Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 18


__ADS_3

"Aku langsung pulang ya Ra, takut di marahin nyokap, Besok pagi aku akan menjemputmu, " ucap Aciel lalu pamit kepada Ara


"Ok, terima kasih sekali lagi" sahut Ara. lalu dengan hati-hati Ara turun dari mobil Aciel.


Dari kejauhan Chika melihat putrinya yang di antara oleh seorang pria yang belum ia kenal sebelumnya.


"Kamu pulang di antar siapa sayang" tanya Chika ketika melihat Ara sudah masuk rumah.


"Itu teman Ara mi" jawab Ara seraya melangkahkan kaki masuk ke rumahnya.


"Kenapa kamu tidak menyuruh dia mampir terlebih dahulu, harusnya kamu menawarkan dia untuk minum dulu sebagai tanda terima kasih karena sudah mengantarkanmu" kata Chika.


Ara merotaasi bola matanya jengah. baru juga pulang, maminya langsung nyerocos aja.


"Bukan Ara tak menawarinya untuk mampir mami, dia nya harus buru-buru pulang, karena kalau sampai telat nanti orang tuanya akan mencabut kembali fasilitasnya" jelas Ara.


Chika mengangguk ngangguk tanda mengerti.


"Bagus juga idenya, nanti kalau kamu telat pulang mami juga akan menarik semua fasilitas yang sudah mami dan papi kasih ke kamu" ucap Chika.


Ara melototkan matanya menatap maminya, sepertinya kali ini dia salah bicara.


"****, salah bicara gue" umpat Ara dalam hati.


"Tidak usah melotot begitu, nanti bola matamu keluar. Makanya jangan suka telat pulang supaya mami tidak menarik fasilitasmu itu" ucap Chika.


Ara yang malas meladeni maminya, memilih pergi ke kamarnya untuk istirahat.


*


Malam hari di kediaman Andre sedang melakukan makan malam bersama keluarganya.


"Bagaimana dengan kakimu sayang" tanya Andre setelah menyelesaikan makannya.


"Sejauh ini aman pi, mungkin 2-3hari lagi akan sembuh pi" jawab Ara.


"Tadi kamu pulang sama siapa? kenapa kamu menyuruh pak maman agar tak menjemputmu" tanya Andre.


Andre selalu menugaskan orang sekitarnya untuk memantau putrinya. Menjaga anak perempuan seperti menjaga berlian, tergores sedikit saja akan membuat harganya turun, begitu juga seorang anak perempuan.


"Ara di antar teman Ara pi," kata Ara.


"Apa itu seorang pria girl?" tanya nya lagi.


"Itu pasti pacar barunya kak Ara pi" timpal Shaka memanasi papinya.


Ara mendelik menatap adik lucnutnay itu, lalu menghembuskan nafasnya pelan, Papi nya terlalu posesif dalam menjaganya dan Adiknya terlalu kompor, beruntung papinya tak termakan ucapan adiknya itu. membuat Ara jengkel.

__ADS_1


"Apa benar begitu Kak" tanya Andre.


"Bukan pi, itu teman sekelas Ara" jawab Ara jujur. Percuma juga berbohong, karena papi nya pasti akan mencari tahu identitas teman-teman Ara.


Andre mengangguk. Dia hanya mengetes kejujuran putrinya, sebelumnya sudah tahu kalau putrinya pulang sama Aciel dari laporan anak buahnya, dan Andre tak masalah akan hal itu.


"Istirahatlah, biar kakimu cepat sembuh, jangan buat berjalan terus" titah Andre.


Ara mengangguk patuh. Sebelum beranjak dari kursinya Ara berbisik di telinga adiknya.


"Awas kau bocil, tunggu saja pembalasanku jika aku sudah sembuh" ancam Ara di telinga adiknya.


Shaka membalasnya dengan menjulurkan lidahnya mengejek kakanya itu.


"Untung adik sendiri, kalau bukan sudah aku buang kamu ke dasar jurang" gerutu Ara.


Ara berlalu meninggalkan meja makan, dia tidak mau terpancing oleh sikap adiknya itu, kalau di ladeni yang ada dirinya yang akan di omeli maminya.


*


*


Sedangkan di rumah Raka.


