Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Akhir Kisah


__ADS_3

"I really love you Flo." Ucap Kevin.


"Me too." Balas Flora lirih.


Kevin semakin mengeratkan pelukannya, seakan pelukan ini tidak akan lagi dapati ke depannya.


"Aku sesak Vin." Cicit Flora pelan.


Kevin tersenyum lalu melepaskan dekapannya dari tubuh Flora. Tangannya kini bertengger di bahu Flora, mata yang selalu saja membuatnya jatuh cinta itu, di tatapnya dalam-dalam lalu sebuah senyum hangat terbirit di di bibirnya.


"Aku masih belum puas memelukmu." Ucap Kevin. Yah selama tiga tahun ia tidak lagi pernah memeluk gadis cadelnya. Jangankan hanya memeluk, untuk menyentuh ujung jemari Flora saja ia tidak berani melakukannya.


Flora masih terdiam, mencoba untuk menetralisir pikirannya yang seakan mengamuk karena begitu cepatnya ia memutuskan kembali.


Namun beberapa saat terdiam, hati nya yang kembali memenangkan pertarungan. Biarlah logika yang akan mengikuti kata hatinya.


"Hatiku masih utuh untukmu Vin, cinta ini masih sama besarnya. Hanya saja logikaku seakan berontak mengutuk diriku sendiri yang begitu mudahnya mengikuti kata hati, tanpa mempertimbangkan apa yang pikiranku mau. Aku harap setelah ini, tidak akan ada lagi yang membuat hatiku terluka, agar logikaku pun ikut lega jika keputusanku hari ini, adalah keputusan yang paling benar." Ujar Flora.


Kevin menatap Flora sendu. Sejatinya dia tidak akan pernah bisa menebak, apa yang akan terjadi kedepannya. Sama halnya yang terjadi beberapa tahun yang lalu, semua itu diluar kendalinya.


"Sekali lagi, aku takut menjanjikan semua itu Flo. Aku hanya bisa mengusahakannya, namun belum bisa memberi kepastian jika kelak sesuatu yang akan menyakitimu, benar-benar tidak akan kembali lagi." Ujarnya.


Dan yah, manusia tetap hanya sebatas manusia. Kita bukalah Tuhan yang bisa menggenggam semuanya.


Jangan memberi janji, karena jika janji tidak terpenuhi, maka bersiaplah untuk ikut merasa kan sakit. Tidak hanya menyakiti orang yang kita cintai, tapi juga diri kita sendiri.


****


Hari terus berlalu, dua tahun tidak terasa setelah mereka memutuskan untuk kembali. Mencoba melanjutkan kisah yang sudah terjalin puluhan tahun lamanya.


Flora memilih untuk memaafkan, karena pada dasarnya manusia tidak akan pernah luput dari kesalahan termasuk dirinya. Bukankah awal mula keretakan hubungan mereka, karena memang keegoisannya.


Senja masih terlihat indah di ujung lautan, dan sepasang suami istri kini ikut menikmati keindahan warna jingga yang nampak di langit, serta angin pantai yang berhembus di pulau Dewata Bali. Keduanya sedang menemani gadis kecil dengan rambut ter kuncir dua, yang sedang asik membuat istana pasirnya. Senyum dari ketiganya tidak pernah surut sejak beberapa jam yang lalu.


Semua akan berlalu, semua rasa sakit pasti akan memudar bersama dengan waktu yang pergi berlalu. Mungkin tidak akan mudah, mungkin tidak secepat yang kita kira, tetapi yakinlah semua akan berlalu pada waktunya.

__ADS_1


Flora bersandar di bahu Kevin dengan perut yang membuncit. Nafas hangat di puncak kepalanya, begitu jelas terasa saat Kevin mengecupan puncak kepalnya.


Tangan lentik yang melingkar di lengan Kevin semakin erat, bersama rasa sesal yang menyeruak. Seandainya ia tidak memilih menjauh dari Kevin lima tahun yang lalu, mungkin saja mereka sudah memiliki dua orang anak.


Senyum manis kembali terlihat di bibir Flora, saat gadis kecil yang bernama Fania itu datang memeluk dan mengusap perut buncitnya.


Menerima cinta dari putri kecil yang sempat di bencinya, membuat Flora tersenyum miris. Betapa egoisnya dia dulu, karena membenci anak yang tidak tahu apapun.


Tidak hanya Fania yang begitu mencintainya, tapi juga laki-laki yang kini ikut mengusap lembut perutnya.


Dua bulan telah berlalu mereka di Bali. Sejak kandungan Flora mulai memasuki bulan ke tujuh, wanita yang sudah berprofesi sebagai kepala rumah sakit milik keluarga di Jakarta itu, memilih untuk beristirahat sejenak dari pekerjaannya.


