
Di kediaman keluarga Sanjaya, Bram masih terus memeluk istrinya yang terus menangis sesegukan karena sudah beberapa jam berlalu, namun oramg-orang suruhan mereka belum juga mendapat jejak di mana putrinya berada.
"Jika kita mencegahnya untuk menikah, mungkin hal ini tidak akan terjadi padanya Bram." Ucap Rosa di tengah tangisnya yang begitu menyayat hati.
"Adikku menderita, maka kalian pun harus menderita."
Ucapan Gia, dokter yang sudah di bawa oleh pihak kepolisian guna untuk penyelidikan lebih lanjut kembali terngiang-ngiang di telinganya.
"Seharusnya kamu tidak memaksa dia untuk menikah Bram, ya Tuhan putriku dimana dia sekarang ?" Lirih Rosa.
Flora adalah hidupnya, gadis kecilnya itu adalah satu-satunya pemberian Tuhan yang paling berharga dalam hidupnya.
"Dia sedang hamil Bram, ku mohon bawa dia pulang." Ucap Rosa lagi sambil memukul-mukul tubuh suaminya.
Keyla hanya bisa menatap penuh prihatin ke arah sahabatnya yang kini sedang menangis di dalam pelukan kakaknya.
Gery terus mondar mandir di dalam ruang keluarga, sambil menghubungi semua orang yang sudah keluarga nya kirim untuk mencari keberadaan Flora.
***
Di dalam ruang kerja, seorang kakek Tua sedang menatap tajam ke arah cucunya yang sudah babak belur karena pukulannya.
Kevin tidak lagi memperdulikan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya karena hantaman laki-laki tua yang kini sedang menatap nya penuh permusuhan.
"Kenapa tidak memberitahu soal ini pada Opa ?" Teriak Sanjaya geram. Jika laki-laki mudah yang terduduk di lantai dengan kepala tertunduk ini bukalah cucunya, ingin sekali ia ***** sampai tak bersisa.
Masalah sebesar ini, mereka sembunyikan dari dirinya hingga kini berakibat fatal membuatnya ingin mengamuk.
Jika saja dulu menantu dan cucu ini menceritakan semua yang terjadi, mungkin saja dia tidak akan lengah dengan keselamatan Flora dan calon cicitnya.
"Kevin !
Sanjaya semakin kesal karena cucunya yang baru saja dia pukuli habis-habisan tidak menjawab pertanyaan nya.
"Semua sudah selesai Opa, aku dan Diandra tidak lagi punya hubungan apa-apa. Aku pikir saat dia membawa cek kosong itu, tidak akan ada lagi masalah yang datang seperti hari ini." Ucap Kevin sambil menahan ringisan di bibirnya yang pecah karena pukulan kakek tua yang sedang menatap nyalang ke arahnya ini.
"Bodoh ! kenapa kamu lengah. Opa sudah mengajarimu untuk tetap waspada dan berhati-hati pada apapun." Ucap Sanjaya lagi.
__ADS_1
"Maafkan aku Opa, tolong selamatkan istri dan calon anakku." Lirih Kevin memohon.
"Aku akan menghancurkan semua orang yang terlibat dengan penculikan ini." Geram Sanjaya.
"Sudahlah Pa, Kevin juga frustasi karena masalah ini." Gerry yang baru saja datang menghampiri keponakannya yang terlihat seperti tidak lagi memiliki nyawa di tubuhnya.
Papa Sanjaya memang orang yang sangat keras dalam hal apapun yang berani mengusik keluarga nya.
"Aku sedang mengusahakannya, pihak kepolisian sedang melakukan yang terbaik. Mobil yang membawa Flora dari parkiran rumah sakit sudah di identifikasi." Ucap Gerry.
"Flora Om." Lirih Kevin. Sungguh dia tidak sanggup membayangkan sesuatu yang buruk menimpa wanita nya itu
Gerry hanya bisa menatap keponakannya ini prihatin. Pasalnya sudah hampir dua belas jam berlalu, namun kabar tentang keberadaan Flora tak kunjung datang.
Hanya mobil yang membawa Flora beberapa kali tertangkap kamera CCTV gedung, namun plat nomor kendaraan tidak terdaftar dan membuat kepolisian sedikit kesusahan untuk mengidentifikasi lebih lanjut siapa pemilik mobil itu.