Narendra sedang duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya sambil menatap langit malam yang di penuhi dengan bintang. Membuat Narendra semakin betah dengan suasana seperti ini.


Nayla melangkahkan kakinya mendekati ke pintu tersebut, dia yakin kalau abangnya ada di luar.


"Ternyata abang di sini" ucap Nayla sambil duduk di sebelah abngnya.


Narendra menoleh melihat wajah adiknya.


"Ada apa kamu mencari abang" tanya Narendra.


"Tidak ada, Nay hanya bosan di kamar sendirian, makanya Nay kesini" sahut Nay, sambil mencomot kue kering ayng ada di toples.


"Abang sedang apa di sini? abang sedang galau ya? " tanya Nayla.


Biasanya abangnya lebih memilih membaca buku, dari pada duduk gabut seperti ini.


"Hanya ingin saja" jawab Narendra.


"Apa abang sedang memikirkan Ara?" tebak Nayla.


"Jangan asal bicara Nay, mana mungkin abang memikirkan Ara" kilah Narendra, tapi Nayla bisa melihat wajah gugup abangnya ketika menyebut nama Ara.


Nayla berdecih kesal.

__ADS_1


"Jangan sampai abang menyesal" peringatnya lalu pergi meninggalkan kamar abangnya.


Narendra menghela nafas panjang, sejak kecil hingga Ara masuk sekolah menengah pertama, dan pada saat itu Narendra sudah memasuki kelas 1 sekolah menengah atas.


Narendra selalu menolak mati-matian Ara yang mendekatinya, hingga membuat Ara lelah lalu berhenti mengejar Narendra.


*Flasback On*


Tiap jam istirahat sekolah Ara selalu menghampiri Narendra, terkadang dia juga membawakan bekal untuk Narendra yang ia bikin sendiri dengan tangannya.


Meskipun yang ia bawa hanya roti bakar, tapi Ara cukup senang karena ia membuatnya sendiri.


"Bang Narend" panggil Ara menghampiri Narendra yang sedang duduk di taman dengan Vian.


"Hmmm" hanya itu yang keluar dari mulut Narendra.


"Ara bawa bekal untuk bang Narend" ucap Ara sambil menyodorkan kotak bekal yang berisi toti bakar yang di olesi selai kacang kesukaan Narendra.


Bukannya menerimanya, justru Narendra membalasnya dengan kata-kata yang menyakiti perasaan Ara.


"Tak usah repot-repot, karena sampai kapan pun aku tak akan pernah menyukaimu" ucap Narendra dengan wajah datarnya.


Ara menunduk menahan laju air matanya yang mendesak ingin keluar, ia juga menarik kembali tangannya yang memegang kotak bekal untuk Narendra.


Hati Ara merasak sesak seperti tertimpa batu besar yang menekan dadanya, tak cuma sakit hati, Ara juga malu karena Narendra mengucapkan itu di depan Vian.


Ara menguatkan diri agar tak menangis di deoan Narendra, lalu ia mengangkat wajahnya menatap Narendra.


"Maafkan Ara bang, maaf, jika selama ini Ara sudah menganggu dan juga membuat abang tidak nyaman. Ara janji, ini terakhir Ara menganggu abang" ucap Ara sambil tersenyum seolah hatinya baik-baik saja.


"Permisi" pamit Ara dengan tatapan sendu dan pergi meninggalkan Narendra.


Semenjak itu Ara merubah sikap nya, ia tak pernah lagi menemui Narendra, bahkan berpapasan pun Ara tak pernah menegurnya.


Bukan Ara membenci Narendra, ia hanya menjaga jarak saja, agar tak membuat Narendra marah atau risih dengan dirinya.


Ara yang pada saat itu belum begitu paham apa itu cinta, tak membuat ia berlarut larut dalam kesedihan. hanya selang tiga hari saja Ara sudah kembali ceria lagi


*Flasback Off*


Karena masalah itulah, membuat Narendra enggan mendekati Ara, dia merasa malu pada dirinya sendiri.


Padahal Ara nya sudah biasa saja, bahkan ia juga sudah melupakan kejadian itu.


Bersambung


Happy reading guys🙏

__ADS_1


__ADS_2