
***Happy Readig guys 😊 ***
"Baiklah, ayo kita menikah." Ujar Flora membuat Kevin menegang. "Jika saja waktu bisa kita undur ke tiga tahun lalu, aku akan mengatakan kalimat itu tanpa berfikir lagi. namun kini semuanya sudah berbeda, kita tidak lagi sama. Seharusnya aku sadar sejak dua bulan lalu, jika kisah kita sudah berakhir saat kamu lebih memilih membuat papi bangga dari pada ikut bersamaku tiga tahun lalu." Sambungnya.
Air mata Flora masih terus menetes dengan derasnya, hingga membasahi jas hitam yang sejak pagi tadi melekat di tubuh Kevin.
"Jangan lepas ku mohon." Lirih Kevin sembari mengeratkan dekapannya pada tubuh yang berusaha lepas dari pelukannya.
"Lepas Vin, jangan mempersulit keadaan, itu hanya akan membuat kita semakin terluka." Isakan semakin jelas terdengar di dalam ruangan itu.
Kevin tidak mengindahkan kalimat penolakan yang terus saja keluar dari bibir Flora.
"Kita hanya perlu memulainya lagi Flo, beri aku kesempatan untuk memperbaiki kisah kita yang sempat hancur tiga tahun lalu." Bujuk Kevin.
"Dan aku akan kembali terluka saat wanita itu datang lagi." Ucap Flora dengan suara yang meninggi.
"Aku tidak perduli padanya, sekalipun dia membawa darah dagingku." Ujar Kevin dengan suara yang ikut meninggi. Dia mulai kesal dengan sifat keras kepala Flora.
"Lepaskan aku brengsek." Umpat Flora saat Kevin semakin mengeratkan pelukan di tubuh kecilnya.
"Nggak." Bentak Kevin.
"Lepas Vin, aku ingin kita pisah." Kesal Flora sembari memukul tubuh Kevin dengan keras.
"Tapi aku tidak ingin, aku sudah melepaskan segala yang aku inginkan hanya agar bisa bersamamu, jadi tidak adil rasanya jika aku tidak mendapatkan imbalannya." Ucap Kevin dan mulai merenggangkan tangannya dari tubuh Flora. "Mau tidak mau, suka atau tidak, kita tetap akan menikah." Sambungnya lalu mulai melangkah menjauh dari ruangan itu.
__ADS_1
"Kamu tidak punya hak memaksaku." Teriak Flora frustasi.
Kevin menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya menatap gadia mungil yang masih bertahta di hatinya dengan tatapan mengintimidasi.
"Tapi papi kamu tidak punya pilihan lain, dan jika kamu tidak akan menurutinya maka akan aku pastikan kehancuran keluargamu dengan tanganku sendiri. Aku tidak ingin hancur dan terpuruk sendirian." Ucap kevin sinis. Kini dia sudah menatap tajam ke arah Flora membuat gadis itu terdiam. Tatapan hangat penuh cinta bebrapa waktu lalu tidak lagi nampak di manik itu. "Aku sudah lelah berdebat dan membujukmu, jadi sekarang kamu hanya perlu bersiap menurutinya." Sambungnya, lalu kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah mewah kediaman kelurga Handoko.
Biarkan saja, jika hanya dengan cara ini bisa kembali membawa Flora dalam hidupnya maka itu bukanlah masalah baginya. Tidak perduli dengan caranya bukan ? Toh cinta itu seutuhnya masih milik Flora.
Katakanlah dia terobsesi dengan gadis itu, namun pada kenyatannya dia memang tidak akan sanggup jika kembali berpisah dengan Flora.
Setelah pintu utama tertutup dengan dentuman keras, Flora terduduk di lantai. Kakinya terasa lemah bahkan tidak lagi mampu menopang tubuh kecilnya. Isakan menyayat hati dari bibir mungilnya terdengar begitu jelas di dalam ruangan mewah itu.
Bukan seperti ini yang dia mau, bukankah berpisah lebih baik dari pada harus bertahan dengan hubungan yang tidak lagi sehat.
Kisah mereka hanyalah tinggal kenangan, interupsi yang dulu sering Kevin ucapkan saat dia salah menyebutkan kata hanyalah kisah manis masa kecil mereka.
Flora masih sesegukan, tangannya terus memukul dadanya pelan. Berharap tangan kecil itu mampu mengurangi sesak yang terasa semakin menghimpit rongga dadanya. Tubuh kecil itu masih terduduk di lantai bersama cairan bening yang terus merembet keluar dari sudut matanya.
