
** Sudah dua hari ini othor ngga bisa up "ELIZIANE" karena sakit 😷😷. Mungkin teman-teman disini ada yang lagi membaca membaca kisah Ziane, maafkan othor ga bisa maksain diri buat up kedua-duanya dalam sehari. Minta do'anya dari teman-teman semua biar badan ini bisa kembali fit. Teriamakasih masih setia menunggu dan happy reading 😊**
*****
Kevin membuka pintu kamar Flora lalu menutupnya kembali.
Melihat putranya sudah berada di dalam kamar Flora, Anggun beranjak dari ranjang tempat Flora berbaring, lalu mendekat ke arah putranya.
"Bagaimana dengan gadis itu ?" Tanya Anggun.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan bu." Jawab Kevin sambil menatap sang ibu. Dia yakin semuanya akan baik-baik saja, ini hanyalah cobaan di awal dari memperbaiki sebuah hubungan.
mendengar ada suara yang berbincang di dalam kamarnya, Flora segera mengeluarkan kepalanya dari balik selimut lalu menatap ke arah laki-laki yang sudah berdiri di pintu kamarnya yang kini juga menatap arahnya.
Calon ibu mertuanya yang sejak tadi menemaninya sudah keluar dari dalam kamar, tersisa laki-laki yang kini masih berdiri menatap lekat ke arahnya.
"Keluarlah aku ingin istirahat." Ucap Flora lalu kembali menutup kepalanya menggunakan selimut putih tebal itu. Mata yang sembab karena terlalu banyak menangis itu kembali dia sembunyikan. Namun terlambat Kevin sudah melihat mata yang nyaris membengkak itu.
Kevin sama sekali tidak mengindahkan perintah Flora, dia justru kembali melangkah menuju ranjang di mana gadis yang dia cintai namun selalu dia sakiti itu terbaring.
"Aku bilang keluar Kevin." Ucap Flora lagi dari balik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, saat merasakan ranjang kosong di sampingnya bergerak.
"Maafkan aku." Ucap Kevin pelan. Tubuhnya sudah terbaring di ranjang yang sama dengan Flora lalu meraih tubuh bagian belakang gadis itu ke dalam dekapannya.
"Lepaskan aku." Bentak Flora dengan suara serak menahan tangis. Dadanya bergemuruh, selama hampir dua bulan mereka kembali bertemu, baru kali ini dia mendengar kata maaf keluar dari bibir laki-laki yang masih begitu dia cintai ini.
"Maafkan aku Flo." Ucap Kevin lagi sembari mengeratkan pelukannya di tubuh mungil yang masih terbungkus selimut tebal itu.
"Ngga ! aku ngga akan pernah maafin kamu." Ucap Flora dengan air mata yang kembali bercucuran membasahi selimut. Bohong, Kevin sudah kenyakitinya dengan bermain banyak wanita-wanita bayaran, namun sampai hari ini dia tidak bisa benar-benar membenci Laki-laki yang kini sedang memeluk erat tubuhnya.
"Baiklah, jangan maafkan aku. Tapi jangan pergi dari hidupku." Ucap Kevin pelan. Tidak masalah jika Flora membencinya, yang terpenting gadis yang kini di rengkuhnya tidak akan pernah beranjak lagi dari hidupnya.
__ADS_1
"Aku tidak ingin hidup bersama laki-laki yang memiliki istri selain aku." Ucap Flora tegas. Dia tidak akan mau merasakan derita jika harus membagi laki-laki yang dia cintai untuk orang lain.
Biarlah tiga tahun yang sudah berlalu, namun saat dia sudah berniat kembali dia sama sekali tidak ingin berbagi.
"Aku tidak akan menikahi wanita manapun selain kamu." Ujar Kevin tegas.
"Lalu bagaimana dengannya ? Jangan egois Kevin, itu anak kamu." Ucap Flora sambil membuka selimut yang menutupi kepalanya dan membalik tubuhnya menghadap ke arah Kevin.
Kevin terdiam, dia hanya menatap wajah sembab dengan hidung memerah yang kini menatap ke arahnya.
"Kamu seperti badut, lucu dan menggemaskan namun tetap terlihat cantik." Ucap Kevin sambil menetap lekat wajah gadis cadelnya. Laki-laki itu mengabaikan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Flora.
"Dasar penjahat wanita, pintar sekali ya sekarang kamu ngerayu." Ucap Flora sambil melayangkan pukulannya di lengan Kevin yang masih berada di atas selimut yang membungkus tubuhnya.
"Tapi kamu suka kan ?" Ujar Kevin menggoda.
"Ngga mempan ya, aku sudah banyak tahu tentang kelakuan kamu ini." Ucap Flora lalu beranjak dari atas ranjang. Ini pertama kalinya mereka sedekat ini dan membuat jantungnya semakin berdetak dengan begitu cepat.
