Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Fania


__ADS_3

Mobil yang di kendarai Flora mulai melaju membelah jalanan Jakarta. Sesekali dia menoleh, melihat gadis kecil yang sibuk dengan boneka beruang yang dia beli dari pedagang kaki lima yang sedang berjualan di depan Rumah Sakit tadi.


HG Group, perusahaan milik keluarga yang kini sedang di kelola oleh Kevin, menjadi tujuannya saat ini. Gadis kecil yang masih sibuk dengan boneka di tangannya ini bukanlah tanggung jawabnya.


Dan yang paling bertanggung jawab atas semua nya adalah Kevin. Dan pagi ini dia memaksakan diri untuk datang ke perusahaa untuk mengantar Fania langsung, meskipun dia masih enggan untuk bertemu laki-laki itu.


"Ami..


Suara gadis kecil itu membuat Flora menoleh. Mulutnya masih diam, tidak berniat menyahut suara gadis kecil yang kini menatapnya dengan mata polos menggemaskan.


Ah jika saja gadis ini tidak mengingatkannya pada derita yang menimpa hidupnya, mungkin dia akan merawat nya dengan baik.


"Lapal." Ucap suara gadis kecil itu.


Sedikit senyum terlihat di bibir Flora, suara cadel yang baru saja dia dengar mengingatkan, bagaimana dirinya dulu. Sura cadel yang membuat Kevin, selalu menginterupsi setiap kalimat yang keluar dari mulutnya.


Masih tanpa suara, Flora melihat-lihat bangunan-bangunan di pinggir jalan, lalu memakir kan mobilnya di depan sebuah restoran.


Baru saja ingin membuka pintu mobil yang ada di sampingnya, Flora kembali menatap gadis kecil yang kini sedang menatap ke arahnya. Tangan mungil itu dengan ragu terulur ke arahnya.


"Sial." Maki Flora dalam hati, lalu membawa gadis kecil yang begitu mirip dengan suaminya itu kedalam gendongannya.


"Mama kamu itu benar-benar miskin dan gila. Sepatu kecil saja dia tidak sanggup membelinya." Omel Flora, namun gadis kecil itu hanya terus menatap yang tidak pernah tersenyum ke arahnya dengan mata polos yang sesekali berkedip.


Flora melangkah menjauh dari mobil. Meskipun dia menggerutu kesal, namun tetap membawa Fania ke dalam restoran itu.


Seorang pelayan restoran datang untuk mencatat pesanan Flora dengan teliti, kemudian segera berlalu dari sana setelah menyelesaikan pekerjaannya.


"Ami, itu.." Tunjuk Fania pada balon-balon yang menghias di dekat kasir.


Masih tanpa bicara, Flora kembali beranjak dari tempat duduknya menuju kasir. Entahlah, meskipun hari ini dia begitu kesal sampai rasanya ingin mengamuk, namun hatinya tidak bisa mengabaikan permintaan gadis kecil yang sedang duduk di hadapannya ini.


Satu buah balon sudah berada di tangannya. Fania tersenyum sambil bertepuk tangan saat melihat Flora datang membawakan balon untuknya.


"Datang ke restoran X sekarang !" Pesan singkat tanpa bsa basi ia kirimkan menuju nomor ponsel yang masih i hafal di luar kepalanya.

__ADS_1


Yah begitu miris hidupnya yang mampu mengingat hal detail tentang laki-laki se brengsek itu.


drrttt.. drrttt


"Flo..


"Ngga usah basa basi, datang aja ke alamat yang aku kirimkan." Ketusnya


"Aku berada di Bandung. Jika itu penting, aku akan pulang sekarang." Terdengar suara yang penuh permohonan di ujung ponselnya, agar Flora tidak segera mengakhiri panggilan itu.


"Sialan, kamu benar-benar brengsek !" Umpat Flora geram lalu mengakhiri panggilan itu tanpa mendengar kalimat selanjutnya dari laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu.


