Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Awal Tragedi


__ADS_3

*** Othor ingin segera menamatkan kisah Flora dan Kevin agar bisa mulai menulis kisah Gama dan Briana. Ada yang masih setia menunggu kisa mereka selanjutnya kan ? kalau iya, ayo jangan malas untuk meninggalkan jejak biar othor juga ga malas nulisnya heheh ***


*** Happy Reading yaaa 😚😚😚 ****


***


Mentari yang tadinya masih menguning menembus jendela kamar mewahnya di rumah utama keluarga Sanjaya, kini sudah merangkak naik dengan teriknya di tengah-tengah langit biru yang membentang.


Lelah, sungguh sangat melelahkan. Dengan langkah perlahan, Flora memaksa tubuhnya yang lemas menuju kantin Rumah Sakit. Pagi ini dia melupakan sarapannya. Kutuk lah dirinya sendiri yang kini memliki tingkat kekepoan yang sudah di level 10.


Sepiring nasi dengan semangkuk sayuran bening kini sudah berpindah ke dalam tubuhnya. Flora berpamitan pada Gia yang selalu menjadi teman menikmati makan siangnya untuk lebih dulu pergi karena ada yang ingin dia lakukan sebelum kembali berkutat dengan pasien-pasien.


"Mau kemana Flo ?" Tanya Gia saat melihat teman makannya akan beranjak dari kursi yang ada di depannya.


"Aku mau ketemu dokter kandungan Ka, sudah dua bulan setelah pernikahan kami, aku tidak lagi mendapatkan tamu rutin di setiap bulan." Jawab Flora sambil tersenyum senang lalu pamit pergi dengan tergesa meninggalkan dokter senior yang sudah beberapa bulan ini menjadi satu-satunya teman dekatnya di rumah sakit ini.


Gia mengepalkan tangannya di bawah meja saat mendengar kalimat yang meluncur dari bibir gadis dengan kehidupan yang penuh keberuntungan itu. Darahnya semkain naik hingga ke ubun-ubun, karena kabar yang dia teriama siang ini.


Mendengar Flora tidak bisa memliki ketururnan, membuat rasa benci nya berkurang. Namun saat mendengar kabar siang ini, membuat kemarahan yang dulu berkobar kini semakin menyala.


"Kamu sudah terlalu lama mengulur waktu brengsek, jika tidak kamu lakukan sekarang, aku sendiri yang akan melakukannya." Ucap Gia saat benda pipih yang menempel di telinganya sudah terhubung dengan nomor tujuan.


"Jangan berani menyentuh apa lagi menyakitinya. Aku tidak akan pernah mengampuni jika berani menyentuh Floraku walau hanya seujung rambut."


Gia semkain kesal lalu mengakhiri panggilan itu segera.


****


Sudah ada sedikit tenaga yang akan kembali dia gunakan untuk melanjutkan aktivitasnya. Ruangan dokter kandungan kini menjadi tujuan langkah kakinya.


Dia ingin memastikan penyebab tamu bulanannya yang tidak kunjung hadir dua bulan ini. Dan kata semoga kembali dia gumamkan, berharap penyebab tidak adanya darah kotor yang rutin keluar dari rahimnya itu memang karena sudah bersemayamnya salah satu sel yang sering masuk ke dalam tubuhnya di pagi hari.


Dokter laki-laki tampan itu menyambut Flora dengan senyum ramah.


"Wah tocker juga yah." Ejek dokter yang katanya sudah memiliki dua anak itu saat melihat dokter cantik yang masih berlabel pengantin baru itu datang mengunjungi ruang kerjanya.

__ADS_1


"Baru mau memastikannya." Jawab Flora dengan wajah bersemu.


Entahlah membahas urusan beginian dengan orang lain rasanya terlalu memalukan menurutnya.


"So, sudah berapa lama tidak datang bulan." Tanya Rio.


"Setelah pernikahan kami." Jawab Flora singkat. Tubuhnya sudah terbaring di bangkar pasien.


"Maaf ya." Ucap dokter tampan itu sembari mengusapkan jel di perut Flora.


"Dan yah sesuai dugaanmu, selamat Flo." Ucap Rio tulus masih menatap layar monitor yang hanya bisa di pahami olehnya.


"Benarkah ?" Tanya Flora penuh binar bercampur rasa tidak percaya. Tatapannya ikut meoleh ke arah layar yang menampakkan satu bulatan kecil di sana.


"Yah, tapi janinya lemah. Kamu harua ekstra menjaganya, kalau perlu aku sarankan untuk tiga bulan pertama ini bedrest dulu di rumah. Dan sepertinya rahim kamu bermasalah, apa sudah memeriksanya ?" Tanya Rio khawatir.


