Flower of Virtues

Flower of Virtues
18: Perasaan


__ADS_3

Waktu mereka di restoran berakhir cukup memalukan ketika Asuka dan Akina berciuman, untungnya tidak ada yang melihat mereka berdua seperti itu kecuali Melantha dan Chloe yang tercengang. Entah apa yang mereka pikirkan tentang Asuka sekarang, apakah dia menyukai seorang gadis seperti Asuka atau mereka berdua memiliki sebuah hubungan yang spesial seperti ciuman bibir itu diperbolehkan, mereka berhenti memikirkan hal itu ketika melihat Asuka menggendong Akina sambil menunjukkan ekspresi polos-nya itu.


Perut mereka sekarang sudah kenyang itu artinya mereka hanya harus mencari tempat penginapan yang nyaman untuk dijadikan tempat sebagai istirahat tanpa ada gangguan sedikitpun, Chloe menemukan tempat penginapan yang terlihat mewah sekali... mungkin tempat itu sudah cukup nyaman sampai tempat itu juga menyediakan fasilitas pemandian dan hal-hal lain-nya.


Chloe masuk ke dalam tempat penginapan itu bersama teman-temannya, walaupun harga untuk menginap selama satu hari itu mahal... mereka tidak terlalu peduli dengan harga-nya asalkan mereka bisa bersantai dan beristirahat dengan fasilitas yang tersedia. Asuka memberitahu Chloe untuk menyediakan tiga kamar saja jika mau satu kamar saja sudah cukup tetapi Chloe ingin tidur sendiri jadi ia memesan tiga kamar untuk Melantha juga.


"Jangan-jangan kamu ingin tidur bersama Akina, Asuka?" Tanya Melantha sambil menatap wajah-nya yang polos itu, "Hm... Asuka kesepian jika tidur sendirian... ingin bersama Akina. Asuka nyaman dan tenang." Asuka tersenyum tipis, Chloe memesan tiga kamar lalu ia menerima tiga kunci untuk kamar khusus mereka yang membayar lebih agar bisa menikmati beberapa fasilitas.


Chloe memberi Asuka sebuah kunci dimana kamar-nya terletak di lantai paling atas sedangkan mereka berdua dekat dengan kamar-nya itu, ia memesan lantai paling atas agar bisa menikmati pemandangan indah dari Helaria. Mereka segera bergegas menuju lantai paling atas untuk melihat kamar mereka masing-masing, Asuka membuka kamar-nya lalu ia bisa melihat isi kamar-nya yang terlihat sangat indah.


"Uwaaaaa..." Asuka menghampiri kasur yang besar itu lalu ia menempati Akina di atas kasur tersebut agar ia bisa beristirahat lebih nyaman dan tenang, "Akina... Maafkan Asuka." Asuka tersenyum tipis lalu ia memberi-nya sebuah kecupan di pipi yang langsung membangunkan diri-nya dengan ekspresi yang terlihat bingung.


Akina menatap Asuka lalu ia terkejut ketika melihat diri-nya karena ia mengingat kejadian dimana Asuka menghisap mulut-nya itu, entah kenapa ia bisa merasakan sesuatu yang masuk ke dalam diri-nya tetapi sesuatu yang dia maksud adalah tenaga dan energi kesucian yang membuat tubuh-nya terasa ringan, "A-A-Asuka..." Akina mulai tersipu ketika melihat Asuka, setelah itu ia melihat sekeliling dimana ia sekarang berada di kamar yang cukup besar dan nyaman.


"Yoo... Akina, Asuka tidak melakukan apa-apa. Akina sudah merasa baik?" Tanya Asuka yang mulai duduk di sebelah Akina, ia mulai menatap Asuka yang terlihat seperti ingin meminta maaf... padahal Akina tidak merasa marah atau apapun itu kecuali malu dan kaget saja ketika ia berciuman dengan Asuka di restoran tadi, "Asuka... tidak perlu merasa bersalah seperti itu, kenapa ekspresi-mu berubah seperti itu?"


"Asuka tidak memiliki ekspresi... Wajah Asuka adalah Asuka, Asuka menikmati makanan itu terutama bibir Akina." Asuka mulai mengubah mulut-nya menjadi segitiga sehingga wajah Akina mulai memerah lalu ia meremas kedua pipi Asuka karena ia gemas melihat tingkah laku-nya yang terlalu polos dan datar itu.


"Uhhhh... Asuka, apakah kamu tidak mengetahui apa yang baru saja kamu lakukan kepada-kuuuu... bibir kita saling bersatu dan menghisap tahu." Kata Akina sambil mengembungkan kedua pipi-nya, Asuka hanya menatap Akina dengan ekspresi datar-nya itu walaupun Akina meremas kedua pipi-nya dengan perasaan yang gemas. Asuka mulai meremas dada Akina sehingga ia mengerang dan berhenti meremas pipi-nya itu.

__ADS_1


"Uwwww... Asuka, kamu itu nakal ya." Akina memeluk Asuka erat, entah kenapa perasaan-nya kepada Asuka mulai berubah seolah-olah ia melihat ekspresi Asuka yang datar dan polos itu memiliki arti yang mendalam karena ia terlalu dekat dengan diri-nya, ia yakin bahwa Asuka menyembunyikan suatu perasaan, terkadang itu perasaan sedih dan senang karena ia sekarang terlihat berbeda.


"Asuka, apakah kamu tahu soal ciuman itu?" Tanya Akina.


"Peri memberitahu Asuka... Ciuman dan pelukan ditunjukkan untuk menunjukkan rasa kenyamanan, kesenangan, cinta, dan hal positif lain-nya kepada seseorang. Asuka mencintai Akina, Akina seperti segala-nya bagi Asuka." Kata Asuka dengan wajah polos-nya itu, Akina tersenyum dan tersipu ketika mendengar perkataan itu dari Asuka.


