Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Semoga


__ADS_3

Hampir dua bulan terlewati, namun cinta dan aktivitas ranjang yang menggebu semakin mengeratkan rumah tangga mereka. Flora akan menanggalkan segala rasa malunya di atas ranjang agar bisa memuaskan suaminnya.


Namun Kevin juga selalu menyentuh dengan pengahragaan terhadap harga dirinya. Sentuhan penuh cinta yang selalu Kevin lakukan membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.


Seperti halnya pagi ini, seakan sudah menjadi kebiasaan dari keduanya untuk menyambut pagi dengan ******* yang memenuhi kamar mewah mereka. Aktivitas menguras energi namun menyenangkan itu sudah menjadi bagian penting saat pagi menyapa mereka.


S*x di pagi hari seakan sudah menjadi hal wajib di lakukan untuk memulai hari dengan setumpuk pekerjaan yang menanti. Kebanyakan orang akan melakukan bagian penting suami istri ini di malam hari, namun berbeda dengan ke duanya. Kesibukan Kevin di perusahaan yang baru, membuatnya tidak memliki waktu luang untuk menghabiskan malam panas dengan sang istri.


Saat dia kembali, Flora pasti sudah terlelap dan dia tidak akan tega mengganggu mimpi indah istrinya itu. Terlebih lagi tubuhnya yang juga kelelahan memaksanya harus segera beristirahat. Dan saat pagi menyapa, barulah keduanya menikmati pergulatan indah di atas ranjang yang sudah acak-acakan.


Selama hmapir dua bulan ini tidak ada lagi sms yang merisaukan hati masuk ke dalam ponselnya, dan itu membuat Flora lega. Kiriman makan siang yang dulu membuat dia penasaran kini tidak lagi dia dapati.


Berbeda dengan Kevin, laki-laki itu masih saja waspada dalam hal apapun tanpa harus melibatkan Flora. Anggap saja dia lancang karena melanggar privasi istrinya sendiri. Namun demi keselamatan Flora dia harus melakukannya. Memasang aplikasi penyadap di ponsel Flora tanpa sepengetahuan istrinya, jadi dia bisa mengetahui siapa saja yang menghubungi wanita nya itu. Lega rasanya karena tidak pernah dia dapati, ada chat atau telepon iseng yang masuk ke dalam ponsel sang istri.


Sudah satu bulan ini Kevin resmi menjadi pimpinan HN Group, sedangkan SN Company sudah mulai di kelola oleh Gerry dan Keyla yang sudah memantapkan hati mereka untuk pulang dan menetap di Indonesia.


Gerry memilih menempati rumah yang dulu dia tempati berasama Keyla, sedangkan Kevin dan Flora memilih untuk tetap tinggal di rumah utama keluarga Sanjaya, menemani laki-laki tua itu agar tidak kesepian.


Pagi yang indah setelah pergulatan panjang di atas ranjang yang kemudian di lanjutkan di dalam kamar mandi mewah mereka. Flora duduk di depan meja rias sambil menyapukan bedak di wajah cantiknya. Tatapannya melihat pantulan wajah dari kaca yang ada di sana. Beberapa hari ini tubuhnya terasa tidak nyaman dan wajahnya terlihat sangat pucat.


Deg...


Dadanya berdegub kencang, sejenak dia menghentikan tangannya yang sejak tadi mengusapkan bedak di wajah pucatnya. Tatapannya menoleh pada kalender yang ada di atas nakas di samping tempat tidur. Sebagai seorang dokter, meskipun bukanlah spesialisnya, dia mulai menduga-duga.


Mungkinkah ? tapi bagaimana bisa ?


Gugup bercampur senang kini mulai menyeruak, pasalnya setelah pernikahan mereka dua bulan yang lalu, tamu bulanan yang kerap kali berkunjung belum juga menampakkkan diri.


"Vin..


"Hm.." Kevin yang sedang duduk di sisi ranjang, menunggu Flora selesai sambil mengusap layar ponselnya menghentikan jemarinya. Tatapannya tertuju pada wajah sang istri yang kini menatapnya penuh binar.

__ADS_1


"Ngga, ngga apa-apa ?" Jawab Flora cepat. Biarlah dia akan memastikan ini terlebih dahulu barulah dia akan memberitahu Kevin.


"Ada apa sayang ?" Tanya Kevin lagi. Laki-laki yang sudah rapi dengan stelan jas itu, kini beranjak dari sisi ranjang. Langkah kakinya menuju sang istri yang kembali menyapukan produk kecantikan di wajah cantiknya.


"Sebentar bisa pulang cepat ?" Tanya Flora.


