
Bab 40 Kehilangan
Hukum alam akan berlaku pada siapa saja. Uang dan harta yang menggunung sekalipun, tidak akan mampu menahan karma dari perbuatan kita.
Jika kita belum merasakannya, jangan merasa senang dulu. Karena ketahuilah, karma tidak akan pernah salah alamat.
Flora menatap kosong pada layar TV yang menyala di ruang paviliun tempat dia di rawat. Harapannya hancur, jiwanya serasa ikut mati ketika mengetahui janin yang dia impikan tidak lagi bersemayam di dalam rahimnya.
Sekali lagi ia menertawakan dirinya sendiri yang begitu angkuh. Bayangan bagaimana brutalnya di memukuli Diandra di kantor Kevin dulu kembali melintas. Dan lebih membuat nya sesak wanita yang dia pukuli beberapa bulan yang lalu itu sedang mengandung darah daging suaminya.
Seharusnya dia tidak perlu melanjutkan pernikahan yang kini membuat dia kehilangan. Flora menutup matanya, hingga cairan bening yang lolos di pelupuk matanya tidak bisa lagi dia bendung.
Suara isakan dari Mami Rosa di sudut ruangan tidak lagi dia hiraukan. Jiwanya kosong, kenapa Tuhan tidak sekalian mengambil nyawanya saja, agar tidak perlu merasakan sakit karena kehilangan sampai seperti ini.
Janin mungil yang bahkan baru dia ketahui kemarin, kembali di renggut hari itu juga dari rahimnya.
Apa Tuhan tidak percaya padanya, hingga harus kembali mengambil titipan yang sangat dia inginkan itu ? Apa Tuhan meragukan kemampuannya untuk menjaga malaikat kecil itu ? Entahlah kini dunianya seakan berhenti. Hidup yang baru kemarin merasa bahagia, kini kembali ter renggut paksa. Seharusnya dia ikut mati bersama darah yang mengalir di kamar apartemen terkutuk itu.
Bunyi pintu ruangan terbuka menyadarkan Flora dari renungan nasib dirinya yang mengenaskan. Sosok tampan yang menjadi penyebab dari semua rasa kehilangan hari ini, mematung di ambang pintu. Dari ujung mata, dia menangkap sosok yang kini sedang menatapnya sendu.
Biarlah, untuk hari ini saja dia ingin mengabaikan laki-laki yang kembali membuat dia terluka. Luka yang di tidak tahu kapan akan pulih kembali. Luka kehilangan janin yang begitu dia harapkan.
Tes...
Satu tetes air mata merembet di pipi bersamaan dengan tubuhnya yang bergerak membelakangi laki-laki yang ingin dia benci namun terasa begitu sulit.
Langkah kaki terdengar semakin mendekati ranjang tempat dia berbaring. Suara sang Papi yang terus berusaha menenangkan salah satu wanita terbaik dalam hidupnya seakan tidak lagi penting.
__ADS_1
Dia memilih untuk mengabaikan semua yang ada di dalam ruangan itu. Meskipun rasanya menyesakkan
"Flo...
Suara lembut yang membuat dadanya bergemuruh kini terdengar. Flora menutup matanya, menahan dada yang begitu sesak.
"Keluar Kevin, aku mau istirahat." Ucapnya dingin.
Kevin tertunduk lesu, menatap sendu punggung yang begitu dia rindukan. Punggung yang terlihat sangat rapuh itu ingin di dekap nya erat, dan mengucapkan kata maaf dan semua akan baik-baik saja.
"Aku moho
"Keluar kataku !" Bentak Flora tanpa berniat membalik tubuhnya, bahkan kalimat Kevin belum selesai laki-laki itu ucapkan.
Kalimat yang lagi-lagi ingin Kevin utarakan hanya bisa dia telan kembali, karena semua ini memang salahnya. Dialah dalang yang harus di salahkan dari semua kejadian hari ini.
"Istirahatlah, aku mencintaimu." Ucap Kevin lalu berbalik keluar dari ruang perawatan Flora.
Air mata semakin deras menetas membasahi bantal rumah sakit. Flora membekap mulutnya, berusaha sekuat mungkin agar isakan yang membuat rongga dadanya sesak tidak ikut keluar dari mulutnya.
Pintu ruangan kembali terkunci, Keyla yang sejak tadi membantu Bram untuk menenangkan Rosa kini melangkah mendekati Flora.
