Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Kembali


__ADS_3

Hidup akan terus berjalan, seberat apapun ujian yang menghampiri tetap saja harus berusaha untuk terus di lewati.


Hanya saja kebanyakan orang sering salah dalam mengambil langkah. Jangan menentang keadaan. Cobalah berdamai dengan keadaan, sekalipun itu terasa berat. Selanjutnya kita hanya perlu bertahan, dan terus melaluinya. Karena sejatinya semakin kita mencengkram rasa sakit, semakin sulit pula untuk terlepas.


Flora masih berdiri di depan jendela ruangannya dengan mata yang sembab, juga dada yang masih terasa sesak.


Ini semakin sulit setiap harinya, namun sekuat apapun ia mencoba melupakan, maka semakin banyak pula hal-hal yang selalu datang mengganggunya.


"Permisi Dok, ada pasien kecelakaan yang sedang dalam perjalanan." Ucap asistennya Lia, di depan pintu yang sedikit terbuka.


Flora menoleh, lalu mengangguk mengerti.


Snelly juga stetoskop di raihnya, lalu dengan langkah cepat dia mengikuti Lia menuju Ruang Gawat Darurat.


Bertepatan itu, beberapa buah ambulance berhenti di depan pintu UGD. Dokter lain yang juga bertugas hari ini, sudah bersiap di depan pintu ruangan yang sama.


Saat satu persatu korban mulai di keluarkan dari mobil ambulance, sedangkan semua Dokter yang bertugas di ruangan yang sama bersama Flora, mulai sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


"11.40, wafat " Ucap satu orang dokter yang tidak berhasil membawa kembali seorang wanita yang menjadi salah stau korban kecelakaan.


Flora menoleh, menatap nanar pada pasien wanita yang sudah bersimbah darah di atas bed pasien. Hingga seorang suster menutup jenazah itu dengan kain berwarna putih.


Tiga dari delapan orang yang menjadi korban kecelakaan hari ini telah di nyatakan meninggal dunia, sedangkan lima lainnya kritis.


Usai melakukan tugasnya, Flora keluar dari ruang gawat darurat menuju ruang kerjanya.


Ingin memberitahu hal ini pada seseorang, namun ego yang menguasainya, meminta untuk tidak melakukan itu. Toh ini bukan lagi urusannya, hubungan mereka tidak lagi layak di sebuah pasangan karena memang tiga tahun ini, semuanya telah berubah menjadi asing.


"Iya Aunty." Jawabnya pada ponsel yang bergetar.


"Aunty dan Fania ingin jalan-jalan, mau temani nggak ?" Tanya Keyla di ujung ponsel.

__ADS_1


Flora terdiam, rasa aneh itu muncul kembali. Flora menggeleng, berusaha mengenyahkan rasa rindu yang tidak seharusnya dia rasakan, mungkin karena ia terlalu mengharapkan seorang anak, hingga merasa seperti ini.


"Flo masih banyak pasien Aunty, lain kali ya." Tolaknya.


"Baiklah, nanti lain kali kabari Aunty yaa. Biar Aunty dan Fania jalan-jalan ke tempatmu." Ucap Keyla penuh pengertian. Dia tahu jika keponakannya ini sedang berusaha membuat jarak pada gadis kecil ini, dan Keyla memaklumi hal itu.


Flora melirik tas yang ada di atas meja, lalu gegas meraih barang branded itu, kemudian segera keluar dari dalam ruangannya.


Siang ini, jalanan begitu sangat macet, namun tetap saja waktu yang dia habiskan lebih dari satu jam di jalan, tidaklah terlalu lama terasa.


Pikiran yang terus berkelana, membuat Flora merasa waktu yang dia habiskan di tengah kemacetan jalanan Jakarta, begitu sangat singkat.


Dan kini, ia mematung ragu di sebuah bangunan pencakar langit milik orang tuanya.


Menatap ruangan yang ada di lantai paling atas bangunan ini, entah ini salah atau tidak. Yang jelas hari ini, hati yang selalu meragu terus memaksanya untuk datang ke tempat ini.


Di dalam ruangan mewah, Kevinasih menatap ponsel yang sejak tadi ada di dalam genggamannya. Apa yang ingin dia lakukan sejak tadi masih terus tertahan dan hanya bisa menatap benda pipih itu sedih.


Gadis yang dia nikahi lebih dari tiga tahun yang lalu, tersenyum lebar di sana. Meskipun hari itu, gadis yang selalu memiliki tempat istimewa di hatinya, sedang menahan kesal karena kejutannya. Namun tetap saja bibir yang menjadi candunya selama dua lebih dari dua bulan lamanya, melengkung indah.


