
Tamu undangan mulai berdatangan. Karangan bunga dari beberapa rekan bisnis yang tidak bisa menyempatkan hadir karena pernikahan yang di majukan mendadak, sudah mulai berjejer di depan rumah utama keluarga sanjaya.
Bagas dan Rachel juga putri mereka sudah terlihat di kediaman keluarga Sanjaya sejak berapa menit yang lalu.Clara begitu antusias dan langsung menerebos menuju kamar pengantin di mana kaka sepupunya berada.
"Cantik banget." Ucap Clara saat memasuki kamar di mana Flora berada. "Aku jadi ngga sabar pengen jadi pengantin juga." Sambungnya dengan mata berbinar menatap Flora.
"Ini hasil karya Aunty loh." Ucap Keyla bangga.
"Benarkah ? Hebat banget. Ini sudah setara MUA profesional loh Aunty." Puji Clara.
Keyla tersenyum melihat keponakannya yang sudah terlihat begitu cantik. Gaun pengantin sederhana itu terlihat pas di tubuh mungilnya.
"Aunty ga usah pake Veilnya, pakai rangkaian bunga di kepala jauh lebih bagus. Seperti ini." Ucap Clara sambil menyodorkan ponselnya ke arah Keyla.
Keyla melihat gambar artis korea yang mengenakan gaun pengantin sederhana dengan potongan sepaha dan rangkaian bunga di atas kepalanya, dan memang benar seperti ini jauh lebih cocok.
Flora tersenyum melihat Keyla yang begitu antusias membantu Clara merangkai bunga.
Apa hanya dirinya yang merasa pernikahan ini aneh ?
Masalahnya dia belum melihat wajah Kevin sejak pagi, lalu bagaiaman bisa dia berakhir disini dengan gaun indah di tubuhnya ini.
"Sial." Makinya dalam hati. Lihat saja kalau mereka ketemu nanti akan dia habisi laki-laki gila itu.
Se enak jidatnya saja membuat rencana tanpa memberi tahu padanya.
"Aku akan membunuhmu, lihat saja nanti." Gumamnya lagi.
"Membunuh siapa ?" Tanya Clara.
Flora tersenyum canggung ke arah adik sepupunya, karena tertangkap basah sedang menyumpahi calon suaminya sendiri.
*****
Di ruang keluarga mulai terlihat ramai, beberapa kerabat juga tamu undangan mulai memasuki rumah utama menuju taman belakang yang sudah di siapkan untuk acara pemberkatan hari ini.
Bagas sedang berbincang dengan Gerry dan si kakek tua Sanjaya di ruang keluarga, sedangkan Anggun dan Rosa di bantu Rachel sedang menyambut tamu undangan yang mulai berdatangan. Tidak banyak yang sempat di undang, hanya kerabat terdekat dan beberapa dokter di Rumah Sakit milik Bagas.
****
Di dalam kamar tamu, Kevin terus saja mondar mandir. Dadanya berdetak tak menentu, bahkan telapak tangannya berkeringat karena begitu gugup.
"Tenang saja, Ayah yakin semua pasti akan berjalan dengan lancar." Hibur Robby pada putranya. Kevin berhenti bergerak mondar mandir, lalu memilih duduk di sisi ranjang di samping sang Ayah.
Kalimat sang Ayah sedikit bisa menengkannya, walau tidak sepenuhnya. Tangannya masih saja berkeringat, dan jantungnya terus saja berdetak tidak karuan.
__ADS_1
"Ayah yakin Flora akan menghajarmu usai pemberkatan kalian." kekeh Robby.
Kevin kembali herdiri dari sisi ranjang, ketakutan mulai menyeruak.
Bukan takut jika nanti Flora akan menghajarnya, namun dia takut gadis bar-bar itu akan mengacaukan acara pemberkatan mereka.
"Ayah bagaimana ini ?" Tanya Kevin khawatir.
"Apaan ?"
"Flora pasti tidak akan mau menikah." Ucap Kevin khawatir.
Robby tertawa keras mendengar keluhan putranya. Ah hari ini dia begitu bahagia. Putra semata wayangnya sebentar lqgi akan menikah dengan gadis sebaik Flora.
Mendengar tawa bahagia dari sang Ayah, Kevin mendengus kesal. Sungguh para orang tua yang ada di rumah ini sama sekali tidak bisa di andalkan.
"Sudah siap ?" Tanya Gerry sambil membuka pintu kamar tamu.
Kevin mengangguk.
"Ayo, semua orang sudah menunggu." Ajak Gerry pada keponakannya.
"Bagaimana dengan Flora ?" Tanya Kevin khawatir.
Hembusan nafas lega terdengar jelas dari mulut Kevin.
Robby beranjak dari ranjang lalu menuntun putranya keluar dari dalam kamar menuju taman belakang.
"Siapa yang mengundangnya ?" Gumamnya kesal saat melihat laki-laki sipit berkaca mata itu juga berada di sana. " Sial" Makinya dalam hati. Sungguh dia tidak akan bisa membayankan jika Flora akan membatalkan pernikahan mereka hari ini, terlebih lagi laki-laki yang dulu sempat dekat dengan calon istrinya itu juga ikut hadir di sini.
