
Akina dan Asuka pergi menuju hutan yang dipenuhi pohon dengan daun berwarna biru muda dan batang yang berwarna merah. Desa ini terlihat cukup aneh dan sangat menonjol dengan warna merah dan merah muda-nya itu, mengingatkan lagi Akina kepada malaikat yang berada di hadapan-nya itu. Asuka terlihat tertarik dengan hutan yang dipenuhi dengan warna yang cocok dengan warna rambut-nya sendiri.
Asuka dan Akina mencari sebuah tempat yang luas, mereka menemukan-nya... sebuah lapangan luas dengan daun berwarna merah mudah di sekitar-nya mulai terlihat. Sepertinya tempat itu sangat cocok untuk dijadikan sebagai tempat latih tanding mereka, Asuka dan Akina menghampiri lapangan itu lalu mulai menatap satu sama lain.
Asuka menciptakan bunga mawar di kedua tangan-nya sehingga bunga mawar itu mulai membentuk menjadi dua katana mawar yang sangat pendek, ia menoleh kepada Akina yang memanggil sebuah tombak, "Asuka tidak merasakan senjata yang terbuat dari bunga kebajikan, apakah itu bukan?" Tanya Asuka dan Akina mulai tersenyum karena ia ingin menunjukkan kemampuan dan kekuatan-nya.
"Sebelum kita bertarung, aku ingin menunjukkan diri-mu kemampuan spesial yang aku miliki bernama tujuh kebajikan... tongkat yang aku pegang ini melambangkan satu kebajikan surgawi yang bernama humilitas atau bisa disebut dengan... kerendahan hati!" Akina memutar tombak-nya sehingga membuat Asuka membuka mulut-nya lebar, wajah polos-nya itu sangat cocok dengan mulut-nya yang terbuka lebar.
"Asuka... Asuka tidak bisa berkata apa-apa, kemampuan yang sungguh hebat! Mari Asuka dan Akina bertarung!" Asuka menunjukkan kuda-kuda berpedangnya, Akina tidak akan mengerahkan seluruh kemampuan-nya ketika melawan Asuka karena ia memiliki beberapa kemampuan yang dapat melukai Asuka seperti bunga kebajikan-nya yaitu [Wisteria of Virtues], bunga wisteria yang dia miliki itu sangat beracun dan berbahaya untuk Asuka.
Akina maju ke depan lalu ia mengayunkan tombak-nya ke arah Asuka tetapi ia berhasil menahan serangan itu menggunakan katana-nya lalu ia mencoba untuk melancarkan beberapa serangan, Akina sontak kaget ketika melihat pergerakan-nya mulai mengeluarkan beberapa kelopak mawar yang mengelilingi tubuh-nya... Akina lengah karena ia tidak terlalu peduli dengan kelopak mawar itu sehingga semua kelopak mawar itu melesat ke arah Akina dan meluka diri-nya.
"K-Kecepatan yang hebat... apakah ini salah satu dari kemampuan-mu, Asuka?" Tanya Akina yang mulai mundur beberapa langkah karena kelopak bunga itu tajam juga, Asuka mengangguk dan ia mengangkat jari telunjuk dan tengah-nya seperti menunjukkan tanda damai, "Tarian Asuka dalam bertarung... Dance of Rose... Akina berhati-hati ketika serangan selanjutnya terjadi."
Mereka melanjutkan pertarungan mereka sehingga Akina terlalu meremehkan Asuka yang benar-benar mahir dalam bertarung, ia seharusnya sadar bahwa peri itu sudah pasti melatih diri-nya menjadi seorang malaikat yang bisa disebut sebagai mesin pembunuh ketika bertarung melawan siapapun itu, Akina tidak akan menyerah begitu saja sehingga ia melancarkan serangan tombak yang bertubi-tubi.
Asuka menghindari semua serangan itu dengan refleks-nya sendiri, ia mulai menatap Akina dengan wajah polos-nya karena ia menikmati pertarungan-nya ketika melawan Akina. Asuka menggunakan kemampuan bunga kebajikan lain-nya, ia mengayunkan kedua katana-nya sehingga melepaskan akar bunga yang memiliki warna merah mudah. Semua akar itu memanjang dan mencoba untuk mengikat tubuh-nya tetapi gagal karena Akina berhasil memotong-nya.
__ADS_1
"Aku juga memiliki kemampuan seperti-mu, Asuka. akar itu memiliki duri tetapi akar-ku memiliki racun yang mematikan!" Serangan Akina mulai terlihat agresif sekarang sehingga Asuka menghindari semua serangan itu sampai melepaskan beberapa kelompak bunga dari tubuh-nya itu, Akina sudah berjaga-jaga untuk menahan serangan kelopak itu tetapi ai tidak menyangka bahwa kelopak mawar-nya itu meningkatkan kecepatan Asuka.
Asuka berputar seperti ****** beliung lalu ia maju ke depan, Akina mundur beberapa langkah ke belakang sehingga pohon yang berada di hadapan-nya langsung terbelah menjadi dua, "K-Kemampuan apa itu...?! Jika aku menyentuh-nya maka anggota tubuh-ku akan hilang satu...!" Akina mengayunkan tombak-nya itu ke arah Asuka tetapi tombak-nya malah terlempar ke belakang karena putaran katana-nya itu.