"Mau ketemu Dian, aku harus memastikan semua darinya langsung agar bisa mengambil keputusan yang tepat nanti." Jawab Flora lalu melangkah menuju pintu kamar.
"Maksudmu ?" Tanya Kevin dengan khawatir.
"Kita sudah sama-sama dewasa Vin, ada hal yang tidak harus kita paksakan." Ujar Flora. " Kemarikan kuncinya Kevin." Sambungnya saat pintu kamarnya tidak bisa dia buka.
"Ngga, aku ngga akan izinin kamu ninggalin aku lagi Flo. Ngga akan !" Ujar Kevin frustasi.
"Vin...
"Ngga Flora." Bentak Kevin membuat Flora berjengit kaget.
"Vin kita berdua sudah dewasa, inilah saatnya untuk menyadari jika yang selama ini membuat kita pisah hanya karena ego setinggi langit ini." Ucap Flora pelan sambil kembali melangkah mendekat ke arah Kevin yang bergeming tidak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Sejenak dia mengamati wajah laki-laki yang paling banyak mengisi fikirannya selama ini. Wajah blasteran itu membuatnya jatuh cinta berulang kali bahkan ketika luka itu terasa perih.
Flora memeluk tubuh tinggi itu dengan begitu erat. Wajahnya yang memang hanya sebatas dada Kevin, kini terbenam di dada bidang laki-laki itu. Menghirup bau maskulin yang menguar dari tubuh yang terbungkus kaus berwarna hitam itu.
"Aku mencintaimu Kevin, dari dulu hingga kini tidak ada yang berubah. Soal Fano, maafkan aku. Aku hanya ingin belajar hidup tanpa kamu, namun semuanya terasa sulit dan berakhir aku menyakiti laki-laki sebaik Fano." Ucap Flora masih memeluk erat tubuh tinggi Kevin.
"Jika masih mencintaiku, tetaplah disini. Tinggal di sisiku Flo, jangan pergi." Ujar Kevin yang kini ikut merengkuh tubuh gadis yang begitu dia cintai.
"Aku takut ini akan lebih menyakitkan dari perpisahan kita dulu. Kehadiran wanita lain saat hubungan kita mulai membaik, sungguh aku tidak akan mampu menjalaninya." Ucap Flora. Air matanya kembali menetes membasahi kaus hitam yang melekat di tubuh Kevin.
"Aku tidak akan lagi menghadirkan siapapun, untuk itu tetaplah disini. Bukanlah hal yang sulit bagiku untuk menyelesaikan ini." Kevin masih terus membujuk gadis yang masih sesegukan di dada bidangnya.
"Lalu anak kamu ? aku ngga mau ya punya anak tiri." Ucap Flora seketika membuat Kevin tertawa lepas. Wajah sembab penuh air mata itu begitu menggemaskan.
Cup..
Kecup Kevin di mata yang masih berkaca-kaca itu.
"Ngga akan ada anak orang lain di antara kita. Hanya ada anak aku dan kamu nanti yang akan kita besarkan bersama. Percaya padaku." Ucapnya yakin.
"Tapi sekertaris yang sering kamu tiduri itu sedang hamil Kevin." Ucap Flora mulai melepaskan diri karena kesal saat membayangkan tubuh yang kini merengkuhnya erat, sudah menjamah tubuh wanita lain.
"Aku selalu melakukannya dengan aman. Gina selalu memastikan tidak ada yang tertinggal setelah aku meniduri wanita-wanita di luar sana." Jawab Kevin tidak enak. Sebenarnya dia enggan untuk membicarakan hal ini pada Flora, namun jika tidak dia katakan sekarang, akan menjadi bomerang di pernikahan mereka nanti dan dia tidak ingin hal itu terjadi.
"Dasar, mati saja kamu brengsek." Ucap Flora kesal. Tangannya yang terjepit terus meronta memukuli tubuh bagian belakang calon suaminya ini.
hmmmppp...hmmppp
Umpatan yang ingin keluar dari mulut Flora terhenti saat Kevin membungkam mulutnya menggunakan bibir laki-laki itu.
"Kamu mau membunuhku ha." Teriakan Flora menggema di dalam kamar yang untung saja sudah terpasang peredam suara. "Beraninya kamu mencuri ciuman pertamaku, padahal ada wanita lain yang sedang menuntut tanggung jawabmu di depan sana." Sambungnya dengan nafas yang masih memburu, juga pipi yang memerah malu. Sungguh, ini pertama kalinya mereka berciuman dengan panas seperti ini.
__ADS_1
"Jangan berani mengumpat lagi." Ucap Kevin memberi peringatan. Senyum senang di bibirnya tidak bisa dia sembunyikan saat Flora mengatakan ini adalah ciuman pertama gadis itu. Kevin menarik tangan gadis itu keluar dari dalam kamar menuju ruangan di mana ibu dan Dian berada. Yah semuanya harus dia selelsaikan saat ini juga dan itu harus bersama Flora.