
***Selamat Membaca 😊***
Sebanyak apapun kita berusaha melupakan, kenangan akan selalu datang membayang. Dan sejauh apapun kita melanglah pergi, kenangan akan selalu mengikuti.
Flora masih bergeming di dalam mobil. Gadis itu sama sekali tidak ingin keluar dari sana, saat mobilnya berhenti di depan kedai penuh kenangan. Dia masih tidak mengerti, mengapa calon suaminya ini membawanya kesini. Jika hanya untuk makan siang, bukankah ada banyak restoran lain di sekitaran sini.
Flora menunduk dalam, memilin jemarinya yang bertaut di atas pahanya yang terbungkus celana berbahan kain itu. Sungguh dia ingin melupakan semuanya, dan salah satu caranya yaitu tidak lagi mengunjungi tempat-tempat yang dulu selalu dia gunakan untuk menghabiskan waktu bersama laki-laki yang sudah lebih dulu keluar dari dalam mobilnya ini.
Kevin yang menyadari Flora tidak keluar dari dalam mobil, lalu dia kembali membalik tubuhnya menuju mobil dan membuka pintu mobil di samping Flora.
"Ayo keluar, aku lapar." Ajak Kevin sambil membuka lebar-lebar pintu mobil.
"Aku mau makan tapi tidak di tempat ini." Jawab Flora lalu menggeser tubuhnya duduk di balik kemudi.
"Kenapa ? bukankah ini tempat makan kesukaanmu ?" Tanya Kevin heran. Biasanya Flora akan sangat senang jika mereka bisa menghabiskan waktu di kedai ini. Dan sayangnya dia melupakan jika hubungan mereka tidak lagi semanis dulu.
"Tidak lagi." Jawab Flora singkat. "Kembalikan kunci mobilku." Bentaknya saat mendapati kunci mobilnya tidak lagi berada di tempatnya.
Kevin bergeming, menatap raut marah bercampur sendu dari wajah Flora.
"Apa kamu sudah melupakan semuanya ?" Tanya Kevin.
"Aku tidak lagi ingin membahasnya, dan yah aku ingin melupakan semuanya." Jawab Flora.
Kevin kembali terdiam di tempatnya, sebuahbsenyum miris namun samar terlihat di bibirnya.
"Aku tidak ingin mengingat sesuatu yang semkain membuat aku menderita." Ujar Flora lagi karena melihat Kevin yang masih berdiri sambil memegang pintu mobilnya.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Flora membuat Kevin merasa jika keputusannya kali ini adalah yang terbaik untuk mereka. Kevin masuk kedalam mobil namun sama sekali tidak memberikan kunci mobil pada Flora.
"Kita makan dulu di sini, aku janji ini yang terakhir kalinya aku mengajakmu kesini." Bujuk Kevin.
Flora keluar dari dalam mobil lalu membanting pintu mobil itu dengan keras. Kevin menarik nafasnya berat lalu ikut keluar dari dalam mobil, mengikuti langkah kaki Flora yang mulai melangkah masuk ke dalam kedai.
__ADS_1
Sepasang suami istri yang mulai renta menyapa langganan mereka. Mata tua wanita pemilik kedai menampakan binar bahagia saat melihat gadis yang sudah tiga tahun ini tidak lagi berkunjung le kedainya.
"Neng Flora kemana aja ? kok baru mampir ?" Tanya wanita tua itu.
"Flora kuliah di luar Negeri mbok." Jawab Flora.
"Bagaimana sudah jadi dokter profesional ?" Tanya wanita tua itu lagi.
Flora tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Wanita tua itu pun ikut tersenyum sambil mengusap rambut panjang Flora yang terurai di punggungnya.
Kevin menarik sebuah kursi yang tidak jauh dari tempat Flora dan wanita tua itu mengobrol.
Sedangakan lelaki tua yang tidak lain adalah suami dari wanita yang sedang berbincang bersama Flora, melangkah pelan menuju pelanggan setianya untuk menerima pesanan dari Laki-laki mudah yang terus saja menatap ke arah istrinya dan Flora.
*******
"Makanlah, setelah ini ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Kevin. Meskipun dadanya bergemuruh, namun dia berusaha untuk tetap meyakinkan dirinya.
Melihat Flora yang hendak memisahkan kuning telurnya, Kevin segera melakukan hal yang sama. Mereka terbiasa untuk bertukar putih dan kuning telur sejak dulu. Flora tidak menyukai kuning telur, dan dulu Kevin lah yang akan memakannya.
"Tidak usah." Tolak Flora saat Kevin menyodorkan putih telur itu ke dalam mangkuk Flora.
"Jadi ini di buang saja ?" Tanya Kevin
Flora diam, dia membiarkan saja Kevin melakukan apa yang dia mau. Kuning telur yang ada di atas ramennya itu sudah berpindah ke dalam mangkuk Kevin begitupun sebaliknya.
