Emergency Love, Flora

Emergency Love, Flora
Perintah


__ADS_3

*** Selamat membaca jangan lupa tinggalkan like dan komentar untuk menambah semangatnya ya. Oh iya aku mau minta maaf kemarin ga sempat update. Pekerjaan di kantor jika di akhir bulan begini memang lagi banyak-banyaknya, harap maklum dan semoga suka πŸ™πŸΌπŸ˜Š ***


*** Selamat Membaca 😊 ***


******


Kevin menatap lekat ke arah Flora yang sedang merapikan beberapa barang pribadinya ke dalam tas tanpa menghiraukan keberadaan Kevin. Sedikit kesal namun dia berusaha untuk menahannya karena tidak ingin memancing kegilaan gadis bar-bar yang bahkan tidak berminat menatap ke arahnya ini.


Beberapa kali Kevin menarik nafas berat, ingin sekali mendekap tubuh mungil itu namun entah mengapa dia tidak lagi berani melakukan itu pada Flora.


Dulu Flora alan dengan suka rela menghambur memeluknya, namun kini mereka benar-benar seperti orang asing yang terlibat dalam konspirasi perjodohan kedua orang tua. Hening mengambil alih, tidak ada yang berani bersuara di antara keduanya.


Hingga akhirnya Flora melangkah keluar dari dalam ruangannya bersama dengan tas branded di bahunya tanpa menoleh atau menghiraukan Kevin yang masih bergeming di atas sofa di dalam ruangannya.


Kevin menggeram, kekesalan kembali naik hingga ke puncak kepalanya, namun dia berusaha keras untuk menahannya karena tidak ingin memancing keributan dengan gadis bar-bar dan ego setinggi langit ini, apalagi mereka masih berada di area rumah sakit yang membutuhkan keamanan dan kenyamanan untuk pasien.


"Aku mau makan malam bersama kamu." Ucap Kevin. Sungguh dia tidak tahan lagi dengan sikap acuh tak acuh yang kini bersarang di tubuh gadis kesayangannya ini.


Flora yang hendak mencapai pintu ruangannya kembali menoleh ke arah laki-laki yang masih duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.


"Ini perintah, bukan permintaan." Tegas Kevin lagi.


"Dan ini rumah sakit bukan restoran." Jawab Flora lalu kembali melanjutkan langkahnya keluar dari dalam ruangan sambil menggerutu kesal.


"Ini perintah bukan permintaan, memangnya kamu siapa ? atasan aku." Gumam Flora kesal sambil menendang ruang kosong yang ada di depan pintu ruangannya yang baru saja tertutup.


Tinju yang hendak dia layangkan lagi di depan pintu ruangan kini melayang di udara. Laki-laki yang membuatnya kesal sore ini sudah membuka pintu tersebut sambil menatap kepalan tangan mungil yang menggantung di udara.


"Apa ?" Ketus Flora namun tifka bisa menyembunyikan wajah terkejutnya.

__ADS_1


Lia yang sejak tadi mengamati Flora hanya tertawa gemas karena melihat sikap dokter yang sudah dua bulan ini dia layani. Suster mudah itu hanya tertawa mendengar gerutuan gadis yang sebentar lagi akan menikah itu.


Kevin menautkan alisnya saat mendapati wajah terkejut Flora di hadapannya bersamaan dengan suara ketus yang sudah sering dia dengar.


"Kamu sedang menyumpahiku ?" Tanya Kevin sambil melanjutkan langkahnya keluar dari dalam ruangan calon istrinya.


"Ngga tuh, jangan kegeeran." Jawab Flora lalu kembali melangkah meninggalkan Kevin yang hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengikuti langkah kaki gadis yang dia tahu sedang menyumpahinya itu.


Bunyi sepatu dan hels yang menyentuh lantai terdengar dengan jelas. Tidak ada lagi pembicaraan dari keduanya, Flora terus melangkah dengan cepat meninggalkan Kevin yang dia tahu sedang mengikutinya dari belakang menuju mobilnya berada.


Sumpah serapah yang dia tujukan untuk laki-laki yang masih menjadi raja di hatinya itu masi terus keluar dari mulutnya tanpa suara.


