Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Fano Prayoga & Gina Anindita


__ADS_3

Enggan rasanya untuk kembali menginjakkan kaki di tempat yang memiliki kenangan kurang menyenangkan. Flora Bramantyo, gadis yang sangat dia inginkan namun terpaksa harus kembali dia relakan karena memang tujuan gadis itu bukanlah dirinya.


Lambaian tangan Flora masih begitu nyata, saat gadis itu melepaskan dirinya pergi hampir satu tahun yang lalu. Di Bandara ini tempat dia terakhir kalinya melihat gadis yang sangat dia impikan, dan kini dia kembali menginjakkan kakinya di tempat ini untuk menjadi bagian dari orang-orang yang akan menyaksikan hari bahagia hadis itu.


Lupakan, tidak ! tidak pernah sedikit pun dia melupakan gadis itu. Flora masih begitu membekas dalam perjalanan tiga tahun hidupnya. Mengenang sesuatu yang berharga bukan lah masalahkan ? yah meskipun pada akhirnya tetap saja harus merelakan karena memang takdir yang selalu mengatur segalanya.


Celana berbahan jeans di padukan dengan kaus putih terbalut rapi di tubuhnya. Kaca mata minus yang selalu setia bertengger di hidung mancungnya pun semakin menambah kadar ketampanannya.


Fano terus melangkahkan kakinya menuju area parkir Bandara, gadis yang sudah menjadi tuangannya sejak SMA sedang menunggunya di sana.


"Aku di sini." Teriak gadis tomboi dari samping mobil saat melihat pria sipit terlihat sedang mengendarkan pandangannya di area parkir.


Mendengar suara yang tidak lagi asing, Fano kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil tunangan gilanya.


"Hai calon suami." Goda Gina sambil mengedipkan matanya.


Fano hanya melongos acuh lalu langsung masuk ke dalam mobil Gina.


Gina pun ikut masuk ke dalam mobil, seakan tidak perduli dengan sikap Fano padanya. Sejak dulu laki-laki ini selalu bersikap acuh dan tidak perduli seperti ini, jadi bukanlah masalah lagi baginya.


Sesuatu akan terasa biasa jika kita sudah terbiasa bukan ? Itulah yang di rasakan oleh seorang Gina Anindita. Perlakuan Fano padanya yang se enak jidat tidak lagi dia perdulikan, getir akan kembali dia bungkus dengan sikap jailnya kala rasa sesak mulai hinggap di dadanya seperti yang sudah-sudah.


Apa bisa gadis sepertinya menuntut keadilan sikap dari mereka, oh sadarlah dia hanyalah putri dari seorang buruh di perusahaan batu bara milik keluarga Prayoga, dan harus siap sedia kapan saja saat keluarga itu meminta sesuatu padanya.


Tentu saja untuk membalas budi pada keluarga terkaya di bagian timur Indonesia itu, karena sudah bersedia memberinya hidup layak selama belasan tahun. Bahkan gelar dokter yang kini melekat di depan namanya pun berkat bantuan keluarga itu.

__ADS_1


Tidak bisa protes untuk hal apapun, termasuk saat Fano memakaikan cincin pertunangan saat mereka SMA dulu, dan meminta untuk kembali melepaskan saat mereka masuk ke Universitas. Tentu saja semua itu tanpa se pengetahuan keluarga besar Prayoga, dan Gina memilih untuk tidak ambil pusing apalagi mengadu. Dia memilih untuk menuruti semua hal yang di inginkan laki-laki yang kini sibuk dengan benda pipih yang ada di tangannya.


Mobil sedan bekas yang dia beli dari uang pemberian Kevin sudah meninggalkan Bandara. Gina tidak lagi menggoda atau menjaili Fano dan memilih untuk menyalakan audio yang ada di dalam mobilnya.


"Berisik." Ucap Fano namun masih fokus dengan ponselnya.


Gina memutar matanya malas lalu mematikan audio yang baru saja terdengar di mobilnya.


"Mereka akan menikah sebentar lagi, dan kamu sesantai ini." Ucap Fano setelah memasukkan ponsel kedalam kantong celannya.


"Ke hotel mana ?" Tanya Gina mengalihkan. Sungguh dia tidak ingin mendengarkan pembahasan yang sudah dia tahu mengarah kemana ini.


"Ke Apartemen kamu." Jawab Fano singkat.


Fano menepis tamgan Gina yang menempel di dahinya.


"Ternyata kamu sangat payah, bertahun-tahun dekat dengan laki-laki itu, tetap saja kalah dari Flora." Ejek Fano.


Ginta tertawa sarkas mendengar ejekan Fano padanya.


