
Semua sudah terjadi, dan tidak lagi berguna untuk di sesali.
Jika saja hati akan semudah mulut ketika mengatakan kalimat itu, mungkin saja tidak akan ada penyesalan di dunia ini.
Sayangnya Tuhan sengaja menciptakan rasa itu, agar manusia bisa belajar dari apa yang sudah terjadi. Karena pada dasarnya setiap manusia yang masih hidup tidak akan pernah luput dari kesalahan.
Flora melepaskan handscoon yang melekat di tangannya, lalu membuka jas operasi yang melekat di tubuhnya.
Dia baru saja menyelesaikan operasi dengan lancar, tangan yang sudah membantu nyawa orang yang ke sekian kalinya, sekaligus gagal membawa kembali pasien itu di tatapnya lekat. Tangan yang tidak bisa menjaga janin nya dengan baik, di tatapnya nanar.
Hikss..Hikss...
"Kenapa ini begitu menyiksa Tuhan." Isak tangis Flora terdengar jelas di dalam kamar mandi yang ada di dalam ruang opersi itu.
Melihat tatapan Kevin pagi ini selama sekian tahun menghindar, membuat dadanya semakin sesak. Juga wajah sedih gadis kecil yang tidak berdosa saat ia tinggalkan tadi pun, semakin mengganggunya.
Apa sudah benar semua yang dia lakukan hari ini ? Entahlah, dia melakukan semua ini agar dia bisa kembali baik-baik saja. Namun rasanya semakin menyesakkan dada.
Rasa cinta untuk Kevin yang tidak pernah beranjak sekian puluh tahun, dan hari ini kembali di tambah dengan kehadiran Fania yang semakin menambah daftar deritanya.
Apa sebenarnya yang sedang Tuhan persiapkan untuknya ?
Bisakah dia kembali ke masa saat dia masih berumur tiga tahun ? agar bisa menghindar untuk jatuh cinta pada laki-laki yang semakin memberinya luka hari ini.
Entahlah, dia hanya ingin baik-baik saja, namun sepertinya kata itu begitu sulit untuk terealisasi.
****
"Ceraikan aku hari ini juga." Ucap Anggun dingin.
Ruang keluarga mewah yang sejak tadi di isi perdebatan sepasang suami istri, tentang anak kecil yang di bawa Kevin pagi ini seketika hening.
Keyla dan Gerry yang juga berada di dalam ruang keluarga itu menoleh. Menatap wajah Anggun yang terlihat murka.
__ADS_1
"Jika kamu masih bersikeras merawat anak wanita itu, ceraikan aku." Ucap Anggun lagi sambil menatap nyalang pada suaminya.
Roby menutup mulutnya rapat-rapat.
"Aku tidak mau menyakiti Flora lebih dalam lagi, sudah cukup dia merasa bagaimana sakitnya kehilangan karena kebodohan kita. Kali ini aku tidak akan mau menyakitinya lagi dengan membawa anak itu dalam keluarga ini." Jelas Anggun.
Sanjaya yang bisanya selalu bereaksi dengan apapun yang mengganggu keluarganya, kini diam membisu di tempat duduk nya.
Lelaki tua itupun bingung. Di sisi lain, dia iba melihat gadis kecil sebatang kara itu, namun di sisi lain juga dia merasa tidak enak jika membawa gadis itu ke dalam keluarga dan akhirnya menyakiti Flora.
"Kak kita bis bertanya lebih pada Flora, jika dia mengizinkan makan tidak ada salahnya untuk membawa gadis itu dalam keluarga. Toh dia memang benar-benar anak Kevin." Usul Gerry.
Anggun menggeleng tegas,l. Karena Flora pasti akan mengizinkan bersama dengan hati yang remuk. Sungguh, penyesalan karena melihat Flora terpuruk karena kehilangan calon cucunya, membuat ia menyesal sampai hari ini. Jadi dia tidak lagi ini menambah daftar derita wanita yang mati-matian di paksa masuk dalam kelurga itu.
"Kak, aku akan bicara lebih dulu pada Flora." Kali ini Keyla yang berusaha membujuk Anggun. "Flora juga wanita yang ingin menjadi seorang ibu. Terlepas Fania adalah kesalahan yang Kevin buat, namun Fania tetap saja seorang gadis kecil yang pernah di impikan Flora." Sambungnya menjelaskan.
