Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Lamaran


__ADS_3

"Ayo kita menikah." Ucap Kevin yakin.


Flora tersenyum miris, wajahnya masih terbenam di dada bidang Kevin yang masih saja terasa nyaman itu.


Flora menghembuskan nafasnya pelan, mengurangi sesak yang kian menghimpit dadanya. Bagaimana bisa laki-laki ini dengan santainya mengajak menikah sementara di luar sana ada bayi yang tidak berdosa sedang membutuhkan tanggung jawabnya.


Dengan tegas Flora menggeleng namun wajahnya masih menikmati detak jantung Kevin. Indra penciumannya masih menghirup wangi tubuh yang tidak pernah berubah sejak dulu.


Kevin kembali mengeratkan pelukanya saat mendapat penolakan tegas dari wanita yang kini berada di dalam dekapannya.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku, aku hanya ingin kamu,. Hanya kamu Flo." Lirih Kevin sembari mengeratkan pelukannya di tubuh mungil Flora.


Flora terdiam dengan air mata yang mulai membasahi pipi dan kemeja yang melekat di tubuh Kevin. Jangan di tanya lagi bagaimana dirinya. Dia menginginkan Kevin sejak dulu, begitu banyak daftar kenangan yang harus dia hapus perlahan jika laki-laki yang mendekap erat tubuhnya ini tidak lagi bisa memeluknya seperti ini.


"Aku takut akan semakin terluka nanti." Jawab Flora dengan suara serak menahan tangis.


Dua orang paruh baya yang sudah keluar dari dalam kamar mereka kembali membalik tubuh mereka menuju kamar. Putri dan calon menantu mereka membutuhkan waktu lebih untuk menyelesaikan masalah yang ada, dan Bram harus memberikan itu.


"Bantu aku untuk mempertanggung jawabkan kebodohanku dulu." Ucap Kevin pelan.


Flora segera melepaskan diri dari pelukan Kevin lalu menatap lekat pada laki-laki itu.


"Maksudmu ?" Tanya Flora tidak mengerti.


"Menikahlah denganku, lalu kita akan mencari jalan keluar dari masalah ini." Bujuk Kevin.


Flora kembali menggeleng tegas, bukan ini yang dia mau.

__ADS_1


"Selesaikan masalahmu terlebih dahulu lalu setelah itu kita menikah." Ucap Flora.


Kevin mendesah frustasi, bagaimana dia menyelesaikan masalah ini sedangkan Diandra sudah pergi entah kemana.


"Semuanya sudah selesai Flora, wanita itu sudah pergi dan tidak akan lagi pernah kita temui. Ayah bahkan sudah memberinya cek kosong, agar wanita itu bisa menulis berapapun uang yang dia inginkan dan bisa memulai hidup yang lebih baik kedepannya. Lagi pula ini memang kesalahannya karena sengaja menjebakku malam itu. Jika aku sadar telah menidurinya, kejadiannya tidak akan seperti ini Flora." Bujuk Kevin lagi.


Menjelaskan pada gadis di hadapannya ini memang membutuhkan kesabaran extra. Dia sudah mengenal Flora hampir seumur hidupnya, dan gadis ini pasti akan terus menolaknya jika dia tidak mampu bersabar seperti dulu.


"Lalu jika dia kembali nanti, apa yang akan terjadi dengan pernikahan kita ?" Tanya Flora. Kini dia sudah menunduk, menatap tangannya yang saling bertautan di atas pahanya.


"Jika wanita itu kembali mengusikku, aku janji akan mengikuti apapun yang kamu mau, kecuali perpisahan." Jawab Kevin yakin. "Aku bisa melakukan apapun Flo, kecuali satu hal itu. Aku tidak ingin berpisah lagi dengan mu." Sambungnya.


Flora kembali menggeleng, semuanya tersa begitu sulit untuk dia lalui. Termasuk memeilih perpisahan, namun dengan berpisah dia akan bisa memulai melupakan dan menikmati kesendiriannya.


"Tidak ada lagi yang tersisa di antara kita Kevin, rasa yang masih bertahta dengan angkuh di dalam hatiku, justru hanya akan membuatku semakin terluka. Wanita itu, aku bisa membunuhnya dengan ke dua tanganku karena sudah berani merebutmu, namun tidak dengan darah dagingmu. Aku tidak bisa menyakiti bayi yang tidak berdosa itu." Ujar Flora tegas. "Pulanglah, kita sudah selesai." Sambungnya lalu beranjak dari tempat dia duduk.