"Permisi Pak." Ucap Diman mengalihkan pandangan Kevin dari foto pernikahannya dengan Flora.


Laki-laki yang sudah menemani Kevin beberapa tahun ini terpaksa masuk ke dalam ruangan tanpa izin, karena sejak beberapa menit yang lalu ia mengetuk pintu, sama sekali tidak ada sahutan dari dalam ruangan mewah itu.


"Ada yang ingin bertemu." Ucapnya lagi.


Belum sempat Kevin menjawab, seorang wanita yang sejak tadi membuatnya gundah kini berdiri di ambang pintu ruangan mewah miliknya.


Rasa rindu yang menggebu, kini bertambah perasaan khawatir. Sejak kejadian tragis beberapa tahun yang lalu Flora tidak lagi pernah mengunjunginya. Jangankan mengunjungi, menyapa saya mereka bertemu pun enggan untuk di lakukan oleh wanita yang kini menatapnya sendu.


"Pergilah Diman." Ujar Kevin mencoba setenang mungkin meskipun kini hatinya menjerit meminta untuk segera mendekap wanita yang kini masih terdiam di ambang pintu ruangannya.

__ADS_1


Nanti setelah sang asisten mempersilahkan masuk, barulah kaki yang terlihat ragu itu melangkah lebih dekat ke arah laki-laki yang ada di dalam ruangan itu.


"Aku ngga tahu harus berbuat apa ? Aku bingung harus melakukan apa ? Logika ingin terus mendesak ku menjauh namun hatiku terus saja meminta menuju kamu. In benar-benar sangat menyiksaku."


Kevin melangkah lebih dekat. Degup jantungnya menggila, hatinya terus menjerit namun mulutnya seakan bisu dan tak mampu mengutarakan apa yang ia rasakan saat ini.


Jarak semakin terpangkas, Kevin membawa tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Menghirup wangi rambut sebahu dari wanita yang masih tersimpan rapi di relung hati terdalamnya. Mendekap erat tubuh yang selam tiga tahun ini tidak pernah bisa tersentuh olehnya.


"Kita tetaplah dekat Flo, kita akan tetap menjadi teman yang akan selalu saling mendukung meskipun mungkin nanti kesempatan untuk meraih cintamu lagi akan sangat sulit bagiku. Tapi kamu harus tahu, tidak ada yang berubah di antara kita. Aku masih menyayangi teman kecil ku. Aku masih mencintai gadis yang bar-bar dulu. Sampai saat ini, masih seperti itu. Untuk kata maaf, aku tidak lagi ingin mengatakannya, karena sepertinya semua itu tidak lagi berguna, saat aku tidak bisa mencegah sesuatu yang datang menyakitimu karena kebodohanmu.." Ujarnya.


"Aku sakit, bahkan nyaris gila karena kehilangan calon bayi kita, namun aku ingin terlihat baik-baik saja karena semua ini salah ku." Sambung nya.


Flora tidak lagi terisak, dia hanya membenamkan wajahnya di dada bidang yang terbalut jas itu.


"Diandra telah meninggal beberapa saat yang lalu karena kecelakaan." Ucapnya.


Kevin tidak menjawab, dia hanya semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Flora.


Di tidak lagi ingin tahu tentang apapun tentang wanita yang baru saja di katakan oleh Flora, meskipun kabar yang ia terima hari ini cukup mengejutkan. Namun semua itu bukan lagi urusannya.


"Aku tidak ingin tahu lagi tentang dia. Namun kali ini aku akan kembali menyakitimu Flo, Ibu tidak mau merawat Fania, jadi aku harus merawat dan bertanggung jawab padanya. Terlebih lagi Diandra kini benar-benar sudah pergi. Maafkan aku, aku harus memilih gadis kecil itu, setidaknya dengan itu aku tidak akan lebih menyesal lagi karena menyia-nyiakan darah daging ku." Ujarnya.


"Kita rawat Fania bersama." Ucap Flora.


Kevin melepaskan pelukannya, lalu menatap lekat pada mata yang masih saja membuatnya berdebar.


"Mungkin Diandra benar, Tuhan membawa calon bayi kita pergi karena Fania lebih membutuhkan tempat itu." Ucap Flora lagi.


Sebuah lengkungan di bibir Kevin terlihat. Dan tidak lagi membuang waktu, Kevin segera meraih tubuh itu lalu kembali mendekapnya dengan sangat erat. Puncak kepala dengan wangi yang masih itu, di hujaminya dengan ciuman.


"I really love you Flo." Bisik nya.

__ADS_1


__ADS_2