Flower of Virtues

Flower of Virtues
12: Revolusi untuk Malaikat


__ADS_3

Ledakan tadi sempat membuat semua penduduk desa Surhaven merasa khawatir karena tiba-tiba terjadi sebuah ledakan di desa mereka ini, mereka berpikir bahwa malaikat Technoven kembali bertingkah dengan memaksa seluruh penduduk desa untuk mengembangkan teknologi di desa mereka tetapi semua malaikat itu menolak-nya sehingga mereka semua berjanji bahwa desa ini tidak akan aman dalam waktu yang dekat.


Melantha memberitahu Asuka dan Akina bahwa malaikat yang terkena pengaruh dari Chip tidak akan mengingat kejadian dimana mereka terpasang dengan Chip tersebut. Penduduk desa teriak histeris ketika melihat anggota tubuh  kepala desa yang berserakan dimana-mana bahkan jalan dari desa itu dipenuhi dengan darah. Tidak ada satupun malaikat yang menyalahkan Asuka dengan yang lain-nya walaupun posisi mereka sangat dekat dengan ledakan tadi.


Semua malaikat memiliki pikiran dan perasaan yang sangat positif sehingga mereka tidak akan langsung menyalahkan seseorang begitu saja sebelum mendapatkan bukti yang kuat. Beberapa menit kemudian, desa itu mulai berada di tahapan pembangunan kembali, semua anggota tubuh kepala desa itu sudah dikuburkan oleh seseorang dan mereka semua menghadiri pemakaman itu.


Akina menoleh kepada Asuka yang terlihat biasa saja, entah kenapa ekspresi-nya terus terlihat sama walaupun dia tadi hampir saja mati... melihat seseorang yang mati saja, ekspresi Asuka masih tetap sama, terlihat seperti ia tidak peduli dengan apapun di sekitar-nya. Akina ingin sekali mengenal Asuka lebih dekat lagi agar ia bisa mengetahui alasan kenapa wajah dan ekspresi-nya terlihat sangat polos, seperti malaikat yang tidak pernah melakukan kejahatan atau keburukan.


Setelah pemakaman itu selesai, mereka tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama lagi karena desa ini pasti akan terancam sehingga bala bantuan lain-nya akan datang dan menyerang desa tersebut untuk membangun teknologi dan sistem di desa ini. Mereka bertiga berpencar dan menanyakan seluruh malaikat yang ia temui, tidak ada satupun malaikat yang mengenal Astrea.


Menghabiskan waktu selama sepuluh menit, Asuka melihat malaikat lain-nya yang sedang berada di rumah kepala desa itu sambil menatap keluar jendela, ia menghampiri rumah tersebut dan mengetuk kaca-nya sehingga malaikat itu terkejut karena Asuka tiba-tiba muncul entah darimana itu, "Asuka disini. Asuka ingin menanyakan sesuatu... halo... halo... halo..." Asuka mulai mengetuk jendela itu beberapa kali sehingga malaikat itu berjalan keluar lalu membuka pintu rumah-nya.


"Halo... halo... halo..."


"Ada butuh apa?" Malaikat itu menghampiri Asuka lalu ia menatap diri-nya dengan ekspresi yang terlihat datar, "Astrea...? Apa malaikat kenal dengan nama Astrea?" Tanya Asuka sehingga malaikat itu mengangguk dan memberitahu Asuka bahwa diri sendiri adalah Astrea yang ia maksud, Asuka mengubah mulut-nya menjadi segitiga sehingga jari-jarinya mulai bergerak karena ia melihat sesuatu yang menarik yaitu perut Astrea.


"Apa mau-mu ke sini...? Apakah kau tidak tahu kakak---" Astrea melebarkan kedua mata-nya ketika Asuka menggelitiki perut Astrea yang terbuka, "A-Ahh! Hentikan... hentikan...! Hentikan malaikat mesum, itu daerah sensitif-ku..!"

__ADS_1


"Hooooo... lembut... kenyal... Asuka suka." Asuka terus melanjutkan-nya sehingga Astrea terus tertawa, Akina menghentikan Asuka dengan memegang tangan-nya sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat panik karena Asuka baru saja melakukan suatu tindakan yang terlihat tidak sopan dan mesum, "Asuka... apa yang kamu lakukan...?! Kamu tidak boleh melakukan hal itu kepada seseorang yang baru kamu temui."


"Tapi perut-nya kenyal... kalau begitu Asuka coba punya Akina." Asuka membuka baju Akina lalu ia meraba perut Akina dan menyentuh pusar-nya, "Hyaaaahhh! Hentikaaannnn..."


***


Mereka bertiga akhir-nya bertemu dengan Astrea yang terlihat kesal kepada Asuka yang tiba-tiba menyentuh perut-nya itu, Melantha sendiri sudah menyangka-nya sih karena Asuka pasti akan merasa penasaran dengan seorang gadis malaikat yang menampakkan pusar-nya itu. Untungnya Asuka meminta maaf sehingga Astrea memaafkan-nya karena seluruh malaikat harus memaafkan satu sama lain untuk menunjukkan sikap kebajikan mereka.