Flora tidak lagi menghiraukan permohonan yang terus keluar dari mulut laki-laki yang masih sangat dia cintai itu.


Langkah kakinya semakin menjauh dari ruangan tempat Kevin berada, bersama dengan air mata yang semakin membanjiri wajahnya.


Dia bahkan menginginkan laki-laki itu lebih dari apapun. Bohong jika dia tidak terluka saat mendapati Kevin beberapa kali bercumbu dengan wanita berbeda, namun fakta bahwa Kevin memiliki anak dari wanita lain membuat luka yang sejak tiga tahun ini dia lupakan semakin menganga, terlebih lagi yang Kevin sia-siakan itu adalah hal yang tidak akan pernah bisa dia berikan pada laki-laki itu.


"Flora aku mohon." Ucap Kevin sudah berlari menyusul gadis yang semakin menjauh darinya. Tangannya meraih dan menggenggam tangan Flora dengan erat.


Flora semakin terisak, sejak tadi dia menahan gemuruh di dalam dadanya dan kini dia tidak bisa lagi menahannya.


"Lepaskan Kevin, Papi dan Mami akan keluar dari kamar mereka." Lirih Flora.

__ADS_1


"Ngga, aku tidak akan mau melepasmu." Ucap Kevin tegas. Dia kembali membawa tubuh Flora yang sudah sesegukan ke dalam dekapannya. "Ayo kita memulai semuanya dari awal Flo, tentang Diandra kita akan mengurusnya nanti. Aku yakin dia tidak akan pernah muncul lagi dalam hidup kita." Sambungnya.


"Kamu akan menyesalinya Kevin." Ucap Flora pelan.


"Hal yang paling aku sesali hingga kini adalah perpisahan kita tiga tahun lalu Flora. Dan aku tidak ingin semakin tersiksa dengan penyesalanku karena harus merelakanmu lagi hari ini." Ujar Kevin yakin. Yah kepergian Flora tanpa dirinya tiga tahun lalu, adalah hal yang paling dia sesalkan hingga kini.


"Kamu sudah tahu, aku tidak akan bisa memberimu sesuatu yang kamu sia-siakan hari ini." Ucap Flora. Kini dia sudah menatap lekat pada wajah yang juga menatapnya penuh permohanan.


"Aku tahu itu, dan aku tidak peduli selama itu adalah kamu." Jawab Kevin.


Flora menatap Kevin dengan begitu lekat, berharap dia menemukan sedikit keraguan dari manik laki-laki itu namun nihil. Tidak ada apapun disana, mata yang tidak lagi ingin menatapnya dua bulan belakangan kini kembali melihatnya dengan penuh cinta.


Flora tersenyum miris, bagaimana bisa dia begitu tega pada laki-laki yang sangat dia cintai ini.


"Kita semua tahu Vin, aku tidak akan pernah bisa memberimu..."


"Aku tidak peduli soal itu Flora, tidak masalah jika hanya ada kita berdua dalam duniaku. Sejak dulu memang hanya ada kita, tidak ada Diandra atau Fano. Ku mohon, lakukan itu bersamaku sekali lagi. Memulai hidup hanya ada kita berdua di dalamnya, sungguh jauh lebih berarti dari apapun Flora." Bujuk Kevin lagi. Dia tahu kemana arah pembicaraan mereka, Congenital Uterine Anomalies yang di derita Flora sudah sejak dulu mereka ketahui, bahkan seluruh keluarga sudah mengetahui hal itu.


Memiliki Flora dalam hidupnya, tidak ada hal yang sangat dia inginkan selain itu. Melepaskan jas dokter impiannya untuk berkecimpun di dunia bisnis yang tidak dia inginkan, semuanya demi gadis yang berada di hadapannya ini.


"Aku hanya ingin kamu Flora, aku rela melepaskan apapun ke inginanku asalkan itu bisa memilikimu aku rela. Maafkan aku soal wanita-wanita malam itu. Aku salah melampiaskan kekecewaanku pada hal-hal seperti itu, maafkan aku." Ucap Kevin lagi.


"Termasuk melepaskan impian kedokteran kita ?" Tanya Flora.


"Aku melepaskannya demi kamu, kamu jauh lebih berarti dari pada cita-citaku itu." Jawab Kevin.


"Baiklah, ayo kita menikah. Dan aku harap kamu tidak akan pernah menyesalinya nanti." Ucap Flora seketika membuat Kevin menegang.

__ADS_1


__ADS_2