
Pintu kamar mandi terbuka, laki-laki dengan tubuh atletisnya yang terbungkus selembar handuk putih terdiam dengan hati mencelos ketika mendapati Flora tidak lagi berada di dalam kamarnya.
Kevin melangkah cepat menuju pintu kamar lalu keluar menuju ruang tamu apartemenya. Yah gadis itu tidak hanya keluar dari kamarnya, namun sudah pergi dari apartemenya.
Sejenak di terhenti menatap koper kecil yang masih ada di dalam ruangannya. Gegas kakinya kembali melangkah menuju dapur, ketika melihat koper milik Flora masih tergeletak di ruang tamunya, namun gadis itu juga tidak berada disana.
Seharusnya dia sadar, saat gadis itu menghadirkan laki-laki lain di antara mereka, semuanya sudah benar-benar selesai. Harusnya dia tidak lagi memaksakan hatinya untuk menghadirkan kembali gadis itu dalam hidupnya dan membuatnya semakin sakit.
Sedikit perasaan lega saat melihat koper gadis itu masih berada di dalam apartemennya, namun kini dia sadar, untuk ukuran putri dari pengusaha sekaya keluarga Adiwarman dan Handoko, koper kecil seperti itu tidaklah bernilai apa-apa.
Dengan hati yang masih terasa perih, Kevin kembali melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya. Biarlah, semuanya berakhir disini. Pernikahan yang dulu mereka impikan, semuanya akan terkubur rapat di apartemen ini.
Ceklek...
Kevin terdiam saat di depan pintu yang sudah terbuka lebar. Dia terkejut saat mendapati gadis yang sedang di carinya, kini sedang berdiri di dalam kamar tepat hadapannya. Debaran jantung yang menggila bersama perasaan lega melingkupi hatinya. Tidak hanya dia yang berharap dalam hubungan inu, namun juga gadis di hadapannya ini masih memiliki harapan yang sama seperti dirinya.
Sejenak mereka saling berpandangan lekat, tatapan mereka mengunci. Buliran-buliran air yang masih tersisa di rambut Kevin, kini menetes membasahi bahu bidangnya.
"Aku lapar." Ucap Flora sambil memutuskan tatapan mereka. Kevin masih terdiam sambil menatap lekat ke arah Flora yang kini sudah melihat sisi lain ruangan dan membuat gadia itu semakin salah tingkah.
Kevin tersenyum lega saat Flora memutuskan tatapan mereka. Sungguh dia ingin sekali memangkas jarak lalu merengkuh erat tubuh mungil di hadapannya ini, namun jarak mereka yang sudah tercipta selama ini menghalangi leberanian di dalam dirinya.
"Jangan hanya menatapku, pergi pakai bajumu aku kelaparan." Ujar Flora lagi dengan judesnya, namun rona merah di pipinya begitu jelas terlihat karena melihat tubuh bagian atas Kevin yang tidak tertutup oleh apapun.
"Kalau lapar kenapa masih berada di kamar ini ?" Tanya Kevin masih terus menatap Flora.
"Kamu yang memintaku sialan." Kini dia sudah kembali menatap kearah Kevin dengan kesal.
Tanpa mengatakan apapun, Kevin melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian yang ada di dalam kamar, melewati gadis yang masih berdiri di hadapannya dengan hati yang terasa lega. Saat membelakangi Flora, senyum hangat yang sudah lama tidak lagi terlihat, kini terpatri jelas di bibirnya.
Apakah malam ini mereka akan memulai kisah yang baru ataukah melanjutkan kisah yang lama. Entahlah, yang jelas malam ini sebuah perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan, kini kembali hinggap di relung hatinya.
Yah selama ini tidak ada gadis yang mampu membuatnya seperti ini selain Flora. Gadis cadel yang selalu dia ikuti kemanapun, gadis mungil yang begitu terobsesi dengan profesi oramg tuanya selalu mampu membuatnya seperti ini.
***
Kaus hitam juga celana selutut favoritnya sudah melekat di tubuh atletisnya. Bibirnya kembali tersenyum saat menatap tubuh mungil yang masih membelakanginya. dengan mengumpulkan keberaniannya, Kevin melangkah mendekati gadis itu lalu meraih tangan mungil masuk ke dalam genggamannya.
__ADS_1
Flora terkejut saat tangannya di genggam erat oleh Kevin lalu menariknya keluar dari dalam kamar apartemen.
Selama hampir dua bulan ini, ini pertama kalinya Kevin menyentuh bagian tubuhnya dengan keinginan laki-laki itu sendiri.
