Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Sesal


__ADS_3

"Bodoh." Bentak Sanjaya pada cucunya. Beberapa saat lalu dia mendapat kabar dari Anggun jika cucunya berangkat ke Jakarta siang ini, juga menceritakan detail masalah yang sedang terjadi.


Untung saja semuanya sudah selesai, namun masalahnya Flora tidak lagi ingin melanjutkan pernikahan.


"Berhenti mengomeliku." Kesal Kevin pada laki-laki tua yang kini sudah duduk di hadapannya.


Jika saja dia tidak lelah, dia pasti sudah kembali ke Bali saat keluar dari rumah Flora tadi, dan memilih untuk tidak terjebak bersama laki-laki tempramental ini.


Kevin bersandar di sofa mewah yang ada di rumah utama sambil menutup matanya. Kepalanya terasa sakit, penolakan Flora terus saja mendengung di telinganya.


Jika saja Aunti kesayangannya berada disini, mungkin dia bisa menceritakan semuanya dan mengurangi sesak yang semakin menghimpit dadanya. Namun wanita baik itu sudah menetap di Paris bersama Gerry dan Putra mereka.


Rumah utama keluarga Sanjaya terasa begitu sepi sejak kepergian Oma Nia. Tersisa lelaki tua yang selalu saja memasang wajah garangnya hidup bersama beberapa pelayan dan perawat pribadi yang tersisa di ruma mewah ini.


"Jika saja Ayah kamu tidak segera menyelesaikan masalah ini, sudah aku pastikan gadis tidak tahu diri itu membusuk di jalanan meskipun dia sedang membawa darahku." Sinis Sanjaya.


Kevin masih terus menutup matanya sambil bersandar di sofa tempat dia duduk. Berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan laki-laki tua yang masih duduk di depannya.


Dia kesal pada Diandra, namun juga ikut merasa prihatin saat mengetahui dari sang Ayah jika janin yang di kandung mantan sekertarisnya itu adalah darah dagingnya.


"Diamlah Opa, aku sudah pusing dengan masalah ini jangan menambahnya lagi omelanmu." Kesal Kevin namun matanya masih tertutup rapat.


Pletak..


Tongkat milik laki-laki tua itu mendarat di kepala cucunya, hingga membuat Kevin mengaduh kesakitan dan membuka matanya dan menatap kesal pada laki-laki tua yang sudah berdiri di hadapannya.


"Entah dari mana kamu belajar hal bodoh seperti itu. Sejahat-jahatnya Opa, tidak sekalipun berselingkuh hingga tidur dengan wanita sembarangan seperti dirimu." Ujar Sanjaya lalu pergi meninggalkan cucunya yang terlihat sangat kesal.


Kevin menarik nafasnya pelan lalu kembali menghembuskanya perlahan.


Entahlah, dia lupa di mulai dari mana kehidupan bodohnya itu. Kesalahan yang dia terus sesali hingga hari ini. Seharusnya sebanyak apapun kekecewaan yang dia miliki, dia bisa menjaga diri untuk tidak menyentuh wanita sembarangan.


Kini dia mulai menyadari jika semua yang dia lakukan tidak hanya menyakiti Flora, namun ikut membuat gadis itu benar-benar ingin pergi dari hidupnya.


Tidak dia tidak akan sanggup. Bahkan hanya membayangkan Flora pergi lagi dia tidak relas apalagi jika harus benar-benar merelakan gadis itu pergi dari hidupnya.

__ADS_1


Selama tiga tahun ini dia selalu berhati-hati untuk tidak sampai menghamili wanita-wanita yang dia tiduri, bahkan selalu meminta Gina untuk memeriksa setiap wanita malam yang akan menghabiskan malam di ranjang yang sama dengannya.


Ternyata istilah tabur tuai itu memang benar adanya, dan dia baru merasakan akibatnya sekarang.


Kevin beranjak dari sofa tempat dia duduk, lalu melangkah menuju kamar tidurnya dulu sebelum mereka pindah ke Bali.


Ada beberapa pigura kecil berisi foto dirinya dan Flora yang tertata rapi di dalam kamar itu. Foto saat mereka selesai mengucapkan sumpah kedokteran masih berada di atas nakas di samping ranjangnya.


Tanganya terulur menyentuh wajah cantik dengan topi toga yang berdiri di sampingnya. Senyum di wajah cantik itu begitu indah, namun semenjak pertemuan mereka dua bulan lalu Kevin tidak lagi mendapati senyum itu di wajah gadis yang masih tersimpan rapi di hatinya.


"Maafkan aku." Ucapnya pelan sambil mengusap wajah Flora yang ada di pigura kecil di atas nakasnya.


"Aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu" Lirih Kevin. Kini tubuhnya sudah terbaring di ranjang miliknya. Tatapanya mengarah pada langit-langit kamar, sesekali menarik nafasnya yang terasa berat. Beberapa kenangan manis mereka kembali melintas di pelupuk matanya.


