
Pagi yang melelahkan, Flora merentangkan tangannya untuk merilekskan otot-otot di tubuhnya. Biasanya di pagi hari seperti ini, orang-orang akan memulai aktivitas mereka dengan penuh semangat.
Namun berbeda dengan Flora, wanita yang kini menjadi Dokter Bedah senior di rumah sakit milik keluarganya, akan menyapa pagi dengan tubuh yang terasa remuk.
Sudah lebih dari dua tahun berlalu setelah semua yang telah terjadi, namun rasa sakit karena kehilangan janin yang sangat ia harapkan masih begitu menyiksa, hingga membuat dia memilih untuk menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah sakit agar bisa membantu orang-orang yang membutuhkan keahliannya.
Bahkan wanita yang masih menggantung statusnya itu, hanya akan kembali ke rumah untuk mengganti pakaiannya.
Seperti halnya pagi ini, Flora keluar dari kafetaria rumah sakit dengan satu cup kopi dan beberapa bungkus roti untuk sarapannya rambut yang sudah di gunting pendek sebahu itu ia ikat asal, juga stelan opersi berwarna biru yang ia kenakan semalam masih melekat di tubuhnya.
Lia, sang asisten hanya menatap nanar sarapan yang ada di atas mejanya. Flora tersenyum lalu memintanya untuk memkan sarapan yang ia tahu siapa pengirimnya.
Tidak, bukan laki-laki yang dulu menerornya, tapi itu kiriman dari laki-laki yang sampai kini masih berstatus sebagai suaminya.
Setiap hari Kevin selalu mendatangi rumah sakit hanya untuk memastikan dirinya makan dengan baik, dan sayangnya Flora Sam sekali tidak pernah menyentuh makanan empat sehat lima sempurna yang selalu Kevin kirimkan untuknya.
Flora melenggang masuk ke dalam ruangannya dengan satu cup kopi juga roti yang ia bawa dari kafetaria, sedangkan Lia, perawat yang sudah sekian tahun menjadi asistennya itu menghabiskan makanan yang setiap hari Kevin kirimkan untuknya.
"Ah kenyangnya." Ucapnya setelah menghabiskan roti dan kopi yang ia beli tadi.
Tas branded yang ada di atas meja, juga sebuah switer rajut yang ada di bed di pakainya.
Baru saja ingin melangkah keluar, asistennya mengetuk pintu ruangan dan mengatakan ada yang ingin bertemu.
"Tunda dua jam lagi, aku mau pulang ganti baju dan istirahat sebentar." Jawab Flora, lalu membuka pintu ruangannya yang hanya terbuka sedikit itu.
Namun kakinya terhenti, dadanya bergemuruh. Emosi yang sekian tahun dia pendam sendiri, karena tidak tahu harus di lampiaskan kepada siapa, kini kembali naik hingga ke ubun-ubun, setelah melihat siapa yang kini berdiri di hadapannya.
Tangannya terkepal, menahan diri agar sikap bar-barnya dulu tidak akan kambuh dan membuat keributan di rumah sakit ini
"Ah ******, berani sekali kamu datang ke rumah sakit milik keluargaku." Sinis Flora.
Tatapan tajam dia arahkan, berharap bisa mencabik-cabik wanita yang pertama kalinya ia lihat setelah sekian tahun lamanya.Wanita yang menjadi dalang dari semua masalah yang menimpanya sejak dulu.
__ADS_1
"Boleh aku masuk ?" Tanya Diandra, mengabaikan tatapan sinis juga kalimat sarkas dari Flora.
Tanpa berkata apapun, Flora kembali melangkah menuju kursi kebesarannya dan membiarkan Diandra ikut masuk ke dalam ruangannya.
sedangkan Lia, kembali menutup pintu ruangan itu dengan perlahan. Sepertinya suasana dokter cantik yang dia layani selama hampir tiga tahun ini sedang tidak baik dan membutuhkan privasi.
"Apa yang membawamu kemari wanita murahan ?" Tanya Flora dengan nada yang menghina.
"Aku ingin menitipkan anak ini padamu." Ucap Diandra tanpa basa basi.
