Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Jakarta


__ADS_3

***Happy Reading 🤗 Jangan lupa tinggalkan jejak saat mampir 😚***


Siang terik yang membakar segalanya, termasuk amarah dari laki-laki yang terus saja mondar mandir bagaikan setrikaan di dalam ruangannya. Berbagai umpatan terus terdengar dari mulutnya, hingga sang asisten yang hendak membawakan makan siang hari ini kembali mengurungkan niatnya.


Entah sudah berapa puluh kali dia menempelkan benda pipi dengan harga puluhan juta itu ketelinganya, namun nomor yang sedang dia hubungi terus saja berada di luar jangkauan.


"Ada apa nak ?" Suara dari calon mami mertuanya kembali terdengar.


"Maaf mengganggu istirahat tante, nomor Flora masih belum bisa di hubungi tan, Kevin ngga tau kenapa."


"Dia belum keluar dari kamarnya nak, mungkin masih tidur." Ucapan calon mami mertuanya terdengar tidak meyakinkan di telinganya. Yah Kevin kembali menghubungi nomor calon mertuanya itu setelah satu jam yang lalu mereka sempat berbicara, dan alasan masih sama. Gadis yang membuatnya berkecamuk hari ini, masih tidur.


"Baiklah, nanti setelah dia bangun tolong hubungi Kevin tante."


Dengan perasaan tidak enak, Kevin kembali mengakhiri sambungan telepon dengan calon mami mertuanya.


Gadis yang mengganggu konsentrasinya hari ini masih tidur, dan itu sangat tidak masuk akal. Dia sangat mengenal Flora sejak kecil, gadis itu nyaris tidak pernah menggunakan waktu siangnya untuk tidur dan kini sudah beberapa jam terlewati dan gadis itu masih saja mengurung diri di dalam kamarnya.


Panggilang dengan pembicaraan singkat telah berakhir, namun perasaan Kevin semakin kalut. Dia yakin ada yang tidak baik-baik saja, namun Flora sedang menutup rapat mulutnya. Bahkan kini gadis itu tidak bisa di hubungi. Dia yakin gadis yang paling sulit di tebak apa maunya itu kembali berulah, dan kini membuatnya ingin segera terbang ke Jakarta dan bertemu langsung dengan gadis itu.


"Masuklah." Perintah Kevin melalui interkom pada sekertaris yang baru dua hari ini bekerja dengannya.


Laki-laki mudah itu masuk ke dalam ruangan Kevin sambil membawa satu kotak makan siang untuk atasannya yang tadi tidak sempat dia bawa masuk.


"Sesuaikan jadwalku besok, hari ini aku harus ke Jakarta." Ucap Kevin.


"Baik pak." Jawab Diman patuh.


"Keluarlah."

__ADS_1


****


Ruangan mewah itu kembali hening, Kevin menyandarkan punggungnya di sandaran sofa yang ada di dalam ruangannya.


Dulu dia berfikir jika hubungannya dengan Flora akan berjalan mulus tanpa hambatan, mengingat keluarga besar mereka begitu dekat sejak mereka masih kecil.


Juga persahabatannya dengan gadis itu begitu dekat. Tanpa perjodohan dari ke dua keluargapun mereka sudah memikirkan untuk hidup bersama nanti.


Cinta monyet, bagi Kevin itu nyata. Hanya ada Flora dalam hidupnya. Sekolah di SMA yang sama hingga kuliah kedokteran di Universitas yang sama pula.


Entahlah di mulai dari mana jarak yang membentang di antara mereka.


Apakah saat pertemuan keluarga untuk membahas lebih lanjut mengenai hubungan mereka. Yah malam itu, setelah wisuda dengan nilai yang memuaskan dua keluarga besar mengadakan pertemuan unuk membahas hubungan mereka. Seharusnya malam itu menjadi malam yang akan membuka awal baru untuk mereka berdua, namun semuanya tidak berjalan sebagaimana rencana mereka berdua sejak awal.