****


"Mau kemana malam-malam begini ?" Tanya Rosa cepat saat melihat putrinya menuruni anak tangga. Flora terlihat masih memakai dress yang sama namun sudah terbungkus dengan sweater rajut.


"Mau ke rumah Paman Bagas." Jawab Flora masih terus melangkah menuruni satu per satu anak tangga.


"Mami kenapa sih ? Biasanya juga ngga seperti ini." Ucap Flora sambil mengerinyit heran ke arah sang Mami.


"Itu pasti Leon." Sambung Flora lagi sambil kembali melanjutkan langkahnya di ikuti Rosa saat mendengar bunyi klakson mobil di depan rumah mereka.


Rosa tidak yakin, karena yang dia tahu anak angkat sepupunya itu masih berada di luar negeri. Dia terus mengikuti langkah kaki putrinya menuju halam rumah. Dia ingin memastikan langsung jika yang menjemput putrinya benar-benar keponakannya itu.


"Ini benaran Leon Mi." Ucap Flora memelas bercampur Kesal karena Rosa ikut menunduk melihat siapa yang berada di balik kemudi. Dan benar saja, itu anak laki-laki yang sudah menjadi bagian dari keluarganya dua tahun ini.


Leon tersenyum canggung ke arah tantenya karena tidak turun untuk menyapa dan sibuk berbalas pesan dengan gadisnya.


"Kapan kamu sampai di Indonesia ? bagus ya ngga menyapa tante." Sindir Rosa pada keponakannya.


"Kemarin tante, banyak pekerjaan di Rumah Sakit jadi belum sempat berkunjung." Jawab Leon sambil tersenyum canggung ke arah tantenya. "Dan ada gadis yang butuh rayuan, lagi ngambek." Sambungnya sambil mengangkat benda pipih yang ada di genggamannya.


Rosa terkekeh geli saat melihat raut wajah keponakannya.

__ADS_1


"Yah udah, hati-hati nyetirnya." Ujar Rosa dan di angguki oleh Leon.


"Sudah siap mbak ?" Tanya Leon pada Flora bersama dengan senyum jailnya.


"Mbak, mbak.. sekali lagi kamu panggil aku mbak, aku pastikan mulutmu itu tidak lagi bisa di gunakan untuk merayu gadis-gadis." Ucap Flora kesal.


Leon hanya tertawa lucu saat melihat wajah kesal sekaligus menggemaskan milik wanita yang terlihat lebih mudah darinya namun umurnnya justru sudah lebih tua dua tahun.


"Mami jika aku tidak sempat pulang, bilang Papi aku nginap sama Clara." Ucap Flora lalu melambaikan tangannya ke arah Rosa saat mobil yang di kendarai Leon mulai melaju meninggalkan pelataran rumahnya.


"Aku dengar dari Om Bagas, Ka Flora memilih Rumah Sakit di Bali ya ?" Tanya Leon.


Flora mengangguk mengiyakan.


"Jadi apa Bali menyenangkan ?" Tanya Leon.


"Lumayan, sayangnya orang yang membawaku kesana tidak begitu menyenangkan jadinya aku memilih untuk kembali ke Rumah Sakit pusat dan meminta bantuan Paman Bagas untuk mengurusnya." Jawab Flora.


"Ah aku sangat merindukan kampung halamanku itu." Ujar Leon sesekali menatap ke arah Flora.


"Berkunjung dong, temui Ayah dan Ibu kamu. Mereka pasti sangat merindukanmu sekarang." Ucap Flora.


"Iya nanti setelah urusan kepindahanku dari Singapur selesai, aku pasti akan mengunjungi mereka." Ucap Leon. Selama satu tahun ini dia tidak pernah mengunjungi makam kedua orang tuanya karena berada di Singapura.


Flora menepuk pundak adik sepupunya itu, dia sangat tahu bagaimana penderitaan Leon dulu setelah kehilangan ke dua orang tuanya. Mahasiswa tampan yang tersisa dari kejadian tragis di Bali beberapa tahun silam, dan berakhir menjadi bagian dari keluarga mereka.


Tidak ada lagi pembahasan apapun, Flora memilih menghentikan topik yang akan kembali membuka kesedihan untuk Leon.


"Bang Fano gimana kabarnya ?" Tanya Leon.


"Kami tidak lagi saling kontak." Jawab Flora jujur. Laki-laki itu menghilang dan memilih mengabdikan dirinya di Rumah Sakit pedesaan di Papua karena mereka memilih untuk tidak melanjutkan kisah yang tidak akan berakhir baik.


"Bang Kevin ?" Tanya Leon lagi.


"Ishh kamu ini adikku apa wartawan sih ? dari tadi nanya mulu." Kesal Flora. Leon terbahak melihat wajah cemberut kaka sepupunya.

__ADS_1


"Jangan marah-marah mbak, nanti cepat tua. Ga enak, belum nikah eh tau-tau udah tua duluan." Ledek Leon dan berakhir mendapat jitakan di kepalanya.


__ADS_2