Flower of Virtues

Flower of Virtues
45: Kesucian dan Cahaya Kita


__ADS_3

Chiara baru saja mengalihkan pembicaraan karena ia ingin Akina bisa membiarkan Asuka sendiri dulu karena dia baru saja mengetahui kebenaran yang sangat menyakitkan, Chiara sudah mengetahuinya ketika melihat Azusa bahwa ia sudah memberitahu Asuka tentang semua kebenaran yang harus ia ketahui sebelum pertarungan terakhir dimulai, pertarungan yang akan menentukan Heavenly dan masa depan Xuusuatouri.


Chiara masuk ke dalam portal emas itu sehingga tubuhnya mulai diselimuti dengan warna emas, setelah itu ia pergi meninggalkan ruangan itu bersama Chloe dan Akina. Azusa mulai membantu Asuka untuk berdiri, ia mencoba untuk menyemangati dirinya bahwa sebentar lagi mereka bisa menyelamatkan kembali Heavenly. Asuka mulai menatap Azusa lalu ia memberi dirinya pelukan hangat.


"Tenanglah, Kakak. Kita akan bertarung untuk menghancurkan Core yang mengembangkan seluruh teknologi dan sistem itu, kita tidak perlu membunuh Papa. Papa masih bisa kembali, Papa hanya terkendali oleh sebuah sistem yang bernama The Virus, kita pasti bisa mengalahkan sistem itu ketika potensi tersembunyi kita terbuka sekarang!" Apa yang baru saja Azusa katakan membuat Asuka kembali tenang, setidaknya ia dapat menunjukkan ekspresi polos-nya lagi, kali ini ia tersenyum dan menggendong Azusa lalu memberi dirinya kecupan bibir.


"Terima kasih, Azusa. Sekarang, ayo pergi." 


"Hm~"


Azusa dan Asuka masuk ke dalam portal itu sehingga portal tersebut membawa mereka dengan meluncurkan mereka berdua ke atas langit, Azusa tercengang ketika melihat mereka berdua mulai terbang tinggi bahkan melihat sebuah kuil besar yang melayang di atas udara. Mereka tiba di dalam ruangan kuil itu dan melihat yang lainnya sedang membaca beberapa tulisan yang tertera di setiap tembok itu.


"Kalian sudah sampai ya." Chloe menoleh kepada mereka lalu ia tersenyum, setelah itu ia melanjutkan membaca tulisan yang tertera di setiap tembok itu. Perhatian mereka teralih ketika membaca seluruh tulisan itu yang memiliki arti yang cukup bermakna bahkan Asuka sendiri bisa melihat Rosalia, malaikat Agung seperti dirinya mungkin telah menciptakan banyak sejarah sampai Asuka bisa melihatnya dimana-mana.


"Selama ini Starmonigaru itu disegel oleh Rosalia menggunakan bunga kesuciannya itu, Guardian sepertinya hebat juga di zaman dulu karena bisa menyegel apapun dengan mengubah mereka menjadi bunga lalu bunga itu akan menghasilkan segel patung yang cukup kuat. Di sini mengatakan bahwa Rosalia bersama seluruh Guardian berhasil menyegel Starmonigaru, semua itu berkat bantuan dari ras lainnya juga yang mau berpartisipasi." Kata Chloe, tulisan emas lainnya mulai bermunculan sehingga Asuka bisa melihat sebuah tulisan yang menceritakan tentang kelahiran dirinya, ia juga bisa melihat nama dari Ayahnya yaitu Sage.

__ADS_1


"Sudahlah, sejarah bisa menunggu. Kita akan fokus langsung kepada intinya, kita harus naik ke puncak sana!" Seru Chiara yang mulai menunjuk lubang di atas atap itu, ia pergi duluan dan Azusa mulai mengikuti dirinya tetapi Asuka hanya diam di tempat itu sambil membaca kembali sejarah tentang Rosalia dan kelahirannya, entah kenapa melihat nama Sage membuat dirinya merasa kesal dan sedih.


Chloe bisa melihat Asuka yang masih diam di sana, ia juga melihat Akina yang masih berada di ruangan yang sama, seharusnya mereka segera bergegas mengikuti Chiara. Chloe tidak ikut karena ia bukan Malaikat atau Guardian seperti mereka jadi ia lebih memilih untuk membaca tentang sejarah yang tertera di ruangan lantai paling bawah, Akina menoleh kepada Chloe lalu Chloe menyuruh dirinya untuk menenangkan Asuka dan mengembalikan Asuka ke dirinya yang asal.


Akina menghampiri Asuka lalu menepuk punggungnya, "Asuka~"


"Hmm...?" Asuka menoleh kepada Akina lalu ia bisa melihat Akina yang tersenyum lembut, ia mencoba untuk mengajak dirinya untuk ikut karena sebentar lagi mereka akan membuka potensi tersembunyi mereka, ketika potensi mereka bangkit maka tujuan terakhir mereka adalah menyerang kota Technoven.