Akina mulai mengelus kepala-nya pelan-pelan sehingga Asuka memejamkan kedua mata-nya karena ia merasa nyaman dengan elusan tersebut, mungkin Akina akan menganggap Asuka sebagai pengecualian untuk melakukan hal-hal yang dia maksud. Asuka di asuh oleh seorang peri dan Akina yakin bahwa ia tidak mengetahui banyak hal, setidaknya Akina ingin membuat Asuka seperti ini karena ia terlihat seperti merasakan kebahagian saja.


Seorang malaikat polos dan malang seperti Asuka ini seharusnya dilindungi, Akina merasa beruntung melihat Malaikat seperti diri-nya, dia sangat baik dan juga mahir dalam melakukan beberapa hal hanya saja kekurangan-nya itu banyak... walaupun banyak, setidaknya Akina akan terus bersama-nya agar ia bisa merasakan terus kebahagiaan yang ia rasakan ini, "Asuka... aku ingin menanyakan sesuatu kepada-mu."


"Mmmm..."


Akina terkejut ketika mendengar-nya, itu artinya ketika mereka pertama kali bertemu... Akina baru saja mengubah hidup Asuka menjadi lebih bahagia dan baik, ia melupakan semua rasa kesedihan yang ia alami bahkan beban tentang Malaikat Technoven itu juga dia tidak terlalu menghiraukan-nya karena dia percaya kepada diri-nya dan teman-teman yang ia temukan sebelum-nya.


Akina mulai setuju dengan pilihan-nya sendiri bahwa ia akan memperlakukan Asuka dengan baik agar ia bisa terus menunjukkan ekspresi-nya itu dan perasaan yang tidak terlalu bisa ditunjukkan dengan mudah, ia hampir sering melihat Asuka tersenyum... hanya saja ia tidak pernah melihat diri-nya tersenyum lebar, "Asuka, aku akan tetap bersama-mu walaupun tujuan kita dalam menghentikan Sage selesai, mari kita bersama sampai akhir dari kehidupan kita." Akina mengacungkan jari kelingking-nya, Asuka mengangguk pelan lalu ia mengaitkan kelingking-nya dengan Akina sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat tertarik.


"Akina... Asuka senang bisa bertemu Akina." Asuka tersenyum lebar sambil memejamkan kedua mata-nya, senyuman dan ekspresi-nya yang langka itu membuat Akina sontak kaget, "A-Asuka... Hm! Aku juga senang bisa bertemu dengan-mu."


Asuka mulai menatap Akina dan ia mulai memejamkan kedua mata-nya, Akina mulai mendekati wajah-nya dengan Asuka sehingga bibir mereka perlahan-lahan mulai bersentuhan tetapi Chloe mulai memanggil mereka berdua, "Asuka! Akina! Mari kita menikmati pemandian air panas di waktu istirahat kita seperti ini!" Chloe tersenyum.

__ADS_1


Mereka langsung berdiri dan menghampiri mereka, Akina terlihat canggung dan malu karena ia berharap bahwa mereka tadi tidak melihat diri-nya yang akan berciuman lagi dengan Asuka. Ekspresi Asuka masih tetapi seperti biasa-nya, mereka mulai pergi menuju tempat pemandian air panas dan menghabiskan waktu disana dengan bermain dan tertawa ria karena hari ini adalah hari dimana mereka bisa melupakan beban yang dirasakan.


***


"Fuyaahh... Uhhmmm... Asuka... tidak... Hyah..." Akina mulai mendorong Asuka pelan-pelan karena saat ini ia sedang menghisap leher-nya, "A-Apakah kamu yakin... ini yang kamu sebut dengan saling membagi kasih sayang dan kesucian...? Apakah ini salah satu dari kemampuan bunga kebajikan yang dapat membuat kita bertambah kuat...?"


"Asuka hanya ingin menunjukkan rasa cinta Asuka kepada Akina, di tambah lagi... jika Asuka dan Akina melakukan-nya maka kemampuan bunga kebajikan Asuka dan Akina akan membuka sebuah jalan baru dimana Asuka dan Akina akan mendapatkan kemampuan yang kuat dan hebat. Entah itu apa tetapi Peri mengatakan-nya kepada Asuka, di tambah lagi..."


"...Asuka mencintai Akina." Asuka tersenyum lalu ia melepaskan seluruh pakaian-nya dan menatap Akina yang terlihat masih menahan diri dengan wajah merah-nya, di malam hari ini... mereka memilih untuk melakukan sebuah ritual yang dimaksud oleh Asuka adalah membagi kasih sayang, Akina terkejut ketika mendengar Asuka baru saja menyatakan perasaan cinta-nya itu.


"Kamu tidak... sedang bercanda 'kan...? Walaupun kita sama-sama gadis di atas ranjang seperti ini... entah kenapa terasa aneh dan memalukan..." Kata Akina sambil menutup wajah-nya sendiri, "Asuka serius... Asuka ingin bersama Akina untuk selama-lamnyaaaaa...."


"Hyaaahhh...! A-A... Asuka... a-apa... apa yang kamu sentuh... t-tidak..."


"...i-itu... sensitif... tidak... jangan di satukan..."


"Aaahhh, Asukaaa...." Akina mengembungkan pipi-nya karena Asuka benar-benar tidak mau diam dengan kedua tangan-nya itu, "Akina memang imut ya."


"Asuka lebih imut..."

__ADS_1


"Uck... ini benar-benar memalukan..."


__ADS_2