Kevin berusaha sekuat tenaga untuk menetralkan emosinya, saat melihat Fano sedang duduk di salah satu kursi yang tersedia di sana.
"Jangan melamun terus, ayo sana." Bisik Anggun pada putranya yang terlihat bergeming di dekat altar.
Kevin mengangguk mengikuti perintah sang Ibu lalu naik ke atas Altar. Seorang pemuka agama pun sudah bersedia berdiri di sana.
******
"Cantik kak, ah aku jadi iri." Ucap Clara dengan binar di matanya.
Flora melihat tampilan tubuhnya di depan kaca, dan benar meskipun dengan gaun pengantin yang sederhana ini, tetap saja terlihat indah.
"Aku suka." Ucap nya pelan. " Terimakasih." Sambungnya sambil menatap asik sepupunya.
Clara menghambur memeluk tubuh kaka sepupunya yang lebih kecil darinya itu. Mengucapkan selamat berbahagia untuk Flora dengan tulus.
__ADS_1
"Bantuin Aunty sayang." Ucap Keyla lalu membelakangi Clara. Gadis yang tadinya memeluk tubuh mungil Flora kini sudah beralih untuk menarik resleting gaun Keyla.
"Cih tubuh Aunty bikin iri aja." Gumam Clara saat melihat penampilan Keyla yang masih saja terlihat awet mudah.
Keyla hanya terkekeh mendengar ucapan Clara, lalu kembali melihat dirinya di cermin.
"Iya Sa, kami sudah siap kok. Ini mau turun." Jawab Keyla di benda pipih miliknya.
"Ayo sayang." Ajaknya pada dua keponakan cantiknya agar segera keluar sari dalam kamar.
"Kok aku jadi grogi ya." Ucap Clara.
Flora tertawa, ini siapa yang nikah dan siapa yang grogi.
Dia tidak grogi, kekesalan masih mengambil alih dirinya. Lihat saja, setelah pemberkatan selesai dia tidak akan mengampuni laki-laki gila itu.
"Ngamuk boleh, tapi nanti jika pemberkatan sudah selesai ya." Bisik Keyla sambil terkekeh.
Flora mendengus mendengar kalimat jail dari Aunty kesayangannya itu.
Di dekat pintu masuk menuju taman tempat berlangsungnya acara, Bram sudah menunggu putrinya. Ekspresi kesal di wajah Flora tadi kini berubah sendu saat melihat sang papi sudah menantinya dan kini mengulurkan tamgan ke arahnya.
"Papi berbohong." Ucapnya pelan.
"Maafkan Papi hm, Kevin memohon untuk memberikan kejutan ini. Bahagialah, dia sangat mencintaimu." Jawab Bram yakin, lalu membawa putrinya untuk melangkah perlahan menuju ke hidupan barunya.
Flora tercengang, taman yang dulu selalu dia dan Kevin gunakan untuk menghabiskan waktu bersama saat mereka kecil hingga remaja, kini di sulap menjadi sangat indah. Bunga-bunga berwarna putih berpadu pingk mudah sudah bertebaran di pohon-pohon lecil yang ada di taman itu.
Salah satu lagu jadul milik George Benson yang kembali di populerkan oleh Westlife kini menjadi pengiring langkah kakinya menuju laki-laki yang terus saja menatapnya dengan gelisah.
Bibirnya tertarik kala melihat wajah pucat Kevin di ujung sana. Terlihat jelas, jika laki-laki yang masih bertahta di hatinya itu sedang grogi. Dan lucunya dia sama sekali tidak merasakan grogi atau apapun itu. Sungguh dia masih sangat kesal, ingin sekali memukul kepala Kevin dengan hels yang melekat di kakinya ini, namun tidak untuk sekarang. Bukankah setelah pemberkatan nanti mereka akan punya banyak waktu bersama, dan yah dia bisa melakukan sepuas hati nanti.
"Jaga Flora." Ucap Bram tegas saat Kevin mengulurkan tangannya ke arah putrinya.
Flora menatap sejenak tangan yang sedang terulur ke arahnya, lalu meraih tangan itu kemudian naik ke atas altar.
"Belum apa-apa sudah keringatan." Bisik Flora sambil terkekeh senang.
"Ku mohon jangan mengacaukan hari ini." Lirih Kevin sambil melangkah perlahan menuju pemuka agama yang akan memberkati pernikahan mereka hari ini.
"Terimakasih untuk kejutannya, dan aku akan memberikan kejutan juga untukmu usai pemberkatan." Ucap Flora santai.
Kevin menggenggam jemarinya erat, dan dia tahu jika laki-laki ini sedang memohon padanya.
Sungguh dia begitu terharu pada apa yang Kevin siapakan untuknya hari ini, walaupun kesal karena laki-laki di sampingnya ini telah mengerjainya, namun tetap saja rasa yang membuncah di dalam dada tidak bisa di pungkiri, karena Kevin tetap memilih bersamanya.
__ADS_1