
***Selamat menikmati rebahan buat bara jomblowati, dan selamat menikmati cucian buat para emak-emak keren 😅😅 Kalo sempat mampir jangan lupa tinggalkan jejak buat cerita receh othor ya 😊🤗 ***
*****
"Aku ingin mengakhiri hubungan ini Flo" Ucap Kevin pelan.
Mentari mulai menguning di ujung lautan, Kevin memandangi masih ciptaan tuhan itu bersama dengan gemuruh di dalam dadanya. Kalimat yang dia ucapkan terasa menyakitkan, namun hanya dengan ini dia bisa melihat wajah cantik yang selalu tersenyum ceria dulu saat bersamanya.
"Kamu benar, kita tidak lagi sama. Wajah ceriamu dulu tidak lagi terlihat saat bertemu denganku, jadi aku fikir tidak ada gunanya lagi untuk menahanmu." Sambungnya.
Tatapannya masih mengarah pada hamparan lautan, sungguh dia tidak lagi punya keberanian untuk menatap wajah yang semakin terisak di sampingnya.
"Maaf jika sudah memberimu luka, dulu aku berjanji pada diriku sendiri akan menghancurkan siapapun yang akan melukaimu namun pada akhirnya akulah yang melakukan itu padamu, sungguh maafkan aku." Ucapnya lagi.
Kevin masih terus mengutarakan apa yang terpendam di dalam hatinyan, dia menyesali semua kebodohannya. "Yah kamu benar, seharusnya aku menceritakan semua padamu dulu, agar tidak ada kesalah pahaman seperti ini." Ucap Kevin penuh sesal.
Sungguh dia menyesali kebodohannya, namun semuanya sudah terlanjur, sekuat apapun memperbaiki kaca yang sudah retak tetap saja akan meninggalkan bekas disana. Sama halnya dengan sebuah hubungan, apapun yang dia lakukan sekarang tidak akan bisa merubah kenyataan bahwa hati yang selama ini dia jaga telah dia lukai dengan begitu dalam. Sekuat apapun dia ingin memperbaiki kisah mereka, tetap saja tidak akan lagi sama seperti dulu.
"Apa kau menyerah ?" Tanya Flora pelan. Kevin menoleh menatap gadis kesayangannya yang masih saja tertunduk dalam.
"Apa aku bisa terus berjuang, sementara aku tahu jika perjuanganku hanya akan semakin membuatmu terluka." Jawab Kevin. "Aku ingin kamu bahagia Flo, dan mungkin aku tidak lagi bisa memberi itu." Sambungnya.
"Aku harus pergi." Ucap Kevin lagi saat melihat mobil sahabatnya yang akan datang menjemputnya sudah berhenti di depan mobil Flora. "Kamu harus janji untuk bahagia setelah ini." Sambungnya sambil memberanikan dirinya mengusap puncak kepala Flora.
Flora mengangkat wajahnya, hidung memerah juga mata yang sembab terlihat begitu jelas.
Kevin mengusap pipi yang memerah itu dengan tangannya sambil tersenyum hangat.
"Kamu mau kemana ?" Tanya Flora.
Kevin hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Flora yang tertuju padanya.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja ?" Tanya Flora lagi. Dia merasa janggal dengan sikap Kevin hari ini.
"Bahagialah, hanya dengan itu aku bisa baik-baik saja kedepannya." Jawab Kevin bohong. Tidak ! sungguh dia tidak baik-baik saja, dan jika dia tidak pergi sekarang maka semua yang dia usahakan hari ini akan berakhir sia-sia. Dadanya berkecamuk, tubuhnya ingin merengkuh Flora ke dalam dekapan namun dia tidak lagi ingin menyakiti gadis ini terlalu dalam.
"Aku harus pergi." Ucapnya lagi lalu membuka pintu mobil dan keluar dari sana menuju mobil yang ada di depan sana tanpa menoleh lagi. Semuanya berakhir, tidak ada lagi yang tersisa kini.
"Jangan pergi." Lirih Flora bersama dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipinya. Sayangnya mobil yang membawa Kevin sudah berlalu dari sana dan laki-laki itu tidak lagi bisa mendengar permohanannya.
"Ku mohon jangan pergi." Ucap Flora lagi. Kini dia sudah duduk di balik kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
Di jalanan yang sama namun di dalam mobil yang berbeda, seorang gadis dengan snelly yang masih melekat di tubuhnya tersenyum ketika melihat mobil sport merah yang tadi terparkir di tepi pantai kini sedang mengikuti mobilnya.
"Kamu yakin mau meninggalkan dia ?" Tanya gadis tomboi namun tetap terlihat cantik itu.
