Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Permohonan


__ADS_3

"Berhenti sebentar pak." Ujar Bram pada sopir pribadinya.


Lelaki tua yang sudah lama mengabdikan dirinya pada keluarga Handoko itu menghentikan mobil di di dekat laki-laki mudah yang sedang berdiri di depan gerbang.


Bram keluar dari dalam mobil mewahnya lalu berjalan mendekat ke arah calon menantunya yang entah sudah sejak kapan berdiri di depan gerbang rumahnya.


"Kevin ?" Tegur Bram.


Kevin terkejut melihat laki-laki yang seumurun Ayahnya sudah berdiri di dekatnya. Sedari tadi dia terus berperang dengan fikirannya sendiri hingga tidak menyadari ada sebuah mobil yang berhenti di sampingnya.


"Kenapa tidak langsung masuk ?" Tanya Bram pada calon menantunya.


"Kevin baru saja sampai Om." Jawab Kevin.


"Baiklah nak, ayo masuk." Ajak Bram. Rosa sudah memberikan kabar jika putri mereka sudah berada di rumah dan ingin membatalkan pernikahan yang sebentar lagi akan di selenggarakan. Dia begitu terkejut mendengar kabar dari istrinya beberapa jam lalu, namun sebagai orang tua dia harus bisa mendengar apa yang menjadi alasan hingga putrinya mengambil keputusan sepihak ini.


Dan saat melihat calon menantunya berdiri dengan diam di depan pintu gerbang rumahnya, dia semakin yakin jika hubungan putri dan calon menantunya ini memang sedang tidak baik-baik saja.


Kevin mengangguk, selang beberapa waktu petugas keamanan membukakan pintu gerbang itu lalu mempersilahkan pemilik rumah yang sudah mereka layani sejak dulu masuk ke dalam.


Mobil sudah di bawa sang sopir dan di masukkan ke dalam garasi, sedangkan Bram berjalan beriringan bersama Kevin menuju rumahnya.


****


Rosa yang akan menyambut kedatangan suaminya terkejut karena melihat laki-laki mudah yang baru beberapa jam lalu menghubunginya kini sedang berdiri di samping sang suami.


"Ayo masuk nak." Ucap Bram mempersilahkan.


Dua laki-laki berbeda usia itu memilih duduk di sofa yang ada di ruang tamu, sedangkan Rosa sudah ingin beranjak menuju kamar putrinya dan langsung diinterupsi oleh suaminya.


Rosa memilih menundukkan tubuhnya di samping Bram, sepasang suami istri yang tidak lagi semudah dulu itu menatap lekat ke arah calon menantu mereka. Menunggu penjelasan yang ingin mereka dengar karena putri mereka tiba-tiba ingin menyudahi rencana pernikahan yang sudah di atur dengan baik oleh dua keluarga besar ini.


"Kami tidak pernah memaksa kalian untuk menikah, ini permintaan kalian." Ucap Bram memulai pembicaraan karena laki-laki mudah di hadapannya ini masih menutup mulutnya rapat.

__ADS_1


"Maafkan Kevin Om." Jawab Kevin.


"Bukan permintaan maaf yang ingin Om dengar dari kamu, tapi sebuah alasan yang jelas kenapa kalian ingin mengakhiri pernikahan yang sudah di depan mata."


Kalimat yang keluar dari Bram seketika membuat Kevin menegang. Mengakhiri ? sungguh tidak pernah terbesit di benaknya untuk menyudahi semua ini, dia hanya ingin Flora.


"Kevin tidak pernah berfikir untuk menyudahi ini Om." Jawab Kevin yakin.


"Tapi Flora tidak ingin melanjutkan pernikahan ini." Ucap Bram tenang. "Om tidak tahu apa yang sudah terjadi dengan kalian selama beberapa tahun ini, untuk itu Om ingin kamu menjelaskannya hari ini." Sambungnya.


Kevin diam, entah bagaimana dia menjelaskan semuanya. Semua yang dia lakukan hingga kehamilan Diandra yang dia tidak tahu kemana wanita itu pergi sekarang.


"Mami aku lapar." Rengek Flora sudah berdiri di belakang Kevin yang masih terduduk dengan lesu. Laki-laki mudah itu semakin tertunduk saat mendengar suara yang ingin dia dengar seharian ini, fikirannya kini berkecamuk dengan apa yang baru saja calon papi mertuanya katakan.


Flora ingin menyudahi segalanya, padahal mereka baru memulainya kembali semalam.


Rosa tersenyum ke arah putrinya yang tidak lagi bisa menahan cacing-cacing yang di perutnya.


"Ayo Kevin kita makan malam bersama." Ajak Bram mengalihkan pembicaraan serius beberapa menit yang lalu.


"Katanya kamu lapar, kenapa kesana." Tarik Rosa pada dress selutut yang di kenakan putrinya. "Enak aja mau lari dari masalah, tidak ada yang mengajarimu untuk menghindar seperti itu." Bisik Rosa pada putrinya.