*****
Di bagian ruangan lain Bram tertunduk lesu. Sepasang suami istri itu terdiam, menyimak dengan seksama setiap kalimat yang keluar dari putri dan calon menantu mereka yang baru saja pergi dari kediaman mereka. Bram menarik nafas berat, kini dia menyadari telah merusak kebahagiaan putrinya sendiri.
Dia berharap saat Kevin menyetujui permintaanya dulu akan membawa kebahagiaan untuk putrinya, namun kini dia salah. Tidak hanya Flora yang menderita namun dia juga telah mematahkan cita-cita dan masa depan anak orang lain.
"Aku harus bagaimana sayang ?" Tanya Bram pada sang istri. Mata tuanya sudah berkaca-kaca. Sejak tadi dia mendengarkan pembicaraan putri dan calon menantunya itu dan kini dia sadar, bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas hal ini.
__ADS_1
"Semuanya akan baik-baik saja, tenanglah." Ucap Rosa sambil mengusap lengan suaminya. Sepasang suami istri itu duduk di atas ranjang mewah di dalam kamar mereka dengan pintu yang di biarkan terbuka lebar.
Suara isakan dari putri mereka masih terdengar jelas di indra pendengaran mereka, namun tidak ada yang berani keluar dan berusaha menenangkan gadis itu.
Beberapa menit sudah berlalu, dan kini Bram sudah memberanikan dirinya keluar dari kamar menuju ruang keluarga di mana putrinya berada. Isakan tidak lagi terdengar namun tubuh mungil dengan rambut yang terurai berantakan itu masih terduduk di atas lantai.
"Maafkan papi." Ucap Bram. Dia ikut berjongkok di lantai yang sama lalu membawa tubuh Flira ke dalam dekapan hangatnya.
"Aku mencintainya Pi." Adu Flora pada sang Papi. Kini isakan yang sudah berhenti tadi, kembali terdengar.
"Jika masih mencintainya, harusnya tidak lagi menolaknya." Ucap Bram pelan.
"Dia sudah punya wanita lain." Kesal Flora pada sang papi. Kini tubuhnya sudah keluar dari dekapan hangat laki-laki terbaik itu dan beranjak menuju sofa yang ada di dalam ruangan.
"Sama seperti kamu Flo, Fano juga laki-laki lain." Ucap Bram membuat Flora mendengus kesal.
"Tapi aku dan Fano hanya sebatas sahabat Papi." Bantahnya.
"Kamu dan Kevin pun awalnya sahabat, untuk itu Kevin marah saat melihat kamu bersahabat dengan laki-laki lain selain dirinya." Ujar Bram menjelaskan. Keegoisan setinggi langit yang di miliki putrinya ini memang menurun langsung dari mendiang Ayahnya dan sang adik Keyla, sehingga harus butuh kesabaran extra untuk bisa membujuknya.
"Tapi kasus aku dan dia berbeda Pi, wanita itu pergi membawa darah daging mereka. Bagaimana bisa aku tega menikah dengan Kevin semantara bayi itu berhak mendapatkan tanggung jawab dari laki-laki brengsek itu." Kesal Flora.
"Wanita itu yang memilih pergi, dan itu bukanlah salah kamu. Dia menjebak laki-laki yang tidak mencintainya dan Kevin tidak bersalah atas kepergiannya. Tidak ada salahnya untuk mencoba memulai kembali nak, terlebih lagi kalian masih saling menyayangi." Bujuk Bram pada putrinya.
"Apa Papi melakukan ini karena merasa beralah padanya ?" Tebak Flora dengan delikan kesal di mata yang sembab karena terlalu banyak menangis.
__ADS_1
"Salah satu alasannya itu, namun Papi lebih percaya Kevin di banding siapapun untuk menjagamu. Dia mencintaimu sejak dulu, dan Papi melihat itu hingga sekarang." Ucap Bram yakin. Yah tatapan Kevin saat melihat putrinya, mengingatkan dia pada Gerry dulu saat berusaha mendapatkan restu untuk menikahi adiknya. "Jika dia tidak mencintaimu sebesar itu, dia tidak akan melepaskan impiannya hanya agar bisa terlihat pantas di mata Papi. Fikirkanlah nak, tidak ada orang lain yang bisa mencintaimu sebesar Kevin." Sambungnya lalu beranjak dari sofa tempat dia dan putrinya duduk. Rosa yang berdiri di ambang pintu kamar mereka tersenyum sembari mengangkat dua jempol untuk suaminya.