Akina cukup terkesan melihat kemampuan hebat-nya itu, Asuka berhenti berputar dengan hasil kepala-nya mulai berputar sehingga penglihatan-nya juga melihat dunia yang ada di hadapan-nya berputar, "Uwaa... wahhh... uuuuuuu...." Akina melihat celah, ia menarik kembali tombak-nya lalu ia mengayunkan tongkat-nya ke arah Asuka sehingga tongkat itu mengenai kening-nya, "Awieee..." Asuka terjatuh di atas tanah.
Akina sontak kaget ketika melihat Asuka menerima serangan-nya itu, ia awalnya mengira bahwa Asuka memiliki kemampuan lain yang dapat mengejutkan Akina tetapi seperti-nya tidak ada karena dia masih merasa pusing, "Ahh! Asuka! Maaf!"
Asuka mulai berubah menjadi kelopak bunga yang terbang melewati diri-nya lalu membentuk kembali Asuka tepat di belakang Akina, "Akina lengah... Asuka di belakang." Asuka mengayunkan kedua katana itu tetapi ia langsung terkejut ketika melihat Akina berhasil menahan serangan itu dengan refleks-nya yang cepat.
"Ini baru permulaan loh, Asuka!" Akina tersenyum dan Asuka ikut tersenyum, mereka mulai melanjutkan latih tanding mereka dengan menghancurkan pohon di sekitar mereka. Menghabiskan banyak sekali waktu sehingga tubuh mereka dipenuhi dengan keringat, matahari telah terbenam sehingga mereka masih bertarung di malam hari seperti ini.
Ketika Asuka berbicara seperti itu, mereka menghentikan latih tanding mereka... setidaknya Akina senang dapat membantu Asuka dan membuat-nya bertambah lebih kuat lagi, Akina sekarang yakin bahwa perjalanan mereka berdua akan berjalan baik-baik saja dengan kekuatan mereka bersama. Asuka dan Akina pergi meninggalkan hutan itu sehingga mereka bisa mencium aroma melati tidak jauh dari tempat itu.
"Asuka, kamu mencium aroma ini?" Tanya Akina.
"Asuka ingin mencari tahu dimana asal aroma ini..." Kata Asuka, Akina setuju dengan-nya karena ia juga bisa merasakan sesuatu yang terasa hangat. Asuka dan Akina pergi menghampiri aroma melati itu sehingga mereka melihat pemandian air panas yang luas, Asuka melebarkan mulut-nya ketika melihat pemandian air panas itu memiliki air merah mudah yang terlihat hangat.
__ADS_1
"Akina... Asuka ingin mandi disini! Asuka ingin menikmati waktu disini!" Asuka menghampiri pemandian air panas itu lalu ia mulai melepaskan seluruh pakaian-nya dan masuk ke dalam air panas yang berwarna merah muda itu. Akina sepertinya tidak bisa menghentikan Asuka yang benar-benar bersemangat dalam segala hal, ia menghampiri Asuka lalu ikut melepaskan pakaian-nya juga karena menikmati pemandian air panas di tengah-tengah hutan ini sambil melihat bulan malam itu cukup nikmat juga.
Akina masuk ke dalam air itu sehingga tubuh-nya merasakan kehangatan yang terasa nyaman, "Ahhh... nyaman sekali, menikmati pemandian air panas setelah latihan itu... perasaan nikmat yang tidak bisa digantikan." Akina menatap Asuka yang sedang berenang, ia mulai menyelam lalu keluar dan menyembur tubuh Akina dengan mengeluarkan air melalui mulut-nya.
"Hehehe, ayolah, Asuka... geli itu geli..." Akina terkekeh melihat tingkah laku Asuka yang terlihat seperti anak kecil, ia mulai mengajak Asuka untuk mendekat sehingga ia sekarang duduk di hadapan Akina sambil bersandar di dada Akina yang terasa empuk, "Asuka... merasa tenang dan nikmat, seperti bantal dan jeli dada Akina..." Akina terkekeh pelan lalu ia mengusap rambut merah muda Asuka dengan air hangat.
Akina ingin mengetahui Asuka lebih dekat lagi agar ia bisa melindungi diri-nya yang begitu polos, ia tidak ingin Asuka mengetahui arti dari beban kehidupan... gadis seperti diri-nya terlihat sangat polos sehingga hal yang ia ketahui hanyalah kebahagiaan dan rasa penasaran juga mencuri ciuman pertama seorang wanita tetapi ia tidak merasa keberatan karena Asuka adalah sebuah pengecualian.
Asuka mulai berhadapan dengan Akina, Akina mulai terlihat kebingungan ketika Asuka menatap diri-nya dengan mulut yang berbentuk segitiga, "Asuka lapar..." Asuka mulai menyentuh seluruh tubuh Akina sehingga ia mulai merasakan gila karena Asuka tiba-tiba menyentuh diri-nya.
"Heh-heh! Ehh... Asuka... itu geli, hei... Ayolah, hahaha." Akina mulai tertawa, Asuka memberi sebuah kecupan di pipi Akina dan kecupan itu membuat diri-nya senang, "Asuka... mari kita berteman dan mencari orang tua-mu itu."
"Hm!" Asuka mulai menyentuh daerah yang seharusnya tidak ia sentuh.
"A-A-Asuka?! A-A-Apa yang kau lakukan?! Hentikan..."
"Asuka penasaran... berbeda dengan Asuka, Akina lebih lembut."
__ADS_1
"H-Heh! Itu dilarang, jangan disentuh...! Jangan! Hyahhhh...!"