Panggilan juga pesan beruntun kembali masuk dalam ponselnya, namun sama sekali tidak dia hiraukan.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan Flora. Flora melihat gadis kecil yang kini sedang menatap makanan yang di sajikan oleh pelayan restoran itu dengan mata penuh binar.


Satu piring nasi, juga semangkuk sup ia sodorkan ke arah balita yang mungkin baru berusia tiga tahun itu.


"Ami..


Nafas berat kembali ia tarik dalam-dalam, kemudian menghembuskanya perlahan. Biarlah, hanya menunggu laki-laki sialan itu kembali lalu dia tidak akan lagi berurusan dengan semua ini.


Sepiring nasi dan semangkuk sup yang ia sodorkan ke arah Fania, kembali di tariknya. Lalu menyuapi gadis kecil hasil perselingkuhan suaminya itu, dengan perlahan dan hati-hati.


"Ami kenyang." Ucap Fania lagi.


Setelah membantu Fania membersihkan mulut menggunakan tisu yang tersedia di sana, Flora kembali membawa tubuh gadis kecil itu ke dalam gendongannya menuju kasir, lalu segera keluar dari restoran menuju mobilnya.


****


Mobil mewah hadiah dari Papi saat ia menjadi salah satu mahasiswa lulusan terbaik, kembali melaju di jalanan ibu kota.


Fania kini sudah terlelap di kursi penumpang di sampingnya dengan memeluk boneka beruang berwarna cokelat. Sesekali ia masih memberanikan hatinya untuk menatap gadis kecil yang begitu tenang dalam tidurnya.


Suara klakson mobil yang saling bersautan di pemberhentian lampu merah, sama sekali tidak mengganggu tidur nyenyaknya.

__ADS_1


Kalimat jika saja kini mulai menari-nari di otaknya.


Jika saja gadis kecil ini putrinya, ah mungkin dia akan menjadi wanita paling bahagia di dunia.


Tanpa sadar Flora mengulurkan tangannya menyentuh anakan rambut yang menutupi wajah Fania. Wajah cantiknya kembali terlihat sendu, saat membayangkan bagaimana jahatnya Gia, wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri merenggut janin yang baru berusia beberapa Minggu, demi kehidupan gadis kecil ini.


Entahlah, dia masih terluka kala mengingat kejadian itu. Seandainya mereka meminta padanya dulu, pasti dia akan melakukan apapun untuk menjaga bayinya agar tetap baik-baik saja.


Waktu terus berlalu, kini mobil yang ia kendarai sudah terparkir rapi di depan ebuah mall yang menjadi tujuannya hari ini. Meskipun masih mengenakkan stelan operasi juga switer rajut andalannya, Flora membawa gadis kecil yang sudah kembali terjaga masuk ke dalam mall.


Tujuannya adalah perlengkapan anak. Wanita gila itu bahkan tidak meninggalkan sepotong pakaian untuk gadis kecil ini.


"Ami itu..


Tunjuk Fania dengan mata yang berbinar saat melewati toko mainan.


Flora masih belum bersuara, dia terus melangkah menuju toko pakaian dan sepatu anak, agar tidak perlu menggendong Fania terus menerus.


"Cantik Ami." Ujar gadis kecil itu lagi saat Flora memasangkan satu buah sepatu di kaki kecilnya.


"Kasih Ami..


Ucap Fania lagi, lalu mengecup pipi Flora yang kini sedang membantu mengancingkan dress di tubuhnya.


Flora terdiam, menatap lekat wajah yang begitu mirip dengan suaminya.


Mengapa dunia sekejam ini padanya ?


Mengapa bukan dia yang mengandung dan melahirkan gadis kecil ini ?


Satu tetes cairan bening lolos dari pelupuk matanya.


Flora kembali berdiri, lalu menggenggam tangan mungil Fania keluar dari toko itu setelah membayar beberapa stelan anak juga beberapa pasang sepatu.


"Tunggu Ami."

__ADS_1


Flora yang hendak keluar dari dalam toko menghentikan langkahnya, dan Fania segera berbalik menuju kursi tunggu untuk mengambil boneka beruang nya.


__ADS_2