Anggun menarik nafasnya dalam, lalu mengangguk. Tatapannya kini tertuju pada gadis kecil yang terdiam dalam pangkuan putranya. Sejujurnya rasa iba menyeruak ke dalam hatinya, saat melihat gadis kecil yang hidup dalam penderitaan.
Namun ia pun harus tetap memprioritaskan Flora dalam hal apapun. Sudah cukup putranya memberi begitu banyak luka, dia tidak lagi ingin menambah daftar derita dengan menghadirkan anak kecil ini.
"Dasar ******." Umpat Anggun di dalam hatinya.
"Lalu ?" Tanya Keyla.
Kevin menoleh menatap Aunty kesayangannya yang terus iba melihatnya.
"Fania seharian bersama Flora, dan semalam pun anak ini tidur di kamar Flora." Jawab Kevin.
Keyla tersenyum. Sepertinya ini akan berjalan tanpa hambatan. Gadis kecilnya yang dulu selalu menempel padanya itu tetap saja hanya seorang wanita yang merindukan status sebagai seorang ibu. Fania tidak bersalah dalam hal ini, tapi ibunya.
"Fania mau ikut jalan-jalan sama Oma nggak ? kita ke tempat Mami." Ucap Keyla.
"Ami ?" Tanya Fania dengan mata penuh binar.
__ADS_1
Keyla mengangguk lalu tersenyum.
"Sayang, jangan membuta Flora tidak nyaman." Ujar Gerry memelas.
Keyla menggeleng. Yah dia sangat tahu bagaimana sikap keponakannya itu. Dan hari ini dia perlu memastikan satu hal.
Gadis yang dulu selalu datang ke kantor sang Papi untuk mengganggu pekerjaannya itu, pasti akan luluh jika dia kembali membujuknya.
Sejujurnya semua yang terjadi tiga tahun lalu, sudah di luar kendali. Semua orang lengah, karena terlalu larut dalam kebahagiaan.
Flora masih mencintai Kevin sebanyak dulu, dia sangat yakin akan hal itu, dia hanya terluka karena kehilangan calon bayinya. Dan Kevin yang terlalu menyalahkan dirinya sendiri, memilih untuk tidak mengganggu Flora saat gadis itu terus menjaga jarak dengan semua orang.
"Key, apa ini akan baik-baik saja ?" Tanya Anggun ragu sambil mengikat rambut Fania dengan jepit rambut yang di beli Flora kemarin.
"Percaya padaku Kak, kita hanya bisa membuat Fania menjadi penawar luka yang baru untuk Flora. Bram dan Rosa juga sudah mengizinkan." Jawab Keyla.
"Cantik Oma." Ucap Fania.
Meskipun masih kaku, sebuah senyum tipis nampak di bibir Anggun.
"Apa benar, Flora yang membeli semua ini ?" Tanya Anggun sambil mengedarkan pandangannya pada tumpukan paper bag yang di bawa putranya hari ini.
"Iya, kata Bram dan Rosa juga begitu. Kita hanya perlu bekerja sama untuk membantu menyembuhkan lukanya Kak. Aku yakin setelah sembuh, dia pasti akan kembali menjadi Flora kita yang dulu." Ucap Keyla menguatkan.
Anggun mengangguk mengerti, kemudian mengikuti Keyla dan Fania yang melangkah keluar dari dalam kamar.
*****
"Jangan lupa makan siang, maaf aku tidak bisaengantarkan makan siang untukmu hari ini. Ada pekerjaan yang harus segera aku tangani. Maafkan aku atas segalanya, aku tetap mencintaimu."
Sebuah pesan singkat yang masuk kedalam ponselnya, membuat Flora kembali menarik nafasnya dalam-dalam.
Kevin meninggalkan gadis kecil demi pekerjaan. Ah terserahlah, dia tidak perduli lagi tentang laki-laki itu.
__ADS_1
"Ami.." Teriak Fania dengan mata polos penuh binar saat Lia, asisten Flora membuka lebar pintu ruangan.