"Apa yang kamu lakukan sialan ?" Umpat Flora saat Kevin mendorong tubuh mungilnya ke tempat duduk penumpang. "Pakai mobil masong-masing." Sambungnya sambil menatap horor ke arah laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


"Aku ngga punya mobil." Jawab Kevin santai sembari mendudukan tubuhnya di balik kemudi di dalam mobil mewah milik Flora.


"Bilang aja kalau kamu kangen dan ingin dekat-dekat aku." Ujar Flora meledek. Tangannya sudah terlipat di atas dada sambil menatap horor ke arah Kevin.


"Pakai sabuk pengaman kamu Flo." Ucap Kevin kesal. Gadis ini sudah dewasa namun selalu bertingkah seperti anak kecil.


"Mau mati kamu." Bentaknya lagi.


"Biarin, aku lebih baik mati dari pada terus seperti ini."


dddrrrtttt...


bugh....


Bunyi ban mobil yang menggesek aspal bersamaan dengan kepala Flora yang menghantam dasbor mobil terdengar jelas membuat Kevin merutuki kebodohannya.

__ADS_1


"Kau mau membunuhku ?" Teriak Flora lesal sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Aku kan sudah bilang pakai sabuk pengaman kamu. Maafkan aku." Ujar Kevin memelas.


"Ngga akan." Ucap Flora namun gadis itu tetap memakai sabuk pengamannya.


"Flo." Panggil Kevin


Flora hanya diam tanpa menyahuti suara yang terdengar lirih dan membuat detak jantungnya kembali yidak normal. Suara yang masih sama seperti dulu saat laki-laki itu khawator padanya.


"Ayo jalan katanya mau makan malam." Ucap Flora lalu mengalihkan tatapannya ke luar jendela mobil, berusaha menghindari manik yang masih saja membuat debaran di dalam dadanya semakin menggila.


Deru mesin mobil mengisi keheningan. Flora masih menatap setiap lampu jalan yang mulai terlihar, sedangkan Kevin masih tetap berkonsentrasi mengemudi.


Bangunan-bangunan pencakar langit, juga mobil-mobil yang semakin memadati jalanan menjadi fokus Flora. Fikirannya tidak lagi ingin terlalu memusingkan hal apapun yang akan di lakukan oleh laki-laki di sampingnya ini.


Mobil terus melaju perlahan bersama mobil-mobil lain yang saling meneriaki klakson mereka masing-masing. Memang harus memiliki stok sabar jika melalui jalanan padat ibu kota, jika tidak umpatan akan terus meluncur dari bibir pengemudi saat kenderaan lain terus saja berteriak sembari menekan bunyi yang akan memekakan telinga pemngemudi lain.


Kiiiikkkkk


"Brengsek" Umpat Kevin saat ada pengemudi yang tidak tahu aturan memaksa mendahului mobilnya dan hampir saja menyerempet mobil mewah milik Flora.


Flora memilih menulikan telinganya dan mencoba untuk tidak terpengaruh dengan laki-laki yang terus saja menggerutu kesal di sampingnya.


Entah sejak kapan laki-laki yang dulunya begitu kalem ini berubah. Sejak dulu Kevin seakan menjadi penyeimbang sikap bar-barnya, namun ternyata waktu bisa merubah seseorang dengan begitu mudahnya.


"Lupakan Flo." Lirih Flora dalam hati. Sungguh, beberapa bulan ini dia mengusahakan setiap harinya tidak lagi mengingat apapun kenangan manis mereka dulu. Dan meskipun tidak mudah, namun semuanya bisa dia lewati.


"Hanya perlu bertahan dan terus melaluinya." Ucapan Aunti kesayangannya saat mereka melakukan video call beberapa waktu lalu kembali terngiang di telinganya.

__ADS_1


Yah benar, apapun itu semua akan menjadi masa lalu seperti yang sudah-sudah. Hanya perlu beryahan dan terus melaluinya. Biarkan waktu akan berjalan sebagaimana mestinya dan semua yang terjadi hari ini akan kembali menjadi masa lalu.


__ADS_2