Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 16


__ADS_3

"Duduklah" titah kepala sekolah, ketika melihat kedatangan Ara dan kedua temannya.


Mereka pun masuk lalu duduk berhadapan dengan kepala sekolah, dan ternyata di ruangan kepsek ada Bella juga dengan temannya.


"Ada apa bapak memanggil kami kemari" tanya Ara to the point. Dia sudah tahu dari kabar berita yang ia dengar di sekolah tentang kepsek yang selalu menggunakan jabatannya untuk membela Bella putrinya.


Bella duduk diam dengan gaya angkuhnya.


"Mana orang tua kalian, kenapa mereka tak kunjung datang ke sekolah" tanya kepala sekolah yang bernama Seno.


"Kenapa bapak tanya sama kami, bahkan kami saja tidak tahu kalau bapak memanggil orang tua kami kesini" jawab Ara merotasi bola matanya jengah.


"Bapak memanggil orang tua kalian, agar orang tua kalian tahu kelakuan anak-anaknya." ucap Seno.


"Jangan bertele-tele pak, langsung saja...katakan tujuan bapak mengundang kami kesini" sahut Indri yang sudah kesal.


"Kenapa kamu merusak mobil Bella,? apa kamu tidak sadar kalau kelakuan mu itu sudah sama seperti preman yang ada di luaran sana, jangan sampai tindakanmu itu mencoreng nama baik sekolah ini." ucap Kepala sekolah kepada Indri dan Marissa.


"Dan bapak kenapa tidak tanya sama Bella, awal mula kenapa kami menghancurkan mobil Bella" sahut Indri tak mau di salahkan. Dia mengakui kalau dirinya salah, tapi bukan berarti dia melepaskan Bella begitu saja.


"Saya ini tanya sama kamu, kenapa kamu malah menyuruh saya bertanya sama Bella" ucap Kepala sekolah yang sudah mulai terpancing emosinya.


"Kalau bapak ingin tahu dan ingin menyelesaikan permasalahan ini, seharusnya bapak tidak mendengarkan secara sepihak, bapak harus mendengarkan kedua belah pihak terlebih dahulu, baru bapak bisa menyimpulkan siapa yang salah dan siapa yang benar.


"Jangan malah seperti ini, yang kesannya bapak hanya menyalahkan kami, tanpa ingin tau alasan kami kenapa sampai kami menghancurkan mobil Bella" bijak Ara


Ucapan Ara membuat Seno bungkam, tapi hanya sesaat, seperti biasa dia akan selalu membela putrinya meskipun salah, dan hal itu semakin membuat Bella besar kepala dan berlaku semena-mena.


"Memangnya apa yang gue lakukan, gue itu tidak sengaja membuat lo jatuh, namanya juga pertandingan, pasti ada insiden yang tidak kita tahu" seru Bella membela diri.


Ara, Indri, Marissa kompak merotasi bola matanya malas, dia kira mereka polos yang tak tahu permainan licik Bella.


"Tapi tindakan kalian tetap salah, kalau Bella salah seharusnya kalian bisa memaafkannya, bukan malah menyerangnya"

__ADS_1


"Dan kamu Ara, kenapa kamu tidak bisa menghentikan perbuatan teman-temanmu itu" lanjutnya menekan Ara.


Ara, Marissa, Indri mengepalkan tangannya erat-erat sambil menghela nafas sabar, untuk menetralkan emosinya , mereka menahan diri agar tidak menyerang kepala sekolah. bagaimana pun juga kepala sekolah tetaplah orang tua yang harus di hormati.


"Lah, saya kan di rumah pak, seharusnya bapak yang menghentikannya, kan bapak yang ada di sekolah, peran bapak sebagai kepala sekolah pun tidak ada. Ada muridnya yang berselisih kok tidak tahu" telak Ara.


"Kerja pak makanya, jangan cuma menikmati gaji dan fasilitas saja, nanti kalau di pecat nangess" sindir Marissa dengan senyum mengejek ke arah kepala sekolah.


Ucapan mereka semakin membuat Seno tak berkutik, pasalnya semua yang mereka ucapkan itu benar adanya.