***
Lift mulai turun melewati setiap lantai apartemen, Flora sesekali menatap ke arah tangannya yang masih di gengam erat oleh laki-laki yang berdiri bak patung du sampingnya. Sejak di kamar tadi, laki-laki ini masih menutup mulutnya rapat.
ting....
Bunyi lift terdengar, Flora kembali mengalihkan tatapannya dari tangan yang masih menggenggamnya. Flora keluar dari dalam lift meengikuti langkah Kevin yang menarik tangannya keluar.
"Mau kemana penjahat kelamin?" Tanya seorang gadis yang kini berhenti di hadapan mereka sambil merentangkan tangannya. Flora masih terdiam di belakang Kevin, hatinya kembali meringis ketika mendengar suara seorang gadis menyapa laki-laki yang kini menggenggamnya dengan begitu erat.
Ah beberapa saat lalu dia melupakan fakta jika laki-laki yang kini menggenggam erat tangannya, memiliki banyak wanita dalam hidupnya.
Kevin hanya diam seperti biasa, tanpa mau menanggapi sapaan dari sahabat gilanya ini.
"Flora kan ? Tanya gadis itu saat mengintip gadis yang kini bersembunyi di belakang punggung sahabatnya.
"Gina..." Ucap Flora sambil tersenyum ke arah gadis yang selalu menceritakan tentang Kevin saat mereka tidak sengaja bertemu.
"Hai..." Ucap Gina sambil melambaikan tangannya ke arah Flora.
"Apa sih hai,, hai. Minggir sana, kau menghalangi jalanku." Ucap Kevin lalu mendorong tubuh pendek di hadapannya. Tangan Flora kembali di tariknya menuju mobil yang ada di parkiran.
"Flora nanti datang ke apartemenku yaa.." Teriak Gina lagi smabil melembaikan tangannya pada Flora.
"Iy...
"Ngga akan." Sela Kevin cepat.
"Apa sih kamu tarik-tarik ngga jelas kaya gini." Ucap Flora kesal sambil menarik tanganya agar terlepas dari genggaman Kevin. Laki-laki ini sejak tadi hanya terus menariknya seperti kerbau.
yah dan dia pun memang sudah berubah menjadi kerbau yang di cucuk hidungnya di hadapan laki-laki sialan ini.
Kevin ikut berhenti lalu membalik tubuhnya menatap lekat ke arah Flor.
__ADS_1
"Apa.." Ucap Flora ketus sambil melipat tangannya di atas dada.
kkkrrrrruuukkk
Bunyi alarm kelaparan dari perut Flora terdengar jelas di telinga Kevin.
"Laparkan ?" Tanya Kevin singkat masih dengan wajah datar, namun percayalah dia sedang berusaha keras menahan tawanya agar tidak pecah di hadapan gadisnya ini.
Ah gadisnya, yah gadis kecilnya dulu.
"Sialan." Maki Flora malu karena cacing yang di dalam perutnya tidak pengertian dengan keadaannya. Dengan wajah menahan malu, Flora kembali melangkahkan kakinya melewati Kevin yang kini tersenyum lucu di belakangnya.
***
"Boleh ngga langkah kaki kamu itu di panjangin dikit, kayak gadis aja." Ujar Flora sambil bersandar di mobil Kevin.
Kevin tegelak, bisa tidak dia membungkam mulut cerewet itu dengan bibirnya.
"Brengsek." Makinya dalam hati, fikirannya kini sudah melayang. Flora pernah berkencan dengan laki-laki lain, dan memikirkan laki-laki sialan itu sudah menyentuh bibir Flora, membuatnya kesal.
"Masuk." Ketusnya.
Flora membuka pintu mobil, lalu kembali menutupnya dengan keras.
"Jangan di banting, ini mobil mahal gaji kamu di Rumah Sakit tidak akan mampu menggantinya." Ucap Kevin lalu mulai melajukan mobilnya keluar dari area partemen menuju rumah ibunya.
Buuughhh
Bunyi depan mobil yang terkena tendangan kaki Flora.
"Jika saja aku tidak sedang mengemudi, akan aku pastikan kakimu itu tidak akan bisa kamu gunakan lagi." Ucap Kevin sambil menahan tawa. Flora, gadis judesnya yang tidak mau mengalah masih sama. Keras kepala dan keahlian dalam membuat orang lain kesal masih melekat di jiwa gadis di sampingnya ini.
Bughhh...bughh...
Tendangan demi tendangan terus mendarat di dasbor mobilnya.
Kevin hanya menggelengkan kepalanya dengan sikap kekanakan yang masih saja melekat pada tubuh gadis yang kini sudah berusia 26 tahun ini.
__ADS_1