
Kevin masih terus mondar mandir di dalam ruang keluarga rumah utama. Rasa khawatir pada Flora terus saja mengusiknya. Ponsel dengan harga selangit itu terus berada di dalam genggamannya, namun masih dalam mode pesawat. Ingin sekali dia mengaktifkan benda itu dan menghubungi gadis nya, namun dia berusaha untuk tidak melakukan itu agar kejutan yang di rencanakan untuk Flora di hari bahagia gadis itu berjalan lancar. Jika ini gagal maka berakhirlah dia dalam amukan Ibunya.
"Ah sial, aku bisa gila jika terus seperti ini." Umpatnya. Rasa khawatir takut terjadi apa-apa pada Flora terus saja mengganggunya.
"Hubungi saja, tanyakan di mana dia lalu jemput dan bawa ke sini. Opa ngga sabar mau melihat wajah cantiknya." Ejek Sanjaya. Laki-laki tua itu masih duduk di sofa yang ada di ruang keluarga. Putri dan menantunya sudah pergi ke Bandara untuk menjemput putra dan menantunya yang lain.
Kevin semakin geram, sejak pagi tadi laki-laki tua ini selalu saja membuatnya marah. Apa laki-laki tua ini tidak tahu, jika dia pun sudah merindukan gadis cantik nya itu.
"Jika tidak bisa membantu, lebih baik Opa diam saja." Ucap Kevin kesal.
"Bodoh." Pukul sanjaya di kaki Kevin yang terus saja mondar mandir di hadapannya dengan tongkat kesayangannya.
"Sekali lagi Opa memukul ku dengan tongkat itu, aku pastikan tongkat itu melayang ke genteng tetangga." Geramnya.
Sanjaya terbahak saat melihat wajah kesal cucunya.
"Kamu tuh beda banget sama om kamu. Dulu dia bahkan memenjarakan Opa demi Keyla." Ucap Sanjaya sambil tertawa renyah kala mengingat perjuangan putranya untuk mendapatkan cinta menantunya.
"Jika Opa melakukan hal gila seperti itu pada Flora, aku pastikan Opa tidak hanya masuk penjara, tapi langsung menuju Neraka." Ujar Kevin kesal. Dia tahu kisah mengenaskan yang menimpa Aunti kesayangannya karena laki-laki tua yang masih saja duduk di sofa di hadapannya ini.
Sanjaya kembali tertawa mendengar kalimat mengerikan yang keluar dari mulut cucu nya.
"Bodohnya, semua laki-laki di rumah ini hanya Opa yang tidak merasa menjadi budak cinta." Ujar Sanjaya mengejek.
"Cih, aku yakin Opa juga tergila-gila pada Oma, buktinya sudah sekian tahun di tinggalkan namun tetap saja jomblo." Ejek Kevin.
*****
"Lelahnya." Keluh Flora sambil menyandarkan punggungnya di salah satu kursi yang ada ruang UGD.
"Kenapa disini ?" Tanya sala satu Dokter senior. Desas desus pernikahan Flora yang di majukkan sudah sampai di telinganya yang memang berada di semua sudut rumah skait ini. Namun kini gadis ini masih masuk dan membantu menangani banyak pasien di ruang gawat darurat bersamanya.
"Kenapa ? Ngga boleh ?" Tanya Flora sambil memicing
"Bukan gitu, katanya kamu udah ambil cuti nikah." Tanya Gia heran.
"Siapa yang bilang ? pernikahan apaan, lakinya kabur." Ujar Flora kesal.
"Jika lakinya kabur harusnya kamu ngurung diri di dalam kamar lalu nangis sepuasnya bukan malah ngurusin pasien di sini." Ucap Gia sambil tertawa lucu.
"Benar Ka, Kevin sudah pergi. Padahal semalam kami sudah baik-baik." Ucap Flora. "Aku ngga punya teman dekat, jadinya curhat sama Ka Gia aja." Sambungnya sambil tersenyum dengan wajah sendu.
"Benarkah ? kok bisa ?" Kepo Gia antusias.
Flora mengangguk dengan wajah sendunya.
__ADS_1
"Hei, kok bisa gitu ? Ka Gia sudah dapat undangan lisan dari Profesor loh." Ucap Gia tidak percaya. Beberapa dokter rumah sakit ini termasuk dirinya sudah mendapat undangan dadakan untuk ikut hadir di acara pemberkatan pernikahan Flora sore ini.
"Mungkin Paman Bagas belum tahu, Kevin baru membatalkannya pagi ini." Ucapnya.
"Mau peluk ?" Tanya Gia.
"Ogah, kalaupun Kevin ninggalin aku, aku tetap normal ya." Ucap Flora sambil menyilangkan tangannya di dada yang tertutup snelly.
Gia tertawa keras saat mendengar ucapan Flora.
"Kamu fikir hanya karena aku masih jomblo itu berarti memiliki seksual yang menyimpang ? buang jauh-jauh fikiran bodohmu itu." Ujar Gia kesal namun tetap membawa tubuh mungil juniornya ke dalam dekapannya.
"Sebentar." Ucap Flora saat mendengar bunyi notifikasi di ponselnya, dan Gia pun melepaskan tubuh Flora.
Senyum senang terlihat di wajah cantiknya saat melihat siapa yang mengirimnya pesan padanya.
