Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Tragedi


__ADS_3

Bugh...


Sanjaya tidak lagi segan melayangkan pukulan di wajah Roby. Selama menjadi menantunya, meskipun dulu tidak terlalu respek dengan laki-laki yang berprofesi sebagai dokter ini, dia belum pernah melayangkan tangannya. Namun kini rasa kesal yang sejak tadi belum terpuaskan walaupun sudah membuat wajah cucunya babak belur, kembali ingin di puaskan.


"Hentikan Papa, kita semua bersedih. Roby pun merasakan hal yang sama. Jangan menambah masalah yang sudah sangat pelik ini. Aku mohon." Lirih Anggun lalu membantu suaminya berdiri dari atas lantai.


"Kenapa kalian melakukan hal ini Kak, gadis itu sedang mengandung darah daging Kevin dan kalian begitu teganya menyuruhnya pergi dengan secarik cek di tangannya." Ucap Gerry.


"Berhenti menghakimi Gerry, kmu pikir apa yang kamu lakukan pada Keyla dulu itu sudah benar ? Semua orang punya masalah, dan ini cara yang menurut Roby terbaik untuk putra kami." Ujar Anggun kesal.


Sumpah demi apapun, dia tidak ingin jika keluarganya ikut menyalahkan Roby tentang masalah ini. Sudah cukup dia menceramahi suaminya sepanjang perjalanan dari Bali ke Jakarta, dia tidak ingin ada lagi orang lain yang ikut memarahi laki-laki yang memang sedang menumpuk rasa bersalah di dalam dada.


"Aku tidak tahu Keyla sedang hamil saat itu, tapi kalian tahu Diandra sedang hamil dan kalian menyuruhnya pergi." Gerry semakin tersulut saat Anggun kembali mengungkit luka lama dari kisah yang ingin dia lupakan.


"Sama saja Gerry,..


"Cukup !." Bentak Sanjaya pada kedua anaknya.


"Maafkan aku Pa." Lirih Roby. "Aku berniat untuk menyelamatkan gadis itu, gadis yang sedang membawa darahku, dan tidak pernah berfikir dari resiko yang justru membahayakan gadis lain yang juga sedang membawa darah ku di alam tubuhnya." Sambung Roby. Laki-laki itu masih terduduk di atas lantai dengan penyesalan yang semakin menyesakkan rongga dadanya.


Kevin tercekat, nafasnya berat saat melihat laki-laki yang sellau tegas padanya kini terlihat sangat rapuh di atas lantai karena perbuatannya.


"Ayah, maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku." Ucap Kevin dengan air mata yang terlihat berkaca-kaca.


Yah semua ini salahnya, Ayahnya hanya ingin membantu menyelesaikan masalahnya. Semu yang terjadi hari ini, adalah akibat dari semua perbuatannya.


"Ayah sudah melakukan yang terbaik untukku." Ucapnya lagi. Kali ini air mata yang menggenang di pelupuk matanya mulai bercucuran, hingga nyaris membuatnya tersedak.


"Tidak nak, seharusnya Ayah lebih bijaksana dalam memutuskan sesuatu." Ucap Roby.


Kali ini dia tidak hanya merasa gagal mendidik putra semata wayangnya, namun juga ikut menjadi kakek yang tidak bisa melindungi kedua cucunya.


Anggun ikut terisak, apakah semu ini karma ? Iya semuanya karma. Kini dia menyadari, istilah tabur tuai memang benar adanya. Apa yang mereka tabur itu pula yang merek petik.


"Maafkan aku." Ucap Gerry lalu membawa tubuh wanita kedua terbaik setelah sang mama kedalam dekapannya.

__ADS_1


Di situasi seperti ini, seharusnya mereka saling mendukung untuk sama-sama mencari jalan keluar, namun dia hanya bisa menyalahkan dan membuat masalah semakin rumit.


"Flora Gerry, menantuku. aku takut terjadi apa-apa pada menantu dan cucuku." Lirih Anggun dalam dekapan adiknya.


"Dia pasti baik-baik saja, Flora gadis yang kuat. Kaka tahu itu kan." Hibur Gerry.


Anggun mengangguk meskipun hanya untuk membantu menenangkan kegusaran hatinya.


"Baiklah kami akan segera ke sana." Ucap Gerry cepat data mendapat informasi terbaru di ujung ponselnya.


Dengan langkah cepat, semua orang yang berada di dalam rumah Sanjaya keluar dari rumah mewah itu, lalu masuk mobil masing-masing untuk segera menuju alamat yang baru saja masuk ke dalam ponsel Gerry.