"Bapak tidak mau tahu, kalian harus mengganti biaya kerusakan mobil Bella yang sudah kalian hancurkan itu," perintah Seno.


"Terus, apakah Bella bisa mengganti kaki Ara yang cidera? " tanya Indri.


"Kalau memang bisa, jangankan untuk mengganti biaya bengkelnya, bahkan untuk membeli yang baru pun kami mampu. Tapi dengan catatan putri bapak harus bisa mengganti kaki Ara yang cidera, minimal sama lah" ucap Marissa yang sudah menghilangkan rasa hormatnya kepada kepsek nya itu.


"Apa kamu gila hah, kamu akan membuat kaki anakku cidera juga begitu? " marah Seno yang sudah mulai kepancing emosinya.


"Maybe" sahut Marissa cuek.


"Keluar kalian semua dari ruangan ini" usir seno.


"Nah begitu dong pak, aturan dari tadi bapak menyuruh kita keluar, kita juga sudah tidak betah di ruangan ini" seru Ara.


Ara bangkit dari tempat duduknya di bantu Indri sama Marissa.


"Ayo guys, kita keluar...ruangan ini membuatku gerah" ajak Ara sedikit memberikan sindiran untuk mereka.


Mereka bertiga akhirnya keluar dari ruangan kepala sekolah, dan meninggalkan Seno yang masih di penuhi amarah.


*


"Kenapa papa malah menyuruh mereka keluar? harusnya papa menekan mereka atau memberi hukuman kepada mereka, bukan malah mengusirnya begitu saja. Jangan bilang papa takut sama anak sopir itu" ucap Bella tidak terima dengan keputusan papanya.

__ADS_1


"Siapa yang kamu bilang anak sopir itu Bella" tanya Seno sambil menautkan keningnya.


"Ara, bukankah dia anak sopir" jawab Bella.


"Jangan asal bicara kamu Bella, kamu salah jika berpikir kalau Ara anak sopir" sentak Seno kepada putrinya.


"Memangnya anak siapa, bahkan tadi Bella lihat kalau dia d antar bapaknya itu" kekeuh Bella.


"Kamu salah Bella, Ara merupakan anak tuan Andre asisten tuan Raka Wijaya sekaligus pemilik perusahaan keluarga Bastian, apa kamu ngerti sekarang hah" ucap Seno.


Kalau ada yang nanya dari mana Seno tahu identitas Ara, tentu saja dari data pribadi murid yang ada di sekolah.


Bella,Silvy, dan Stevi di buat melongo dengan pernyataan Seno, mereka tak menyangka kalau ternyata Ara sekaya itu, tidak sesuai dengan apa yang di perlihatkan selama ini. Meskipun Ara memakai motor mahal, tapi penampilan Ara biasa saja, tidak ada brang branded yang melekat di tubuh Ara.


Kalau Bella pintar tentu saja ia tahu identitas Ara yang bukan dari kalangan menengah kebawah.


Memang dasar Bella kang julid, suka merendahkan orang lain, jadi dia berpikir kalau motor itu di pijamkan oleh majikan orang tuanya.


"Jangan becanda pa, tak mungkin Ara anak tuan Andre" ucap Bella gagap.


"Terserah kamu saja. itu alasan papa kenapa papa tidak bisa menekan mereka terutama Ara" jelas Seno.


"Sekarang kembali ke kelasmu" titah Seno sambil memijit pelipisnya pusing.


Dengan wajah yang masih terlihat linglung mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut.


Bella masih belum percaya dengan identitas Ara, tapi Bella percaya kalau papanya itu tidak akan membohonginya, terlebih papa nya seorang kepala sekolah.


Sudah pasti papanya itu hampir tahu semua identitas asli muridnya. Apa lagi identitas Ara yang tak biasa, sudah pasti papanya akan mengetahuinya.


"Sepertinya kita harus hati-hati dengan mereka Bell, kita tidak boleh ceroboh" ujar Stevi.


"Iya, kita diam saja dulu, jangan membuat masalah sama mereka, biarkan mereka hidup tenang." Sahut Bella.

__ADS_1


Bersambung


Hapoy reading guys🙏


__ADS_2