"Ayo." Akina mulai menggenggam tangan Asuka dan membawanya pergi dengan melompat ke atas, Asuka hanya diam karena pikirannya masih mengingatkan dirinya tentang Sage itu. Ketika mereka melompat dan mencoba untuk mengikuti Chiara, tiba-tiba Akina menarik Asuka ke sebuah ruangan yang lumayan sepi dimana Akina langsung menahan dirinya dengan menyentuh tembok menggunakan kedua tapaknya.


"Asuka... mau jujur kepadaku? Apa yang terjadi kepadamu...? Apakah ujian yang kau hadapi itu cukup menyedihkan? Aku sudah menyadarinya sejak aku bebas dari ruangan ujian itu kok, aku tidak melihat lagi wajah polos Asuka yang aku cinta, sesuatu pasti terjadi jika wajah polos-mu hilang." Kata Akina sambil meraba kedua pipi Asuka, ia tidak bisa berbohong karena ia tidak pernah berbohong sebelumnya sehingga Asuka mulai menangis karena hatinya merasa kesakitan ketika mendengar Ayahnya adalah penyebab dari semua kegilaan ini.


"Asuka... Asuka... tidak pernah berpikir... tidak pernah menyangka bahwa Sage adalah Papa kandung Asuka... selama ini Mama-ku adalah seorang Malaikat Agung tetapi Mama menikah dengan Papa yang sangat jahat, Asuka benar-benar tidak menerima fakta bahwa Papa kandung Asuka itu jahat." Kata Asuka sambil menangis.


 Akina sempat terkejut ketika mengetahui bahwa Sage adalah Ayah kandung-nya tetapi setidaknya Akina dapat menerima Asuka apa adanya, semua orang itu tidak sempurna karena mereka pasti memiliki kekurangan di kehidupan mereka. Akina memeluk Asuka erat lalu memberi dirinya elusan di punggungnya, mencoba untuk membuat dirinya tenang.

__ADS_1


"Asuka... Asuka tidak mau dibenci... Asuka takut bahwa semua malaikat tahu bahwa Asuka adalah putri dari Sage, Asuka tidak mau dibenci... Asuka hanya ingin kasih sayang... Asuka hanya ingin keluarga yang benar-benar mencintai Asuka... Asuka tidak menerimanya..." Asuka memegang baju Akina erat dan Akina mulai mengangguk lalu ia ikut menangis juga ketika mendengar Asuka yang lebih jujur sekarang.


"Semua Malaikat tidak akan memandang buruk siapapun kok, Malaikat saling memaafkan dan Malaikat saling mengubah satu sama lain. Aku yakin bahwa kamu Asuka pasti bisa membawa Sage menuju jalan cahaya, cahaya dan kesucian itu berada di dalam tubuhmu dan aku yakin kamu pasti dapat membaginya bukan hanya untuk Sage tetapi semua orang yang salah memilih jalan." Akina mulai menatap kedua mata Asuka lalu Asuka kembali seperti biasanya, ia menunjukkan wajah yang terlihat polos lalu ia tersenyum lebar.


"Akina..."


"Aku tidak akan membenci-mu, Asuka. Aku akan selalu berada di sisi-mu, itu adalah janji." Akina mulai memberi Asuka ciuman di bibir sehingga mereka berdua berciuman di bibir selama satu menit lalu pergi meninggalkan ruangan itu karena tugas Akina untuk menyemangatkan kembali Asuka telah berhasil, ia kembali seperti biasanya dan sudah siap untuk membuka potensi tersembunyi yang terdapat di dalam tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, mereka semua bertemu di lantai paling atas dari kuil tersebut, mereka bisa melihat beberapa pintu yang memiliki warna emas. Chiara mulai menjelaskan-nya kepada mereka semua bahwa di balik pintu itu akan berubah ketika seorang Guardian menyentuhnya, Chiara memberi contoh dengan menyentuh pintu yang berada di hadapannya sehingga lambang bunga matahari muncul di pintu tersebut.


"Aku sudah muak melihat pintu-pintu, apakah semuanya harus berkaitan dengan pintu?" Tanya Akina.


"Begitulah, di balik pintu ini kita harus bertahan disana selama beberapa menit agar potensi di dalam tubuh kita bisa bangkit, semoga beruntung." Chiara membuka pintu di hadapannya lalu ia masuk ke dalam sehingga ia sekarang berada di sebuah ruangan yang dipenuhi dengan bunga matahari.


Mereka mulai menatap satu sama lain lalu mengangguk, mereka menyentuh pintu emas itu lalu membukanya dan masuk. Setiap ruangan yang mereka masuki itu memiliki bunga yang berbeda berdasarkan bunga kebajikan yang mereka miliki, Asuka merasakan kesejukan dan aroma mawar yang cukup wangi sampai ia menatap ke depan dan melihat sebuah pilar berwarna merah.

__ADS_1


"Apa ini...?"


__ADS_2