"Mi..." Flora memelas. Dia belum menyiapkan apapun. Penjelasan atau apapun itu dia masih belum menyiapkan dengan baik. Dan masalah akan semakin runyam jika laki-laki tua posesif itu mulai menginterogasinya.


"Makan kata mami." Tarik Rosa di lengan putrinya menuju ruang makan.


"Flora mau ambil ikat rambut Mi." Ucap Flora masih dengan nada memelas. Tatapannya kini tertuju pada laki-laki yang sudah duduk di depan sang Papi.


"Alasan kamu tuh, duduk sini nanti Mami bantu ikatkan." Ujar Rosa sambil mendorong tubuh putrinya dan terduduk di samping Kevin.


Wanita yang tidak lagi mudah namun selalu terlihat cantik itu menuju dapur dimana asistennya sedang menyiapkan makan malam, lalu berjalan kembali menuju putrinya berada.


"Apa yang akan Mami lakukan pada rambutku ?" Tanya Flora kesal pada wanita yang selalu saja bertingkah seperti anak kecil ini.

__ADS_1


"Mengikat rambutmu." Jawab Rosa santai lalu mulai mengikat rambut putrinya menggunakan karet bekas yang di gunakan mas-mas untuk mengikat sayuran.


Flora menghembuskan nafasnya kesal. Mengalah lebih baik, karena tidak akan ada gunanya berdebat dengan wanita tua yang selalu di cintai sang Papi ini.


***


"Terimaksih Mbok." Ucap Rosa saat asisten rumah tangganya selesai menata makan malam di atas meja di hadapan mereka.


"Makanlah, setelah ini papi ingin berbicara dengan kalian." Ujar Bram. Laki-laki yang terlihat berwibawa itu mempersilahkan Kevin yang sejak tadi menutup mulutnya untuk makan malam.


Tidak ada yang bersuara disana, Flora dilanda kecanggungan. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat melihat Kevin kini terdiam, bahkan setelah laki-laki itu menyelesaikan makan malamnya.


"Kevin ingin berbicara berdua dengan Flora Om, apa boleh ?" Izin Kevin. Kini mereka telah selesai makan malam dan sudah duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.


"Baiklah, Om tinggal sebentar." Jawab Bram lalu beranjak dari sofa menuju kamar tidurnya di ikuti oleh sang istri.


Sejenak ruangbkeluarga mewah itu begitu hening, hanya suara TV yang di biarkan menyala terdengar di sana. Keduanyahanya tertunduk dalam sambil menatap lantai marmer yang menjadi pijakan mereka.


"Kita sudah menjadi orang asing sekarang." Ucap Kevin memulai percakapan. Bayangan kenangan manis saat dulu seakan tidak ada jarak di antara mereka membuatnya tersenyum miris.


Flora terdiam, dia menyadari semuanya sudah berubah. Semuanya tidak lagi sama sejak mereka memutuskan berjalan di jalan berbeda tiga tahun lalu.


"Semuanya sudah berubah Vin, hanya perasaanku padamu yang masih sama hingga kini dan membuatku semakin terluka. Untuk itu aku ingin mengakhiri semuanya sekarang." Jawab Flora pelan namun bisa di dengar dengan jelas oleh Kevin.


"Jika perasanmu masih sama, harusnya kamu memberiku kesempatan untuk memulai kembali Flo. Aku fikir kita sudah baik-baik saja semalam, dan bagaimana bisa kamu ingin mengakhiri semuanya sekarang." Ucap Kevin, kini tatapannya sudah menatap lekat ke arah gadis yang sudah tertunduk.


"Kau tidak ingin semakin terluka nanti." Ucap Flora. Kini dia sudah mengangkat wajahnya dan menatap lekat manik yang selalu dia rindukan tiga tahun ini.


"Ku mohon Flo, jangan seperti ini. Aku hanya ingin kamu." Pinta Kevin memelas dengan penuh kesungguhan. Jika dengan memohon bisa membawa Floranya kembali, maka dia akan melakukannya.


"Tapi ada bayi yang tidak berdosa lebih membutuhkan tanggung jawab kamu Vin." Jawab Flora lirih. Beberapa tetes air mata sudah mulai membasahi wajahnya membuat Kevin tidak lagi bisa menahan tangannya dan segera meraih tubuh mungil itu lalu terbenam dalam dekapannya.


Permohonan maaf dari relung hati terdalamnya terus saja dia ucapakan di puncak kepala Flora. Rambut yang di ikat asal oleh calon mami mertuanya tadi di ciumnya berulang kali bersamaan kata maaf yang entah akan di terima oleh gadis ini atau tidak.

__ADS_1


Kini dia menyadari, bagaimanapun dia berhati-hati selama ini tetap saja Tuhan akan selalu memberikan balasan di setiap perbuatan. Dan kini dia merasakannya, karena perbuatannya yang dia fikir begitu mudah untuk dia selesaikan justru menjadi bomerang yang membuatnya ikut terluka karena melihat gadis yang dia cintai kini terluka semakin dalam karena perbuatannya itu.


__ADS_2