"Pasti, aku akan melakukannya dan yah aku memiliki penyakit dan sudah sangat lama. Aku pasti akan menjaga janin ku dengan baik." Jawab Flora cepat sambil beranjak dari bangkar di bantu suster yang menjadi asisten Rio.


Rio tersenyum lalu mengangguk


Flora mendengus mendengar ucapan rekan sesama dokternya ini.


Ponsel yang ada di saku snelly segera di rogohnya lalu mulai mengetikkan beberapa digit angka yang sudah dia hafal di luar kepala untuk memberitahukan kabar baghagia ini. Kevin, yah dia ingin laki-laki itu menjadi orang pertama yang tahu tentang kabar kehamilannya ini.


Entah deringan yang keberapa kalinya, namun laki-laki yang sedang dia hubungi tidak juga mengangkat panggilannya.


"Nanti saja dirumah." Gumamnya.


"Nah, ini dia gambar anak kamu untuk yang pertama kalinya." Ucap Rio sambil menyodorkan satu kertas berwarna hitam ke arah Flora.


Flora menerima kertas itu lalu mengucapkan kata terimakasih kemudian keluar dari ruangan dokter kandungan.


Senyum masih terpatri di bibirnya, di tatap nya kembali gambar yang hanya terdapat titik-titk putih itu dengan perasaan membuncah dan penuh syukur. Yah tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak bukan ?


Flora mengabadikan gambar itu dengan kamera ponselnya, lalu mengirim gambar itu lewat pesan chat.

__ADS_1


"Jemput yah calon Papi, kami menunggumu." Ketiknya di bawah gambar yang kemudian dia kirim melalui pesan untuk sang suami yang masih bergelut dengan kesibukannya.


Gambar berwarna hitam itu kembali dia masukkan ke dalam kantong snelly bersama benda pipih miliknya. Senyum bahagia masih terpatri di bibirnya.


"Cie selamat ya." Ucap Gia yang sudah berdiri di samping Flora.


"Ka Gia, kok tahu ?" Tanya Flora.


"Senyum kamu lebar gitu, jadi aku sudah bisa menebaknya." Jawab Gia dan Flora tersenyum semakin lebar.


"Kakak dari mana ?" Tanya Flora


"Tadi habis antar pasien ke lab." Jawab Gia sambil melirik kursi roda dengan matanya.


Flora mengangguk.


"Mau peluk ga ?" Tanya Gia.


"Boleh." Ucap Flora sembari menghambur memeluk tubuh dokter senior yang sudah menemaninya beberapa bulan ini.


"Ka.." Flora tercekat saat merasakan dispo yang kini tertanam di lengannya.


"Ka.." Ucap Flora lagi dengan suara yang melemah bersamaan dengan tubuhnya yang perlahan melemas.


Gia menutup matanya, sedikit rasa bersalah menyelusup ke dalam relung hatinya saat kepala Flora sudah terkulai di atas bahunya.


Koridor rumah sakit yang begitu sunyi memberinya peluang, dan dengan leluasa Gia meletakkan tubuh Flora yang tidak lagi sadarkan diri ke atas kursi roda yang sudah dia siapkan sejak tadi.


***


Gia kembali menengok, melihat wajah wanita yang memucat di kursi mobil yang ada di sampingnya. Semesta seakan begitu berpihak padanya. Kini dia sudah aman, mereka sudah berada di area parkir rumah sakit yang sunyi. Tinggal menunggu laki-laki yang sedang dalam perjalanan untuk membawa Flora pergi jauh dari hidup Kevin tiba di tempat yang sudah mereka janjikan.


"Dia sudah bersamaku." Ucap Gia saat suara laki-laki yang sedang gelisah di ujung ponselnya terdengar.


"Jangan melukainya, kamu hanya ingin dia berpisah dengan Kevin kan ? aku pun menginginkan hal yang sama. Jadi jangan menyakitinya, aku mencintai nya." Ucap laki-laki di ujung telfon yang masih berada di samping telinga Gia.

__ADS_1


"Aku tahu, aku sudah melakukan bagianku. Dan ini saatnya kamu melakukan bagianmu. Urus dia, bawa dia pergi menjauh dari hidup Kevin agar adik dan keponakanku bisa mendapatkan kembali tempat yang seharusnya mereka dapatkan sejak dulu." Ujar Gia lalu mengakhiri panggilan itu tanpa mendengar kalimat yang dia yakin masih saja sama dari mulut laki-laki di ujung ponselnya.


__ADS_2