Akina dan Melantha dapat mengetahui Astrea karena salah satu malaikat memberitahu diri-nya bahwa dia adalah adik dari kepala desa, mereka cukup terkejut karena tidak semua penduduk mengenal diri-nya. Astrea menempati beberapa cangkir yang berisi susu, mereka mulai saling berbicara tentang Chip dan juga serangan yang melanda desa ini. Asuka tidak tertarik sehingga ia bersandar di dada Akina sambil meminum cangkir susu-nya pelan-pelan.


"Jadi alasan tadi aku tidak sadarkan diri adalah robot yang berasal dari Technoven datang dan menyerang desa ini...? Kakak-ku pernah memberitahu-ku sih bahwa desa ini tidak aman, seluruh malaikat Technoven pasti akan datang lagi... dengan tujuan untuk mengembangkan teknologi dan sistem di desa ini." Kata Astrea, Melantha mulai berpikir bahwa kepala desa mungkin membicarakan Astrea karena ia mengetahui tentang malaikat Technoven itu.


"A-Apa ini...? Apakah kakak-mu juga ikut mengembangkan teknologi tersebut?" Tanya Melantha dengan ekspresi yang terlihat kaget karena ia tidak menyangka bahwa desa ini juga memiliki teknologi yang sangat canggih sampai ia bisa melihat layar virtual dimana-mana, "Sebenarnya desa ini miskin karena kakak-ku mengumpulkan seluruh sumber daya dan juga barang tambang dari penduduk desa demi mengembangkan sebuah teknologi."


"Teknologi itu bisa berjalan dengan positif dan negatif, kakak-ku menggunakannya hanya untuk menciptakan sebuah robot atau mesin yang dapat menanam tumbuhan dan bunga kebajikan yang sudah berkurang setiap hari. Malaikat Technoven juga pemilik dari pusat teknologi itu bernama Sage melepaskan seluruh malaikat Technoven dan Android untuk membunuh para Guardian seperti kalian bertiga." Astrea masuk ke dalam kamar tersebut lalu ia menunjukkan sebuah layar virtual kepada mereka.


Akina melihat sebuah robot dan mesin yang sedang dalam tahap perbuatan tetapi karena kakak Astrea sudah terbunuh karena Chip berbahaya tersebut... semua teknologi ini benar-benar berguna karena Astrea sendiri tidak dapat menggunakan-nya, ia juga tidak pernah diberitahu cara untuk menggunakan teknologi dan sistem tersebut, "Sage benar-benar sudah melampaui batas... tidak seperti kepala desa, ia menggunakan teknologi dengan tujuan yang salah dan negatif. Apakah dia tidak tahu keseimbangan Xuusuatouri...?!" Melantha mengepalkan kedua tinju-nya.

__ADS_1


"Astrea... apakah kakak-mu seorang Guardian seperti kita?" Tanya Akina.


"Ya, itulah kenapa para Malaikat Technovan itu datang bersama pasukan robot-nya, aku melihat malaikat itu memasang Chip yang sama kepada kita para penduduk tetapi untuk kepala desa... mereka memasang sebuah Chip merah yang lumayan besar sehingga Chip itu setengah-nya masuk ke dalam tubuh malaikat." Astrea menunjuk sebuah buku kecil di atas meja kakak-nya, Melantha menghampiri buku tersebut lalu ia mengambil-nya dan membuka-nya sehingga ia bisa melihat banyak sekali tulisan yang menceritakan soal teknologi yang dikembangkan oleh Sage.


"Dia itu... Guardian dari bunga apa?" Tanya Akina.


"Daisy of Virtues... inti dari bunga itu sudah hancur terbakar karena ledakan tadi... Kakak memasukkan bunga terakhir dari Daisy of Virtues ke dalam diri-nya sehingga sekarang kita telah kehilangan satu Guardian lagi." Kata Astrea, mereka tidak bisa melakukan apapun sehingga tujuan Akina dan Asuka semakin tinggi karena tujuan ini benar-benar dapat mengubah masa depan dan juga Heavenly.


"Kita tidak salah untuk pergi menuju Technoven, Asuka."


"Hm, Asuka akan menghentikan Technoven dan malaikat bernama Sage. Teknologi itu boleh tetapi Asuka lebih suka teknologi bermaksa positif untuk semua malaikat." Kata Asuka, Akina tersenyum lalu ia mengusap kepalanya sehingga Asuka memeluk Akina lalu mencium pipinya, "Asuka cinta Akina."


"Hehh?!" Akina terkejut mendengarnya sehingga Astrea menatap Asuka dengan ekspresi yang terlihat seperti menahan perasaan gemas-nya kepada Asuka yang bertingkat imut dan polos seperti itu.


"Semuanya..." Melantha menghampiri mereka sambil memegang buku kecil itu, "Kita memiliki banyak informasi di dalam buku ini tentang perkembangan teknologi yang dibuat oleh Sage."


"Baiklah! Kita harus mencari informasi penting untuk bisa melanjutkan perjalanan kita." Kata Akina.

__ADS_1


"Yoooooooo...."


__ADS_2