Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 10


__ADS_3

Semua murid bergegas keluar dari sekolah dengan menggunakan kendaraannya masing-masing. Namun berbeda dengan Aciel yang terlihat berjalan kaki di trotoar sekolah.


Ara yang melihat Aciel jalan kaki pun menepikan motornya menghampiri Aciel.


"Hai bocil, lo jalan kaki" tanya Ara seraya membuka kaca helmnya.


"Tidak, gue terbang" jawab Aciel nyleneh.


"Jangan halu lo, lo itu jalan kaki bukan terbang" nyolot Ara.


"Itu lo tahu, terus ngapain tadi lo nanya, lama-lama lo ngeselin ya" balas Aciel tak kalah nyolotnya dari Ara.


"Lo mau nebeng gue kagak? kasihan gue lihat bocil seperti lo jalan kaki sendirian begini, takut lo di culik sama tante-tante gatel" ucap Ara.


"Si*lan lo, kalau ngomong suka sekate-kate" sahut Aciel sambil menutup kaca helm Ara.


"Udah ayo naik, gak usah jual mahal lo" pinta Ara ngegas.


"Gue aja yang bawa motornya, bisa turun harga diri gue di boceng cewek gesrek kek lo" ucap Aciel.


"Gesrek gini gue cantik" puji Ara pada dirinya sendiri seraya turun dari atas motornya.


Aciel mengambil alih kendaraan Ara, setelah itu Ara naik dan duduk di belakang Aciel.


"Pegangan lo, nanti terbang kalau ngga pegangan" pinta Aciel, membuat Ara menoyor kepala Aciel.


"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan lo," sungut Ara.


"Gue cuma memberi kesempatan sama lo doang, kapan lagi lo di bonceng cowok cakep seperti gue ye kan" ucap Aciel tertawa. mulai melajukan kendaraan Ara.


Dia mengendarainya dengan kecepatan sedang, karena Ara tak mau berpegangan.


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada pasang mata yang memperhatikan mereka, dari awal Ara menawarkan tumpangan kepada Aciel, hingga Aciel membonceng Ara, orang itu tidak melewatkannya sedikit pun.


Orang itu adalah Narendra, semenjak kejadian dimana Ara di hadang oleh preman, Narendra selalu mengikuti Ara hingga selamat sampai ke rumahnya.


Tentunya Narendra mengikuti Ara dari jarah yang lumayan jauh, supaya Ara tidak curiga.


Seperti sekarang Narendra mengikuti motor mereka hingga sampai di kediaman Aciel.


Sebenarnya Aciel bukan anak yang tak mampu, dia jalan kaki karena sedang mendapat hukuman dari orang tuanya.


Semua fasilitasnya di sita oleh orang tuanya termasuk sepeda motornya, Aciel hanya di beri uang saku yang cuma cukup buat jajan dan naik angkot, orang tuanya marah ketika tahu putranya itu di keluarkan dari sekolah gara-gara terlibat tawuran.


Orang tua mana yang tak marah kalau tahu anaknya melakukan hal yang membahayakan seperti itu, lebih tepatnya mereka khawatir dengan keselamatan anak semata wayangnya itu.


"Ini rumah lo" tanya Ara seraya mengedarkan pandanganya mengamati rumah Aciel dari depan.


"Iya, lo mau masuk atau mau langsung pulang" tanya Aciel.

__ADS_1


"Ternyata lo anak orang kaya, tahu gitu aku biarkan saja lo jalan kaki" ucap Ara mengabaikan pertanyaan Aciel.


"Memangnya siapa yang bilang gue anak orang miskin, tenyata lo nolong gue ngga ikhlas ya" sahut Aciel sambil menjitak kepala Ara pelan.


"Kirain lo jalan kaki tuh karena lo miskin, ternyata tebakan gue salah" gerutu Ara seraya mengusap kepalanya.


"Gue jalan kaki, karena fasilitas gue di cabut sama bokap gue, puas lo" ucap Aciel kesal.


"Santai dong, gue kan ngga tahu" sahut Ara mengerucutkan bibirnya.


Tiba-tiba ada perempuan paruh baya yang keluar dari dalam mendekati mereka.


"Aciel, kamu ini ada tamu kenapa tidak di suruh masuk" ucap mama Aciel mengagetkan mereka yang sedang berdebat.


