Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 21


__ADS_3

"Apa abang sedang cemburu melihat kedekatan Ara sama Aciel" tanya Ara.


Narendra merasa gugup mendengar pertanyaan dari Ara, mau bilang iya, tapi takut di tertawakan Ara.


"Ck, siapa juga yang cemburu" sanggah Narendra.


"Terus kenapa dari tadi abang bahas masalah Aciel? itu namanya cemburu bang, bang Narendnya aja malu mengakuinya" ucap Ara.


Ars semakin gencar menyudutkan Narendra, dia juga ingin tahu perasaan Narendra kepadanya.


"Apa sekarang abang sudah mulai suka sama Ara hmmm" goda Ara sambil memainkan kedua alisnya.


"percaya diri sekali kamu" sahut Narendra sambil menekan gemas kepala Ara.


Ara mengerucutkan bibirnya kesal, Narendra terkekeh melihatnya.


"Bilang iya aja napa sih bang, biar Ara nya seneng" cebik Ara. lalu melengoskan wajahnyanya.


Ara baru sadar kalau jalan yang mereka lalui bukan menuju rumahnya, melainkan menuju ke tempat lain


"Abang, ini kan bukan jalan ke rumah Ara" protes Ara.


Narendra hanya mengendikkan bahunya acuh.


"Ini namanya penculikan, nanti Ara bisa laporkan abang ke kantor polisi" cerocos Ara tak mau diam membuat Narendra pusing.


"Kamu ini bisa diam tidak, dari tadi ngoceh mulu" omel Narendra.


"Terus Ara harus apa?" tanya Ara polos.


"Tidur kek, ngapain kek, yang penting tidak berisik, menganggu konsentrasi saja" jawabnya ketus.


Ara mendengus mencebik kesal, lalu Ara bersandar ke kursi sandaran sambil memiringkan duduknya membelakangi Narendra.


Dan tak lama Ara pun terlelap di dalam mobil. Mobil yang Narendra kemudikan akhirnya sampai di rumahnya.


Entah Narendra punya maksud apa membawa Ara ke rumahnya.


Narendra mematikan mesin mobilnya, lalu menoleh ke samping melihat Ara yang masih betah membelakanginya.


"Ara, ayo turun... kita sudah sampai" ucap Narendra.


Namun tidak ada sahutan dari Ara, ia masih setia di dalam mimpinya.


karena tak mendapat balasan dari Ara, Narendra menarik pelan bahu Ara.


"Ck, pantas saja tidak menyahut, ternyata dia tertidur" gumam Narendra terkekeh.

__ADS_1


Narendra menatap wajah terlelap Ara dengan begitu intens, ia menyingkirkan rambut Ara yang menutupi setengah wajahnya.


"Cantik"


Narendra menggelengkan kepalanya, menepis semua yang ada di pikirannya.


Lali dia keluar dari mobil, setelah itu ia berjalan memutari mobil, dan membuka pintu mobil untuk Ara.


Narendra menundukkan tubuhnya untuk membuka seatbelt Ara.


"Abang mau ngapain?" tanya Ara terkejut


Ara terkejut ketika membuka matanya malah ada wajah Narendra yang begitu dekat dengan wajahnya.


Narendra reflek menoleh melihat wajah Ara yang baru bangun tidur, kedua mata mereka saling menatap satu sama lain. membuat jantung keduanya berdegub. kencang seperti habis lari marathon.


"Awww..." risngis Narendra sambil mengusap kepalanya.


Narendra yang salah tingkah membuat dirinya langsung menegakkan tubuhnya, dia lupa kalau setengah dari tubuhnya masih berada di dalam mobil, dan alhasil kepalanya kejedot pintu mobil.


Narendra keluar dari mobil sambil mengusap kepalanya yang habis kejedot.


"Hufff.... jantung lo bisa diem kagak sih," Ara memgangi dadanya sambil memarahi jantungnya yang masih jedag jedug.


Narendra melirik Ara yang masih saja terdiam di dalam mobil.


"Sampai kapan kamu akan berdiam diri di dalam situ Ara" ucap Narendra membuat Ara tersadar.


Narendra membantu Ara keluar dari dalam mobil, setelah Ara keluar mereka berdua berjalan bersama masuk kedalam rumah.


"Selamat siang aunty Alana, Ara cantik datang ini" teriak Ara ketika sudah berada di dalam rumah Narendra.


Narendra langsung menutup ke dua telinganya.


"Berisik Ara, rumah aunty bukan hutan jadi jangan teriak-teriak" tegur Alana yang baru saja menuruni tangga.


Ara cengengesan menatap Alana.


Alana mengerutkan dahinya melihat Ara yang pakai tongkat.


"Tumben kamu kesini Ra?, itu kenapa kamu pakai tongkat segala Ra?" tanya Alana kepada anak sahabatnya itu.


"Ara kesini karena di culik sama bang Narend, kalau kaki Ara, biasalah aunty.... Ara kan jagoan jadi ya begini deh kaki Ara" jawab Ara ngasal.


Alana menggeleng gelengkan kepalanya.


"Ara lapar aunty, aunty punya makanan ngga" keluh Ara tak punya malu.

__ADS_1


Tapi ini yang Alana suka dari Ara, pembawaannya yang ceria selalu membuatnya terhibur.


"Ck, di culik doang tapi ngga di kasih makan, besok lagi jangan mau" sindir Alana sambil melirik ke arah putranya.


"Sebenarnya Ara ngga mau aunty, tapi kan yang nyulik ganteng, jadi Ara pasrah aja" sahut Ara tertawa kecil.


"Ganteng doang tapi tidak punya uang buat apa Ara, ya kali mau makan ganteng doang, mana kenyang" mereka berdua malah menyudutkan Narendra.


Narendra menghela nafas sabar.


"Mau makan apa?" tanya Narendra yang sudah tidak kuat di sindir merka berdua.


"Sepertinya harus di sindir dulu aunty, biar di tawarin makan" kata Ara.


Narendra merotasi bola matanya malas.


Narendra mengambil ponselnya, lalu memesan makan kesukaan Ara via online.


Tak butuh waktu lama makanan yang di pesan Narendra akhirnya datang.


"Ini makan" ucap Narendra sambil menaruh kantong makanan di depan Ara.


Ara membulatkan matanya, ternyata bukan sekedar omongan doang, Narendra beneran membelikan makanan untuknya.


Alana tersenyum tipis melihat tingkah putranya yang malu-malu, sebagai orang yang sudah dewasa dan sudah menjadi emak-emak, tentu Alana tahu gelagat putranya itu.


"Kok Ara doang yang di beliin bang, terus punya Nay mana?" protes Nayla yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Beli sendiri" sahut Narendra, setelah itu berlalu pergi ke kamarnya, untuk ganti baju.


Nayla mengerucutkan bibirnya.


"Sebenarnya yang adiknya itu siapa sih, kenapa malah lebih perhatian sama Ara ketimbang adik sendiri, dasar aneh" gerutu Nayla sambil duduk di samping Ara yang sedang makan.


"Aaaaa... " perintah Ara kepada Nayla.


Nayla langsung membuka mulutnya, lalu Ara memasukkan makanan kedalam mulut Nayla.


"Makan, jangan mengoceh terus" ucap Ara terkekeh


Bersambung


Jangan lupa


Like


Koment

__ADS_1


Vote


Happy reading guys🙏


__ADS_2