"Flora." Panggil Keyla. Namun gadis kecil kesayangannya itu sama sekali tidak menyahut.
Hanya isakan kecil terdengar samar dari atas bed pasien di hadapannya. Keyla menghela nafasnya berat, lalu kembali menghembuskan nya perlahan.
"Semua orang pernah merasa kehilangan, Aunty pun begitu. Bahkan sampai dua kali kehilangan anak yang seharusnya Aunty jaga dengan baik. Namun harus kamu tahu, Aunty tidak pernah menyalahkan siapapun tentang hal itu, karena semuanya memang sudah di takdirkan seperti itu sayang. Jangan membenci orang lain, jangan menyalahkan orang lain yakin dan percaya jika Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang lebih baik di balik kejadian ini." Ujar Keyla sambil mengusap lembut punggung yang terus bergetar menahan tangis di hadapannya..
__ADS_1
"Menangis lah, meraung lah jika itu mampu membuatmu lebih baik, namun Aunty mohon jangan menyiksa dirimu sendiri dengan tidak mengikhlaskan sesuatu yang sudah di ambil oleh pemiliknya." Sambung Keyla.
Kalimat Aunty kesayangannya semakin mengiris. Punggung yang sejak tadi dia usahakan untuk tetap tenang kini bergetar hebat di sertai suara isakan yang semakin menyayat hati.
Ingin rasanya mengamuk sama seperti biasanya saat dia merasa tidak tahan lagi dengan kesakitan yang mendera, namun jiwanya seakan ikut pergi bersama janin yang begitu di impikan dalam hidupnya.
"Aunty tahu aku di diagnosa sulit memiliki keturunan, dan hanya dalam waktu dua bulan aku berhasil memilikinya. Tapi Tuhan kembali mengambilnya hanya beberapa jam setelah aku mengetahui janin yang aku impikan itu tumbuh di rahimku. Sakit sekali Aunty.."
"Sini sayang, peluk Aunty. Kita akan melewatinya bersama. Tuhan akan menyiapkan sesuatu yang lebih indah ke depannya. Kalian masih bisa mengusahakannya lagi. Jika kemarin kamu berhasil hamil, tidak menutup kemungkinan besok juga akan hamil lagi. Jangan seperti ini sayang, Aunty ikut menderita melihatmu seperti ini." Mohon Keyla.
Flora membalik tubuhnya, menatap wanita yang selalu Papinya jaga sejak dulu.
"Ayah dan Ibu bahkan takut untuk menemui mu, karena mereka merasa ini adalah kesalahan mereka."
"Mau peluk Aunty." Ucap Flora di sela-sela isakan pilunya.
Keyla membantu Flora duduk di ranjang, lalu membawa tubuh yang terlihat rapuh itu ke dalam pelukannya.
"Jangan terlalu berlarut dalam kesedihan sayang. Tuhan punya rencana yang indah di balik musibah ini. Yakin dan percaya, Tuhan tidak akan mengambil sesuatu yang baik dari hidup kita, kecuali akan di ganti dengan yang lebih baik lagi." Ucap Keyla sambil mengusap lembut punggung keponakannya.
Bersedih boleh, tapi tidak untuk berlarut-larut. Ketahuilah, yang menyebabkan penderitaan dalam hidup adalah, ketika apa yang kita inginkan tidak dapat terwujud, apa yang ingin kita lakukan tidak dapat dilaksanakan, hingga hati merana, pikiran tersiksa. Terobsesi atas hasrat yang tidak terpenuhi.
Jika saat ini hatimu masih resah, jiwamu gelisah. Tumpahkan semuanya, meraung dan menangis lah jika itu mampu membuat mu lebih baik. Hingga kesedihan tak lagi memiliki celah untuk singgah. Terkadang luka dan ujian hadir, memang karena Tuhan ingin ego kita tersingkir.
"Percayalah sayang, semua ini adalah skenario terbaik dalam hidup kamu. Berdamai lah dengan keadaan, dan maafkan semua orang termasuk diri kamu sendiri."
Flora masih terus sesegukan di bahu Keyla, ingin rasanya dia menyampaikan semua kesakitan yang nyaris membuat dadanya meledak. Mungkin dengan menangis sepuasnya, setelah ini perasaannya akan jauh lebih baik.
__ADS_1
Semoga...