjang yang di biarkan terurai di indah punggungnya.
Laki-laki yang ingin mengajaknya bicara, masih terdiam tanpa kata di sampingnya, dan dia pun tidak berniat memulia percakapan apapun.
Semua rasa yang dulu begitu membuncah di hatinya, seakan ikut mati terbawa dengan janin yang begitu ia impikan.
Ternyata mencintai dengan berlebihan itu tidaklah baik, karena rasa sakit dari kehilangan pun akan sangat berlebihan.
"Maafkan aku." Ucap Kevin akhirnya. Entah sudah berapa puluh menit waktu yang mereka lewati di taman rumah sakit ini, namun keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing.
Jika dia tidak memulai percakapan, maka sampai istrinya ini kembali keruangan, tidak akan ada yang bisa mereka bahas.
Pagi yang indah dengan sinar matahari terbit yang mulai terlihat di atas gunung. taman yang sengaja di buat berhadapan langsung dengan matahari terbit, menjadi tempat Flora dan Kevin kini berada.
Tiga hari setelah kejadian tragis itu, tidak pernah sekalipun Flora menyambutnya. Wanita yang dia nikahi lebih dari dua bulan yang lalu ini, tidak pernah lagi menyapanya.
Kevin sadar akan kesalahannya, meminta maaf pun rasanya tidak akan pernah cukup menawar luka yang kembali dia torehkan di hati wanita yang dia cintai setengah mati ini.
"Maafkan aku atas segalanya." Ucapnya lagi, namun wanita yang ingin dia ajak berbicara hanya bergeming. Mata indah yang selalu membuatnya jatuh cinta, fokus menatap sedikit warna jingga kekuningan yang mulai nampak di puncak gunung.
Flora menarik nafasnya dalam, tiga hari ini Papi dan Aunty nya selalu memberikan petuah. Jika tidak lagi ingin bersama maka bicaralah, tapi jangan menyiksa Kevin dengan mengabaikannya.
"Aku ingin pisah." Ucap Flora bersamaan dengan dada yang berdenyut sakit. Mengatakan kata pisah saja sudah begitu menyakitkan, bagaimana jika perpisahan ini akan terjadi nanti.
"Tuhan kenapa ini begitu menyiksa." Lirihnya dalam hati. Matanya tertutup, menikmati denyutan nyeri di relung hatinya kala kalimat perpisahan tercetus dari bibirnya.
__ADS_1
Sudahlah dia sudah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan janin yang begitu dia impikan, kehilangan Kevin sepertinya bukan lagi masalah dalam hidupnya.
Tangan yang sudah tiga hari ini tidak lagi berani menggenggam tangannya, kini terasa hangat saat tangan itu, kembali menyentuh punggung tangannya.
"Aku mohon
"Berhenti memohon Kevin, sejak awal kita tidak lagi sama. Namun aku terus memaksakan keadaan kita. Maafkan aku, seharusnya aku merelakan kamu menikahi Diandra, dan aku tidak perlu merasakan sakit kehilangan janinku." Ujar Flora tanpa menoleh. Sungguh dia tidak akan mampu melihat tatapan penuh permohonan Kevin.
Kevin menggeleng
"Mintalah apapun, aku akan memberikan waktu sebanyak yang kamu inginkan, jika hanya untuk menenangkan diri, tapi tidak dengan perpisahan." Ucap Kevin tegas. "Aku akan menunggu kapan kamu merasa lebih baik, satu tahun, dua tahun tidak lah masalah, yang penting jangan tinggalkan aku. Aku mohon." Sambungnya.
"Jika saja waktu itu aku merelakan kamu menikahi Diandra, mungkin Kak Gia ngga akan berniat jahat sama aku. Jika saat itu aku meminta kamu memilih menikah dengan Diandra, mungkin saat ini aku tidak menyakiti Fano dan membuat dia tega membunuh bayiku." Lirih Flora. "Semua salah ku, ini salahku." Ucapnya serak menahan isak tangis yang tercekat di tenggorokannya.