"Dia nya tidak mau mam" jawab Aciel seraya menoleh ke arah mamanya.


"Eh" ucap Ara kaget.


"Kamu teman barunya Aciel ya" tanya mama Aciel.


"Iya aunty, saya teman sekelasnya Aciel, nama saya Ara" jawab Ara sopan seraya memperkenalkan diri. Mama Aciel membalasnya dengan senyuman.


"Ayo masuk dulu nak Ara, aunty bikinkan minum untukmu, pasti kamu hauskan setelah panas-panasan seperti ini" tawar Mama Aciel.


"Tidak usah aunty, saya langsung pulang saja" tolak Ara.


Mama Aciel tertawa dengan tingkah lucu Ara. Aciel merotasi bola matanya malas.


Pada dasarnya Ara gampang bergaul, dia bisa berbaur dengan siapa saja, dan kalanagan mana saja.


Apa lagi papi nya terkadang membawanya ke beberapa acara relasi bisnisnya.


Jadi tidak aneh kalau Ara tak ada rasa canggung sedikitpun dengan mama Aciel.


Sedangkan Narendra merasa geram melihat ke akraban Ara dengan Aciel. Dia mengumpat kesal.


"Dahhh...aunty, Ara pulang dulu" pamit Ara sambil melambaikan tangan kirinya.


"Hati-hati Ara" ucap Mama Aciel sambil menggelengkan kepalanya melihat Ara yang mengemudikan motor sportnya.


Narendra yang melihat motor Ara mulai meninggalkan kediaman Aciel, Narendra juga ikut menyusul Ara meninggalkan rumah Aciel.


...****************...


Setelah memastikan Ara sampai di rumahnya, Akhirnya Narendra memutuskan pulang ke rumahnya.


Tiba di rumah Narendra langsung di berondong pertanyaan oleh mamanya, pasalnya Nayla sudah sampai rumah dari tadi, sedangkan Narendra belum pulang, apa lagi mereka satu kelas.


"Kamu dari mana sayang? kenapa kamu baru pulang, Nayla saja sudah pulang dari tadi, lalu kenapa ini wajah kamu kusut begitu" cerocos Alana.

__ADS_1


"Mama satu-satu nanyanya, Narend bingung menjawabnya" protes Narendra sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Narendra menyandarkan tubuhnya di sofa dengan setengah berbaring, sambil mengingat kembali kedekatan Ara dengan murid baru itu.


"Kamu ini bukannya menjawab pertanyaan mama, malah melamun kek begitu" omel Alana.


Narendra menghela nafas sabar, inilah yang ia tak suka jika satu sekolah dengan saudara kembarnya itu, apa lagi ini satu kelas.


"Narend habis mengantar Vian pulang mam" jawab Narendra bohong.


Tak lucu bukan kalau dia mengaku habis jadi penguntit.


"Tumben, biasanya Vian membawa mobilnya" timpal Nayla.


"Terserah Vian mau membawa mobil kek, jalan kaki kek, naik angkot kek" ketus Narendra.


Nayla mengeryit, dia merasa aneh dengan sikap ketus nya seperti itu.


Padahal mamanya hanya mempertanyakan hal biasa, yang biasanya mamanya tanyakan pada keduanya.


"Kamu kenapa sih bang, kenapa jadi sensi gitu" tanya Nayla penasaran.


"Diam lo" ketus Narendra. setelah itu dia bangkit dari tempat duduknya yang tadi ia duduki.


Dia meninggalkan mamanya serta kembarannya begitu saja.


Sedangkan Nayla dan Alana melongo menatap sikap aneh Narendra, dia terus menatap punggung Narendra yang mulai menjauh menaiki tangga menuju ke kamarnya yang ada di lantai atas.


"Abang kenapa ma? kenapa pulang sekolah jadi aneh begitu, atau jangan-jangan abang kesambet setan di jalan mam" tanya Nayla.


plak


Alana memukul lengan putrinya pelan.


"Kenapa mama memukul lengan Nay mam" tanya Nayla.


"Lagian kamu ini asal aja kalau bicara, mana ada setan yang mau sama abangmu yang kaku itu" dumel Alana.


Nayla hanya cengengesan menatap wajah kesal mamanya.


Bersambung


Happy reading Guys🙏


jangan lupa like


koment


vote

__ADS_1


__ADS_2