"Kita berbeda Fano, aku mendekati Kevin tulus untuk menjadi sahabatnya. Dan jika saat itu Kevin memandangku lebih, maka aku anggap sebagai bonus. Setidaknya aku tetap saja menjadi orang penting dalam hidupnya." Ujar Gina "Dan kamu ? kamu tidak akan pernah menjadi bagian penting dari Flora, tapi aku akan selalu menjadi bagian terpenting dalam hidup Kevin walau hanya sebatas sahabat." Sambungnya sambil menyeringai saat melihat laki-laki di sampingnya mengepalkan tangan karena kesal dengan perkataanya.


Fano melirik tangan yang sedang menggenggam kemudi mobil, cincin yang dia sematkan beberapa tahun lalu tidak terlihat di sana.


"Kamu tidak lagi memakai cincin itu ?" Tanya Fano.

__ADS_1


"Kamu yang meminta aku melepasnya, jangan katakan bawha kamu lupa." Jawab Gina santai.


" Awas saja jika sampai hilang, itu cincin turun temurun keluargaku." Ancam Fano.


"Aku tahu, aku menyimpannya dengan rapi bukan karena berharap padamu, namun aku menghargai keluarga yang sudah memberikan hidup yang layak padaku." Jawab Gina santai.


Suasan kembali hening, tidak ada lagi yang bersuara. Hanya bunyi klakson yang bersahutan saat lampu merah di ujung sana sudah berganti warna yang terdengar, juga deru mesin mobil yang berjalan lambat begitu terdengar dengan jelas karena begitu heningnya suasan di dalam mobil.


"Kenapa gadis itu begitu bodoh ?" Gumam Fano namun bisa di dengar dengan jelas oleh Gina. Laki-laki itu menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Matanya tertutup, menikmati gemuruh di dalam dada. Beberapa bulan ini dia berharap Flora akan kembali padanya, apalagi saat mendapat informasi dari gadis di sampingnya ini tentang Kevin yang selalu ber gonta ganti pasangan.


"Cinta dan takdir jika sudah berjalan beriringan, sebesar apapun kekecewaan tidak akan mampu mengalahkannya." Jawab Gina. "Sama halnya kita, takdir sepertinya berpihak, namun tidak ada kekuatan cinta seperti milik mereka, makanya kita akan sukit untuk bersama." Sambungnya.


Fano tidak menyela, empat tahun menempuh pendidikan di Universitas yang sama dengan Kevin dan Flora, lalu tiga tahun ia hidup bersama Flora di Negeri Kanguru, tetap saja cinta Flora tidak bisa berbelok arah menuju dirinya. Gadis itu masih menyimpan nama Kevin di tempat teraman di lubuk hati nya.


"Jangan memaksa, terkadang kesakitan akan pergi saat kita benar-benar melepaskan." Ucap Gina lagi saat melihat Fano yang terdiam di sampingnya.


"Huh, seperti kamu benar saja." Ujar Fano ketus.


"Ini pengalaman pribadiku, dan aku berhasil, bahkan sekarang semuanya terasa biasa saja. Tidak ada lagi rasa yang menyakitkan atau apapun itu, semua yang datang terasa biasa saja. Aku memilih untuk tidak terlalu mengharapkan sesuatu yang memang sulit untuk aku raih, agar bisa mengurangi kadar kecewa yang akan aku rasakan nanti." Ucapnya.


"Tidak ada obat ampuh dari sebuah kesakitan selain melepaskan hal yang membuat kita tersakiti. Mawar sangat indah, namun jika tidak berhati-hati maka akan melukai. Begitu pun sebuah cinta, jika terlalu memaksa dan menggenggam erat maka bersiaplah untuk sebuah kesakitan." Ucap Gina lagi.


Jatuh cinta pada laki-laki yang bahkan tidak pernah memandang ramah padanya, oh tentu saja itu sangat menyakitkan dan Gina sudah merasakan itu. Namun saat dia belajar untuk melepaskan perlahan, memasrahkan segalanya, semua rasa sakit yang menggerogotinya perlahan hilang. Bahkan saat laki-laki itu mengeluarkan kalimat dan memandang remeh dirinya, semua sudah terasa biasa saja.


Fano memilih mengabaikan kalimat panjang lebar dari Gina dan memilih memandang ke luar jendela mobil. Wajah cantik Flora masih terus membayang beberapa bulan ini, dan saat membayangkan gadis itu resmi menjadi milik Kevin sebentar lagi, membuat dadanya semakin terasa sakit. Mungkin kalimat Gina memang benar adanya, selama ini dia tidak benar-benar melepaskan Flora.

__ADS_1


__ADS_2