Melanjutkan profesi bedah lalu menikah, semua kandas di malam itu saat Papi dari gadis yang dia cintai menyuruhnya untuk berbelok arah.


" Om dengar Opa kamu ingin kamu mengelola anak perusahaan keluarga di Bali. Lakukan saja itu, biar kamu bisa mengimbangi Flora dan kalian akan semakin pantas terlihat bersama."


Hingga akhirnya gadis yang dia impikan sejak kecil semakin menjauh dan sulit untuk di raihnya.


"Dokter Fano dan Dokter Flora, mereka terlihat cocok saat menggunakan snelly itu."


Bisik-bisik perawat di rumah sakit pusat milik keluarga Adiwarman di Jakarta membuat Kevin terluka. Bagaimana bisa Flora dengan tidak berperasaan memilih laki-laki lain yang berprofesi sama, sedangkan dirinya harus merelakan cita-cita orang tuanya hanya agar terlihat pantas di mata orang tua gadis itu.


Bertahun-tahun mencoba untuk menjauh, melupakan namun tetap saja hanya ada satu cinta dan itu selalu tertujubuntuk Flora.


"Ku mohon Flo, jangan seperti ini." Lirih Kevin saat ponsel kembali menempel di telinganya, dan lagi-lagi hanya suara operator yang terdengar di sana.


Dia ingin memperbaiki segalanya, dan mereka sudah baik-baik saja semalam. Hanya dengan satu langkah lagi, mereka akan menikmati hidup bersama. Bukankah ini yang puncak dari impian mereka sejak dulu, menikah dan hidup bersama.

__ADS_1


Tanpa menyentuh kotak makanan yang ada di atas meja sofa, Kevin segera keluar dari ruangannya. Laki-laki mudah yang sedang mengatur kembali jadwal sang atasan, segera berdiri dan mengikuti langkah kaki Kevin menuju lift.


****


Hati dan fikirannya semakin kacau, ponsel dengan harga selangit itu terus saja di usapnya. Berharap akan ada notifikasi atau apapun itu dari gadis yang sejak tadi terus dia hubungi.


Ting...


"Antar aku ke Bandara." Perintah Kevin pada asistennya sembari menyerahkan kunci mobil. Diman mengangguk patuh.


Untung saja jalanan Bali tidak semacet Jakarta, jadi tidak membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai di tempat tujuan.


"Kembalilah ke kantor dan kabari aku seceptanya jika ada sesuatu." Perintah Kevin lalu segera keluar dari dalam mobil miliknya.


Diman bernafas lega setelah laki-laki yang kata orang-orang sangat menyeramkan itu keluar dari dalam mobil dan mulai melangkah menjauh.


****


Terik matahari Bali kini berganti senja di ibu kota Jakarta. Kevin masih menjelajahi jalanan kota kelahiran dengan pandangannya. Bangunan-bangunan pencakar langit sepanjang mata memandang dia telusuri dengan matanya.


Taxi yang membawanya terus melaju dengan perlahan di jalanan ibu kota, jalanan padat yang sudah dua tahun ini tidak dia gunakan karena Flora, kini kembali dia datangi karena gadis yang sama.


"Kita sudah sampai pak." Ucap sang sopir menyadarkan Kevin dari fikirannya sendiri.


Kevin menutup matanya, menarik nafasnya dalam. Dia memandang lekat bangunan mewah yang dulu sering dia datangi dari dalam mobil taxi yang mengantarnya.


Tidak ada yang baik-baik saja saat ini, namun dia tetap daja menguatkan hatinya untuk mengunjungi rumah yang selama tiga tahun tidak pernah lagi dia kunjungi, dan baru dua bulan lalu saat pertunangan mereka dia mendatangi rumah ini.


Kini keraguan mulai menyelusup di hatinya. Apakah yang dia lakukan saat ini sudah benar-benar yang seharusnya di lakukan ? Entahlah, dia hanya mengikuti kemana hati membawanya pergi.

__ADS_1


Kevin keluar dari dalam taxi setelah menyerahkan beberapa lembar uang pada sang sopir.


__ADS_2