"Aku mau kembali ke kamar." Flora sudah beranjak dari tempat duduk taman, namun tangan Kevin kembali mencegahnya.
"Flo..
"Baiklah, aku antar ke kamar."
Flora melangkah lebih dulu meninggalkan Kevin yang juga ikut berdiri dari tempat duduknya. Dadanya berdenyut saat kata pisah yang dia takutkan akhirnya tercetus dari bibir istrinya.
***
Di sebuah tahanan, seorang wanita dengan bayi mungil yang belum berusia satu bulan sedang menangis tersedu.
"Apa yang sudah kakak lakukan pada nya ?" Lirih Diandra.
__ADS_1
Gia, kakak yang selama ini menjadi sandarannya nekat melakukan hal gila hanya untuk dirinya.
"Seharusnya kakak memikirkan masa depan kakak, aku dan anakku baik-baik saja." Ucapnya lagi di sela-sela isakan nya.
Gia menepuk lembut bahu adik nya, lalu tersenyum. Senyum yang mengatakan jika dia baik-baik saja.
"Kamu harus masuk ke dalam kelurga Kevin, kelurganya harus bertanggung jawab dengan anak mu Dian." Ucap Gia.
"Dan kakak pikir merek kan menerimaku dengan tangan terbuka setelah apa yang sudah terjadi pada Flora. Kakak salah, sejak dulu mereka memang tidak pernah menginginkan aku Kak." Lirih Diandra.
Gia terdiam, yah dia begitu bodoh. Tidak dia begitu frustasi saat mengingat nasib buruk adiknya. Adiknya yang sudah mati-matian bekerja untuk membantu membayar biaya sekolahnya, tak adil rasanya jika ia tidak mampu menebus semua pengorbanan adiknya ini.
"Sejak dulu mereka tidak pernah menginginkan kami Kak, seharusnya kakak membicarakan ini dengan ku terlebih dahulu. Jika sudah seperti ini, apa yang harus aku lakukan ? Bagaimana aku menghidupi putriku Kak."
Gia menatap nanar tubuh adiknya yang terus bergetar karena tangisan yang tak kunjung reda.
"Ada buku tabungan atas namamu di dalam lemari di kamar Kakak. Ambillah, dan pergilah dari Jakarta. Untuk apartemen yang kita tempati, bawalah kuncinya bersamamu. Kakak mungkin akan lama disini, rawat dan besarkan keponakanku dengan baik." Ucap Gia sembari mengusap lembut kepala keponakannya.
"Pulanglah." Ucap Gia lagi setelah mengecup kepala keponakannya.
Diandra hanya bisa menatap kepergian Kaka nya, saat petugas kepolisian yang sejak tadi menjaga mereka sudah membawa Gia keluar dari ruangan.
Air mata masih terus membasahi wajah cantik yang nampak lusuh milik Diandra. Wanita yang belum satu bulan ini menyandang status seorang ibu sengaja membiarkan air matanya jatuh hingga menetes membasahi kain yang membungkus bayi mungilnya.
"Maafkan Mama sayang. Karena kebodohan Mama, kamu harus terlahir di dalam hidup Mama yang mengenaskan ini." Lirih Diandra lalu memeluk erat tubuh putrinya. Bayi yang ia inginkan hadir agar bisa menjerat Kevin itu di rengkuh nya erat dalam dekapan.
Bagaimana ia menjalani hari tanpa Gia ? Setelah kepergian sang ibu beberapa waktu lalu, hanya Gia yang dia miliki. Namun kini satu-satunya wanita yang selalu mendukungnya pun ikut pergi. Meskipun tidak sejauh sang ibu, namun tetap saja membayangkan Gia mendekap di penjara karena dirinya membuat Diandra seakan ikut menyusul ibu yang sudah tenang di sana.
__ADS_1
Dengan langkah gontai, Diandra keluar dari gedung tahanan tempat kakaknya berada.
"Kuatkan mama ya Nak." Ucapnya di iringi buliran bening yang ikut jatuh menetes di wajah bayi mungil yang begitu mirip laki-laki yang membuatnya bodoh.