Pulau Dewata Bali tempat Ayah dan Ibu mertua berada, menjadi tujuan Flora kali ini.menanti kehadiran buah hatinya di kota wisata yang selalu indah di pandang mata.


Ayah Roby selalu menjaganya dengan baik. Dokter kandungan yang sudah memilih berdiam diri di rumah itu, selalu memastikan semua perkembangan calon cucunya berjalan dengan baik.


"Aku bahagia, kali ini benar-benar bahagia." Ucap Flora.


Kevin yang terus mengusap lembut perut buncit sang istri mendongak.enatap wajah yang tidak pernah pudar kadar kecantikannya itu dengan lekat. Lalu senyum hangat melengkung di bibirnya.


"Itu yang aku mau Flo." Ucapnya.


Sebuah ruangan VVIV di sebuah Rumah Sakit di pulau Dewata Bali begitu indah di pandang mata. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menampakkan senyum terindah mereka.


Flora mengusap pelan air mata Kevin yang jatuh di pipi laki-laki itu. Lalu dengan cepat Kevin meraih tangan lentik yang ada di pipinya, kemudian di kecupnya berulang kali.


Bayi mungil yang lahir beberapa jam yang lalu, kini sudah berada di gendongan para kakek dan nenek baru di sofa sana.


Putri kedua mereka yang di beri nama Rania Alexander itu sama sekali tidak menggeliat, padahal tubuh kecilnya terus saja berpindah dari tangan yang satu, ke tangan lainnya.


"Terimakasih Flo." Ucap Kevin lagi. Entah kata terimakasih yang ke berapa ratus kali terdengar kembali.


Flora tersenyum lalu mengangguk.


"Aku bahagia memiliki kalian. Fania, Rania dan kamu juga." Jawabnya.

__ADS_1


*****


Waktu terus berlalu, dua bulan setelah kelahiran Rania sudah di lewati dengan suka cita. Tidak ada lagi rasa sedih yang selama tiga tahun merajai kehidupan mereka.


mentari pagi yang sempat di gunakan Flora untuk berjemur di taman belakang rumah yang menjadi saksi ikatan suci pernikahan mereka, kini mulai merangkak naik ke tengah langit biru, kemudian mulai kembali turun menuju senja yang hanya menampakan keindahan beberapa waktu lamanya.


Tidak akan ada yang abadi, bahkan esa sakit pun akan kembali berganti bahagia.


Flora terlelap di ranjang di dalam kamar mewah di kediaman keluarga Sanjaya. Malam juga mimpi yang indah selalu menemani hari-harinya lebih dari dua tahun ini.


Mata indah yang dulu selalu sembab oleh air mata mulai terbuka perlahan. Tangannya terulur meraba tempat ranjang kosong di sampingnya, dan laki-laki yang selalu memeluknya saat terlelap tidak berada di sampingnya.


Flora bergegas beranjak dari atas ranjang, lalu keluar dari kamar mewah mereka. Tujuannya adalah ruang kerja laki-laki itu, namun belum sempat melangkah jauh, langkah kakinya terhenti di ambang pintu kamar yang terbuka lebar.


Kamar tidur milik dua putrinya itu, masih terbuka lebar dengan lampu yang menyala.


Perlahan Flora melangkah masuk ke dalam kamar itu. Senyum bahagia kembali terlihat di wajah cantiknya.


"Papi, nanti Fani ajak Adek main ya." Ucap Fania.


Gadis kecil yang kini berusia enam tahun terus menyentuh pipi adiknya dengan sangat hati-hati, membuat senyum Flora enggan pergi dari bibirnya.


Kevin mengangguk lalu mengusap lembut puncak kepala putrinya.


"Apapun yang terjadi, Fani harus memastikan Adek selalu baik-baik saja." Ucap Kevin dan segera di angguki oleh putri kecilnya.


Dengan perasaan yang sulit di gambarkan, Bahagia bercampur haru, Flora semakin memangkas jarak mendekati dua orang yang sedang berlutut di samping Box Bayi tempat putri bungsunya terlelap.


"Seharusnya aku sudah memutuskan ini sejak lama, agar aku tidak perlu merasa sedih selama tiga tahun lamanya." Lirih Flora


Kevin menoleh, lalu segera beranjak dari samping Box tempat putrinya terlelap.


Kepalanya menggeleng.


"Jika kamu tidak melakukan itu selma tiga tahun, mungkin kita tidak akan sampai di titik ini. Selama tiga tahun itu aku menyadari jika kehilangan itu tidaklah mudah. Hanya saja yang aku sesali adalah, kamu harus ikut merasa sedih." Ujar Kevin sembari mengusap lembut pipi Flora.

__ADS_1


Tahu tidak ? mengikuti kata hati dari pada logika terkadang memang menyesakkan. Tapi, percayalah akhir bahagia akan selalu menanti, saat kita sudah benar-benar mengusahakan yang terbaik.


***** TAMAT*******


__ADS_2