"Kita pasti akan menemukannya." Hibur Gerry. Meskipun tidak yakin dengan kalimat nya, namun hanya ini yang bisa dia katakan untuk menenangkan laki-laki mudah yang terlihat mengenaskan di sampingnya ini.
"Istri dan anak ku akan baik-baik saja kan ?" Tanya Kevin lagi.
Gerry hanya mengangguk sambil menepuk pelan punggung keponakannya yang terlihat rapuh.
Memukul cucunya dengan tongkat rasanya belum bisa memuaskan kekesalannya hari ini.
"Jika terjadi apa-apa dengan Flora dan calon cicit ku, pastikan tubuhmu siap menerima hantaman tongkat ini." Ucap Sanjaya lagi.
Gerry hanya diam mendengar kekesalan Papa Sanjaya. Karena jika kakek tua itu sudah marah, maka akan sulit untuk membujuknya.
"Apa kakak kamu sudah sampai ?" Tanya Sanjaya pada putranya.
Gerry menggeleng
"Mereka masih dalam perjalanan menuju kesini." Jawabnya.
"Aku akan menghancurkan otak bodoh Roby dengan tongkatku ini." Gumamnya kesal.
Gerry hanya bisa menghela nafasnya berat, sejujurnya dia pun kesal dan tak habis pikir dengan sikap yang di ambil oleh Kaka ipar dan keponakannya ini.
__ADS_1
Setelah mendengar penuturan dari dokter yang menjadi salah satu dalang penculikan Flora, Gerry tidak lagi segan menghubungi dan memarahi Kaka iparnya itu.
Untung saja laki-laki yang menjadi salah satu orang dia hormati itu sedang berada di Bali, jika tidak mungkin akan menerima amukan dari sang Papa juga sama seperti yang kini di alami oleh keponakannya.
"Belum ada kabar ?" Tanya Sanjaya.
Gerry yang sedang melamun memikirkan nasib Kaka Iparnya tersadar, lalu menggeleng.
"Orang-orang ini jika itu masalah yang penting, langsung menjadi orang yang tidak berguna." Geram Sanjaya.
Kevin pun merasa heran, tiba-tiba saja orang suruhannya yang begitu cekatan, mendadak jadi orang yang tidak berguna dan membuatnya muak.
****
"Rosa maafkan kami." Ucap Anggun dengan gurat khawatir bercampur letih di wajahnya.
Setelah jet pribadi yang di sediakan oleh keluarga Adiwarman mendarat di bandara, Anggun dan Robby segera bergegas menuju kediaman ayahnya.
Rosa terus menangis dalam dekapan Bram, pikirannya buntu. Rasa takut kehilangan Flora semakin menjadi membuatnya tidak lagi ingin memperdulikan sekitarnya.
"Kak, Flora sedang mengandung." Ucap Keyla pelan.
Anggun terkejut, dadanya bergemuruh menahan sesak. Segala pinta dan do'a kini dia ucapkan di dalam hatinya untuk keselamatan menantu dan calon cucunya yang baru di ketahui hari ini.
"Apa sudah ada kabar terbaru ?" Tanya Anggun.
Keyla menggeleng.
"Mobil yang membawa Flora keluar dari pelataran rumah sakit, beberapa kali tertangkap kamera CCTV jalan, namun plat nomor yang terpasang di mobil itu tidak bisa di identifikasi." Jawabnya.
"Papa dan Gerry di mana ?" Tanya Anggun.
Keyla menjawab keberadaan tiga orang laki-laki yang sedang di tanyakan oleh kakak iparnya.
Anggun segera melangkah menuju rumah kerja sang papa dan di ikuti oleh suaminya yang sejak sampai di rumah mewah Sanjaya hanya menutup mulutnya rapat.
Kemarahan adik iparnya tadi mulai membuatnya menyesal. Sebagai orang tua dia telah gagal dalam melindungi anka-anaknya.
__ADS_1
Karena keputusannya beberapa bulan yang lalu, membuat menantunyadalam bahaya. Tidak hanya menantunya, tapi juga calon cucunya yang baru di ketahui hari ini ikut menanggung kesalahannya.
Jika saja dia lebih bijaksana dalam mengambil keputusan beberapa bulan lalu, mungkin Flora akan baik-baik saja.