"Kenapa ?" Tanya Kevin lagi.


"Ngga sih, cuma ingin kamu jemput aja."


"Nanti aku usahain, tapi kalau ngga bisa ngga apa-apa kan ?"


Flora mengangguk mengerti.


Papinya sudah memberikan berbagai petuah padanya. Kesibukan Kevin di perusahaan memang lagi padat-padatnya dan itu membutuhkan pengertian juga dukungan darinya sebagai seorang istri.


Sarapan pagi yang tidak akan sempat mereka lakukan bersama di rumah mewah ini, karena waktu yang seharusnya mereka gunakan untuk sarapan, akan mereka pakai di atas ranjang mewah dan kamar mandi mereka.


Kini keduanya mulai kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing. Saat pagi, Kevin akan mengantarkan Flora ke Rumah Sakit terlebih dahulu dan sore harinya akan di jemput oleh sopir yang sudah sejak lama bekerja di keluarga Sanjaya.


Jangan lupa makan siang, jangan lupa istirahat dan masih banyak lagi kalimat yang di awali kata jangan akan dia dengarkan Flora dengn seksama sambil manggut-manggut. Suaminya, dan semoga sebentar lagi akan menjadi ayah dari anaknya ini akan terus berceloteh dan harus memaksa tubuhnya yang sudah tidak sabar lagi bertemu dokter kandungan, harus tetap tertahan di dalam mobil.


Hingga akhirnya kecupan di seluruh wajahnya juga berakhir di bibir dengan sedikit ******* seperti biasanya mengakhiri ceramah di pagi hari dari laki-laki yang dia cintai.


Lambaian tangan di sertai senyum manis, mengiringi kepergian mobil Kevin yang mulai kembali berbaur dengan banyaknya mobil di jalanan.


Flora melanjutkan langkahnya masuk ke dalam bangunan Rumah sakit, kali ini dia akan segera menuju dokter kandungan. Senyum manis masih terpatri dengan indah di wajahnya.


Brak...


"Maaf." Sesal Flora saat tidak sengaja menabrak seseorang hingga terduduk di lantai rumah sakit.

__ADS_1


Gadis dengan topi juga hodie hitamnya mendongak, menatap wajah cantik dari tubuh yang beru saja menabrak tubuhnya hingga terjatuh di lantai.


"Karin kan ?" Tanya Flora.


Gadis cantik dengan kava mata hitam itu terdiam, mengingat-ngingat siapa gerangan yang kini mengenalnya.


Oh ayolah, dasar otak bodoh Karin. wajah dan namamu terpampang di papan iklan hampir di setiap sudut jalanan ibu kota, jadi siapa yang tidak mengenalmu.


"Ini aku, yang berada di pesawat yang sama dengan mu beberapa bulan yang lalu." Ucap Flora lagi.


Karin melepaskan kaca mata hitan besar yeng menutupi mata indahnya, lalu menatap wajah cantik yang kini ada di hadapannya.


"Maaf kak, memory aku payah jadi sangat sulit mengingat seseorang." Ucap Karin merasa bersalah. Yah karena memang itulah kenyataanya.


Flora mengangguk mengerti


"Mau ketemu Dokter Leon ?" Tanyanya. Beberapa bulan yang lalu dia mendengar jika gadis yang berprofesi sebagai artis ini kerap kali mengunjungi adik sepupunya dinrumah sakit ini.


Karin mengangguk lalu kembali memasng kaca mata besar utnuk menyamarkan identitasnya.


"Mbak ?"


Flora memicing, menatap kesal laki-laki mudah yang kini sudah berdiri di dekatnya dengan senyum jail menyebalkan.


"Sekali lagi kamu panggil aku Mbak, aku robek mulutmu." Kesal Flora namun kemudian dia mengusap perut ratanya, merasa bersalah karena sudah mengeluarkan kata-kata jahat dari mulutnya.


Leon hanya menyengir melihat tatapan horor dari kaka sepupu angkatnya ini.


"Ayo masuk ke ruangan aku Briana." Ajak Leon. "Ka Flo juga mau masuk ?" Tanya Leon.


"Emang boleh ? Ngga ganggu kencan kalian kan ?" Tanya Flora. Karena penasaran dan ingin sekali kepo dengan hubungan asmara adik sepupunya ini, Flora melupakan tujuannya pagi ini.

__ADS_1


"Tentu saja menganggu lah, sono banyak pasien darurat. Mbak sudah di tungguin tuh." Ejek Leon lalu segera menuntun Briana masuk ke dalam ruangannya sebelum medapatkan amukan dari Flora.


__ADS_2