"Diamlah Gina." Ucap Kevin kesal sambil menutup matanya. Sungguh saat ini dia tidak ingin mendengar celotehan sahabatnya yang tidak pernah kehabisan pembahasan ini.
"Ayolah Vin, kamu tuh gengsi banget. Tinggal memohon sekali lagi aku yakin kali ini Flora akan luluh." Ucap Gina lagi.
"Dia mencintaimu Vin." Ucap Gina lagi sambil melihat spion untuk memastikan mobil Flora masih terus mengikuti mobilnya.
"Dan cinta itu akan terus membuatnya terluka. Aku tidak mampu terus melihat air matanya Gin." Lirih Kevin. Hal yang paling tidak dia inginkan adalah melihat Flora menangis.
"Kamu hanya perlu membantu mengusapnya Vin bukan meninggalkannya." Ucap Gina lagi. "Aku tahu tidak hanya kamu yang berat melepaskan, namun Flora juga sama." Sambungnya.
"Bagaimana aku bisa setidak tahu diri itu, menghapus air mata yang jatuh karena kebodohanku." Jawab Kevin. "Kenapa lewat sini ? aku belum mau pulang Gin, Ayah dan Ibu pasti akan mengamuk padaku dengan keputusanku hari ini" Tanya Kevin ketika sahabatnya mulai melajukan mobilnya menuju Bandara.
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu." Jawab Gina lalu kembali melihat spionnya. Dan benar saja, mobil gadis itu masih terus mengikutinya. Senyum lega terlihat di bibirnya.
"Apaan ?" Tanya Kevin. "Itu mobil Flora." Sambungnya terkejut saat ikut melihat ke arah spion.
"Yap, sejak tadi dia mengikuti kita. Aku fikir dia akan kembali ke rumahnya, namun saat aku berpindah jalur diapun melakukan hal yang sama." Jawab Gina sambil tersenyum.
__ADS_1
"Hentikan mobil kamu Gina, dia akan kenapa-kenapa jika terus seperti itu." Pinta Kevin khawatir. Apakah Flora akan menahannya ? tapi kenapa ? sungguh jantungnya kembali berdebar.
"Udah ga usah lebay, duduk diam aja. Alaaah aku males banget kisah dramatis kayak gini. Kenapa sih ga langsung nikah aja. Masih saling cinta namun sama-sama gengsi." Omel Gina.
"Ingat, jangan sampai dia tahu jika sudah mengetahui jika dia mengikuti kita. Cepat keluar dari mobil aku, ada koperku di dalam bagasi ambil sana." Perintah Gina saat mobilnya sudah berhenti di area parkir Bandara.
"Buat apa ?" Tanya Kevin heran.
" Udah sana ambil, aku muak dengarin rengekan kamu setiap hari." Ketusnya sambil mendorong tubuh Kevin agar keluar dari dalam mobilnya.
Kevin yang hendak membuka pintu mobil terhenti, saat melihat mobil yang ia kenal ikut masuk ke dalam area parkir bandara dan berhenti tidak jauh dari mobil Gina.
"Udah sana keluar, percaya sama aku." Dorong Gina lagi pada tubuh Kevin.
"Iya ngga usah dorong-dorong kenapa sih." Kesal Kevin lalu membuka pintu mobil dengan jantung yang berdebar, lalu melangkah menuju bagasi.
Kevin menatap kesal pada satu buah koper yang berwarana merah mudah menyala di dalam mobil sahabat gilanya ini.
"Jangan pergi." Ucap Flora pelan. Gadis itu sudah berdiri di samping mobil Gina sambil tertunduk.
Kevin segera menutup kembali pintu bagasi mobil sambil bernafas lega. Sahabat sialannya itu begitu bodoh, masa iya dia harus berpura-pura pergi dengan koper merah mudah menyala itu.
"Kenapa ?" Tanya Kevin. Dia menatap lekat ke arah Flora yang masih tertunduk.
"Aku,, aku tidak tahu harus mengatakan apa pada Papi dan Mami nanti." Cicitnya pelan membuat Kevin tersenyum.
Dia tahu Flora sedang mencari alasan saja, namun dia juga merasa bersyukur karena Flora juga masih ingin bersamanya.
"Aku akan menjelaskan pada Om dan Tante nanti." Jawab Kevin santai.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan aku." Ucap Flora lagi namun masih tertunduk dalam.
__ADS_1
Kevin melangkah mendekati Flora, lalu memeluk tubuh mungil itu dengan erat sambil mengecup puncak kepala gadis itu. Sungguh dia tidak lagi bisa menahan lebih lama, rasanya sudah sejak lama dia tidak merasa selega ini.