Patwal khusus membantu memperlancar mobil-mobil yang sedang melaju dengan kecepatan penuh. Sirene ambulans juga mobil-mobil kepolisian membuat jalanan yang di lewati oleh keluarga itu terasa begitu lenggang.


*****


Di sebuah apartemen tempat Flora berada, semakin menyesakkan. Flora tidak lagi bisa berpura-pura tidak sadarkan diri saat mendengar kalimat Fano yang ingin membawanya pergi.


"Sampai matipun aku tidak akan pernah mau hidup dengan laki-laki se brengsek kamu." Ujar Flora dingin. Sejak tadi dia menahan amarahnya, namun kini dia tidak lagi kuat.


Tubuhnya yang sejak tadi duduk di sisi ranjang segera beranjak menuju nakas di mana dia meletakkan beberapa buah dispo juga beberapa ampul obat bius, namun benda yang dia cari tidak lagi berada di tempat yang seharusnya.


Fano menggeram kesal lalu segera membalik tubuhnya. Tatapan membunuh dari manik miliknya tertuju pada Gina yang terlihat ketakutan.


"Kembalikan obat itu" Bentak Fano sambil menatap nyalang ke arah Gina.


"Ngga ! Sudah cukup Fano, jangan memberinya obat bius lagi. Itu sangat berbahaya dengan janin yang ada di kandungan Flora." Ucap Gina berusaha setenang mungkin meskipun dia ketakutan. Dia sangat mengenal laki-laki di hadapannya ini.


"Kembalikan kataku." Desis Fano sambil mencengkram erat lengan Gina.


"Keluar dari kamar ini Flo." Ucap Gina bergetar. "Cepat keluar dari sini." Teriak Gina.


Flora sedang berusaha bangun, namun tubuhnya masih terasa sangat lemah.


Melihat usaha Flora yang ingin beranjak dari ranjang nya, Fano segera menghempaskan tubuh Gina hingga membentur dinding.

__ADS_1


akhh...


Hantaman tubuhnya dengan dinding kamar, membuat rintihan kesakitan keluar dari mulut Gina.


"Lepaskan aku brengsek."


Fano terdengar meringis sakit saat tangan Flora menghantam bagian tubuhnya.


"Lepaskan aku" Isak Flora. Sungguh tubuhnya terasa begitu lelah, di tambah lagi efek obat bius yang masih sedikit terasa membuat tubuhnya lemas.


Fano sama sekali tidak mengindahkan tatapan penuh permohonan dari Flora. Tubuhnya terus saja melakukan apa yang ingin dia lakukan. Sobekan seprei berwarna putih mulai dia lilitkan di pergelangan tangan wanita yang masih dia cintai.


Brakkk...


Sebuah benda menghantam punggung Fano, buat laki-laki itu semakin geram.


Fano semakin geram, tatapanembunuh kini mengarah pada Gina yang semakin gemetar ketakutan.


Nafas Gina tercekat, tangan kekar Fano mencekik lehernya hingga tubuh bagian belakang yang masih terasa sakit akibat hantaman tadi semakin menghimpit dinding.


"Sadarlah Fano." Ucap Gina lirih sambil memukul-mukul lengan yang urat-uratnya mulai menyembul keluar.


"Aku memintamu datang bukan untuk mengganggu rencana ku, tapi untuk memastikan jika kandungan Flora baik-baik saja." Ucap Fano dingin. Tangannya masih mencengkram leher Gina hingga wajah gadis yang di jodohkan oleh sang Papa dengan dirinya itu mulai terlihat memerah. "Dasar gadis miskin tidak tahu malu, kamu pikir putri dari seorang buruh sepertimu, cocok bersanding dengan ku ha ! berkaca lah, ngga mati saja kamu dasar gadis sialan." Desis Fano, lalu melepaskan tubuh Gina yang tidak lagi sadarkan diri.


Flora yang hendak melangkah keluar dari kamar, gegas kembali di tarik nya dengan kasar, hingga terhempas membentur lantai kamar.


Aaahhh...


Aduh Flora, tubuhnya terduduk kasar di lantai. Nyeri di perutnya terasa melilit sakit di sertai dengan lelehan darah segar menembus dress kuning selutut yang membalut tubuhnya.


Kedua pergelangan tangannya yang masih terikat dengan potongan seprei, berada di atas perutnya yang terasa seperti diiris benda tajam.


"Gin bangun, selamatkan anakku. Fano ku mohon selamatkan anakku." Lirihnya memohon.


Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang, dia masih melihat tubuh Fano terhempas di lantai, lalu di ikuti beberapa orang yang tidak lagi dia ketahui siapa menerobos masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Ku mohon siapapun selamatkan janinku." Sambungnya dengan mata yang mulai tertutup perlahan tak sadarkan diri.


__ADS_2