Suasana kembali hening, hanya suara sepasang suami istri yang mulai menua terdengar saat menyapa pelanggan lain yang memasuki kedai mereka.
Flora menikmati makanan kesukaannya yang sudah tiga tahun ini tidak lagi dia nikmati bersama dengan perasaan yang berkecamuk.
"Aku ke toilet." Izin Flora. Ramen di mangkuknya masih ada, namun dadanya sesak. Air mata memaksa untuk menerobos keluar dari tempatnya dan dia tidak ingin Kevin melihat itu.
Dengan langkah cepat, Flora bergegas menuju toilet untuk menumpahkan perasaannya yang tidak lagi bisa dia bendung. Pada akhirnya, pertahanan diri yang selalu di bangun akan runtuh juga, ketika kembali di hadapakan dengan kenangan yang selalu dia upayakan untuk hilang dari memorinya.
__ADS_1
"Brengsek." Umpatnya sambil memukul dadanya keras. Isakan dari mulutnya terdengar jelas. Mungkin saja jika ada orang lain yang menggunakan toilet di sampingnya, pasti akan ikut mendengar tangisannya.
"Lupakan, ku mohon." Lirihnya lagi. Kali ini tidak hanya dada yang menjadi pendaratan kepalan tangannya, namun kepala yang membungkus otaknya ikut merasakan juga.
Sungguh dia begitu Kesal pada dirinya sendiri yang masih saja terpengaruh dengan hal-hal seperti ini dan merasa tersiksa, karena logika dan perasaannya yang terus saja bertentangan. Sedanglan laki-laki itu dengan santainya menikmati kehidupannya tanpa terganggu oleh apapun.
Setelah puas menumpahkan semua sesak di dadanya, Flora keluar dari dalam toilet. Merapikan wajahnya yang terlihat begitu berantakan di depan cermin.
ting...
"Aku menunggumu di mobil." Sebuah pesan chat masuk ke aplikasi yang ada di ponsel pintarnya.
Usai membaca pesan yang di kirimkan Kevin, Flora kembali memasukkan benda pipihnya itu kedalam tas lalu keluar dari dalam toilet.
******
Kevin masih mengendarai mobil Flora, sedangkan gadis itu duduk dengan diam di bangku penumpang di samping Kevin, menikmati lampu-lampu jalanan ibu kota yang gemerlap.
Ini masih sore, gemerlapnya lampu ibu kota seakan tidak sabar lagi menunggu gelap untuk menerangi setiap sudut jalan padat yang tidak pernah sepi oleh pengguna itu.
"Kenapa kesini ?" Lirih Flora saat mobilnya yang di kendarai Kevin kembali berhenti di tempat yang tidak asing dalam ingatannya, dan tidak ingin lagi dia datangi.
Sebuah senyum hangat terlihat dari bibir Kevin, senyum yang dulu hanya selalu dia tujukan untuk gadis cadelnya. Tatapan penuh cinta kini dia kembalikan, sayangnya Flora tidak melihatnya. Dia senang, karena Flora masih mengingat tempat yang dulu selalu mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama, meskipun berusaha untuk di lupakan oleh gadis ini.
Flora hanya tertunduk dalam, menahan gejolak dan sesak yang kembali mengisi rongga dadanya. Jemarinya masih bertaut di atas paha, dan berharap sesak yang dia rasakan kini akan berhenti mengganggunya.
tes...tes...
Air mata kembali menetes perlahan menerobos keluar dari pelupuk netra indahnya, dan Kevin melihat itu. Tanganya ingin menghapus cairan yang membasahi pipi Flora namun entah mengapa dia tidak lagi memiliki keberanian untuk menyentuh bagian tubuh gadis yang tertunduk di sampingnya ini.
Kevin mengalihkan tatapannya pada hamparan laut lepas yang membentang sepanjang mata memandang. Menarik nafasnya pelan lalu kembali menghembuskannya perlahan. Dia ikut merasa sakit ketika melihat tetesan air mata yang keluar dari manik Flora, dan lebih menyesakkan lagi dia tidak bisa menghapus air mata itu. mendengar isakan tangis Flora di dalam kamar mandi tadi membuatnya semakin yakin jika keputusannya kali ini benar-benar yang terbaik. Meskipun ini terasa sangat sulit, namun dia harus memaksakan diri untuk bisa melakukan ini, demi kebahagiaan Flora.
"Aku ingin menyudahi hubungan ini Flo." Ucapnya pelan. Kini tatapannya sudah mengarah pada mentari yang siap pergi di ujung lautan. Menikmati gemuruh di dalam dadanya, karena merasa kalimat yang baru saja dia ucapkan ikut menusuk hingga ke jantungnya, dan itu menyakitkan.
__ADS_1