Flora tertawa, namun tatapan tajam masih belum pergi dari manik indahnya. Tatapan yang hampir mampu menguliti Diandra itu masih terus bertahan di netra nya.
"Kamu pikir aku tempat penitipan anak ? Aku baru tahu, ternyata selain miskin kamu juga tidak tahu diri ya." Ejeknya.
"Dia putri Kevin, jadi aku pikir ini juga tanggung jawabmu."
Flora kembali tertawa mendengar kata tanggung jawab ? apa katanya tanggung jawab ?
"Sayang sekali aku tidak semurahan dirimu Diandra, yang rela melakukan apapun hanya agar bisa bersama Kevin. Aku dan laki-laki yang kamu gilai sampai mati itu sudah berpisah, jadi bawalah anak kalian dan minta pertanggung jawaban darinya, aku tidak lagi perduli." Ucapnya dingin.
Dia tidak lagi ingin mendengar omong kosong yang ingin Diandra utarakan, dengan cepat Flora beranjak dari kursi yang ia duduki lalu melangkah menuju pintu keluar ruangannya.
"Jangan terlalu angkuh Flora ! Kamu tahu Tuhan sengaja membiarkan bayimu tidak selamat tiga tahun lalu karena putriku lebih membutuhkan tempatnya." Ujar Diandra.
Plak...
"Berani sekali kamu menyebut bayiku dengan mulut kotormu." Teriak Flora.
Gadis kecil yang ada di gendongan Diandra menangis saat melihat ibunya di tampar di depan matanya, namun Flora sama sekali tidak perduli. Sungguh dia luka yang berusaha ia kubur dalam-dalam, kini kembali di gali oleh wanita di hadapannya ini.
"Jika saja kamu tidak membawa putrimu kesini, aku pastikan kamu tidak akan keluar dengan selamat dari ruangan ku ini." Sambungnya.
"Fania, diam sayang." Bujuk Diandra pada putrinya tanpa menghiraukan rasa panas yang menjalar di pipinya. Tubuhnya jongkok di atas lantai, lalu perlahan melepaskan putrinya dari gendongan.
__ADS_1
Gadis kecil itu pun patuh, dan segera mengehentikan tangisannya. Mata polosnya menatap Diandra dan Flora berhgantian.
"Ini Mami," Ucap Diandra.
"Ami ?"
Diandra mengangguk.
"Ama ?"
Diandra kembali mengangguk.
"Mulai hari ini Fani akan tinggal dengan Mami." Ucapnya lagi. "Di rumah Mami banyak mainan." Sambungnya.
Dan gadis kecil itu mengangguk patuh, dengan mata yang berbinar.
Flora mematung di tempatnya, wanita sialan ini benar-benar akan meninggalkan hasil dari perselingkuhan Kevin, padanya ?
"Aku titip Fani. Aku tidak akan pernah kembali lagi dalam hidup kalian. Aku janji Flora." Ucapnya lalu segera melangkah keluar dari ruangan tanpa lagi menoleh pada putrinya yang kini menatap kepergiannya..
"Diandra.. sialan." Maki Flora juga ikut melangkah keluar dari ruangan.
"Lia tolong jaga anak itu sebentar." Pinta Flora lalu melangkah cepat menyusul Diandra yang tidak lagi terlihat.
Dengan berlari, Flora menyusul Diandra yang sudah keluar dari lobi rumah sakit. Untung saja wanita itu masih berada di parkiran saat Flora keluar dari rumah sakit.
"Kamu gila memintaku untuk mengurus hasil perselingkuhan kalian." Desis Flora sambil memegang erat lengan Diandra.
"Aku mohon Flora, dia darah daging kevin. Walaupun kamu membenci ku, membenci kami tapi anak itu tidak bersalah." Mohon Diandra.
Lalu tiba-tiba sebuah Van yang berwarna hitam berhenti di hadapan mereka, Flora dengan cepate melangkah mundur untuk menjaga jarak dari mobil itu.
Flora menatap nanar pada Diandra yang terus memohon padanya agar menjaga gadis kecil itu, di sertai teriakan karena laki-laki yang keluar dari dalam Van itu menyeret paksa tubuh Diandra masuk ke dalam mobil itu.
__ADS_1