Todak lagi menunda waktu, Flora segera menempelkan benda pipihnya untuk memastikan jika nomor yang mengirimnya pesan singkat itu benar-benar Aunti nya.
"Hai Flora."
Flora tersenyum mendengar suara yang masih saja seksi padahal Aunti kesayangannya itu tidak lagi mudah.
"Aunti, Flora rindu. Benar Aunti di Indonesia ?" Tanya Flora
"Hm, Aunti di rumah Opa nanti pulang dinas mampir ya." Suara Keyla kembali terdengar di ponselnya.
"Jangan, nanti aja kalau pekerjaannya sudah selesai."
"Baiklah, nanti Flora mampir." Ucap Flora lalu mengakhiri panggilan setelah Keyla pamit untuk beristirahat.
******
Di kediaman Sanjaya begitu ramai. Omelan Anggun masih saja mendominasi di dalam rumah mewah itu. WO dadakan yang di sewanya mulai mempersiapkan semuanya.
Kevin masih saja mondar mandir gelisah dengan stelan jas juga satu gaun berwarna putih di tangannya.
"Untuk menjemput pakaian ini pun ngga bisa kamu lakukan." Omel Anggun pada putranya.
"Ya udah lah Bu, yang penting kan pakaiannya sudah sampai." Jawab kevin memelas.
"Ini tuh gara-gara kamu, lihat sana Aunti Keyla dan Om kamu bahkan belum istirahat dan ikut sibuk mempersiapkan pernikahan konyol kamu ini." Omel Anggun tidak mau kalah.
"Sayang..." Panggil Robby pada istrinya.
"Diam, aku kesal sama anak kamu ini." Bentak Anggun. "Heran aku tuh, pernikahan yang sudah siap di Bali harus di tinggalkan dan memilih memulai lagi di sini." Sambungnya.
__ADS_1
"Ya sudahlah Ka, ngga ada gunanya marah-marah." Ucap Gerry menenangkan sang kakak yang terus saja memarahi keponakannya.
"Vin sini ikut Aunti." Ajak Keyla.
Kevin pun melangkah mengikuti Keyla dengan perasaan bersalah. Wanita terbaik setelah sang Ibu ini bahkan belum beristirahat setelah menempuh penerbangan yang panjang dari Prancis, dan kini ikut sibuk mempersiapkan pernikahan dadakan yang dia inginkan.
keyla mengambil gaun putih yang berada di tangan Kevin lalu memasangkan gaun itu pada manekin yang sudah tersedia di sana.
"Nanti stelan jas kamu di bawah ke kamar tamu ya," Ucap Keyla. "Kamu ganti di pakaian di sana nanti." Sambungannya.
"Aunti..." Panggil Kevin pelan.
Keyla memnghentikan kegiatannya lalu menoleh melihat wajah keponakannya yang tertunduk.
"Maafkan Kevin, Aunti pasti lelah." Ucapnya memelas.
"Ngga kok, Aunti sudah istirahat cukup di Pesawat. Jangan khawatir." Jawab Keyla sambil melangkah mendekati keponakannya itu. "Aunti bahagia melakukan ini, kamu dan Flora sama-sama berharga dalam hidup Aunti." Sambungnya.
"Terimakasih, dan kamar ini sangat indah. Flora pasti akan sangat menyukainya, apalagi jika dia tahu jika Aunti yang menyiapkan ini." Ucap Kevin.
Keyla mengangguk sambil menepuk bahu keponakannya lalu kembali melangkah untuk melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
Gaun putih sepaha itu sudah terpasang cantik di patung yang ada di dalam kamar lengkap dengan veilnya. Satu buket bunga mawar putih juga sudah tersedia di atas meja di dalam kamar.
"Kevin..." Panggil Keyla masih menatap gaun pengantin yang sudah terpasang di patung yang sebentar lagi akan di gunakan oleh keponakannya.
Kevin yang kini duduk di sisi ranjang dengan kelopak mawar menoleh, menatap punggung Keyla.
"Aunti mendengar masalah kalian dari Ayah dan Ibu kamu. Aunti mau tanya, jika seandainya sekertaris kamu itu kembali nanti bersama anak kalian apa yang akan kamu lakukan ?" Tanya Keyla.
"Kevin tidak perduli dengannya." Jawab Kevin tegas.
"Pada anak kamu juga ?" Tanya Keyla lagi.
Kevin terdiam.
"Kevin
"Terlepas siapa ibunya, kamu tidak akan bisa mengabaikan darah daging kamu." Ucap Keyla menyela
"Kevin bisa melakukan apapun untuk Flora." Ucapnya yakin.
Keyla tersenyum, melihat Kevin sekarang mengingatkannya pada Gerry. Namun dia masih meragu, dulu Gerry bahkan tidak pernah menaruh rasa apalagi menyentuh wanita lain selain dirinya. Berbeda dengan laki-laki mudah yang terdiam di sisi ranjang di hadapannya ini, Kevin bahkan menghamili wanita lain.
"Aunti hanya takut kamu akan menyakiti Flora nanti. Kamu tahu Aunti tidak akan pernah bisa memilih di antara kalian berdua." Lirih Keyla.
__ADS_1
"Percaya pada Kevin Aunti, wanita manapun tidak akan pernah bisa menggantikan Flora." Ucap Kevin yakin. " Kehamilan Diandra adalah hal yang paling Kevin sesali hingga saat ini." Sambungnya