
"Tumben abang pagi-pagi kesini, ada apa?" tanya Ara yang baru saja memasuki ruang tamu bersama Aciel.
Narendra yang sedang menunduk pun menoleh melihat Ara, dia kaget ternyata Aciel juga berada di rumah Ara.
"Shittt, ternyata anak ini sudah lebih dulu sampai sini,tapi aku tak boleh kalah begitu sjaa dengannya" kesal Narendra dalam hati.
"Aku kesini untuk menjemputmu" sahut Narendra.
"Kan Ara tidak bilang minta di jemput" kata Ara seraya mengerutkan dahinya.
Aciel menggaruk kepalanya bingung, dia tidak tahu kalau Narendra juga ternyata akan menjemput Reva juga.
"Kamu berangkat sama bang Narend aja Ra, biar aku pakai mobil sendiri" pinta Aciel yang merasa tidak enak dengan Narendra.
"Tidak, aku akan berangkat dengan sopirku" tolak Ara, ia memilih pergi dengan sopirnya ketimbang menyakiti salah satunya.
Sebenar kalau di suruh memilih sudah pasti Ara akan memilih Aciel, karena Aciel yang lebih dulu sampai kerumahnya.
Tapi dia juga tidak mau membuat Narendra kecewa, jadi dia menuruti saran dari maminya itu.
Narendra menghela nafas sabar, meskipun dia kecewa mendengar keputusan Ara, tapi dia mengerti posisi Ara, mungkin kalau dirinya di posisi Ara, dia juga akan melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Mereka bertiga keluar dari rumah Ara, dan masuk kedalam mobilnya masing-masing. Mobil mereka bertiga melaju menuju ke sekolah.
Sedangkan di rumah ara, Chika merasa heran dengan perubahan Narendra terhadap putrinya, yang ia tahu putra sahabatnya itu selalu menghindari jika di dekati Ara.
"Kamu merasa aneh dengan Narendra tidak sih pi? tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba kok jemput Ara sekolah" kata Chika.
"Aku sama-sama laki-laki sayang, sudah pasti aku tahu perubahan Narendra itu" sahut Andre.
Andre bisa menilai perubahan sikap Narendra kepada putrinya, sekarang Narendra yang lebih dulu dekati Ara, tidak seperti dulu Ara yang selalu mendektinya, namun Naredra selalu menghindar.
"Apa memangnya?" tanya Chika penasaran.
"Apa lagi kalau bukan masalah hati sayang, hanya perkara waktu saja, Narendra pasti akan ngungkapin perasaanya sama Ara" ujar Andre sambil mengelap mulutnya dengan menggunakan tissu.
Memang benar apa yang di ucapkan Chika, tapi bukankah seirirng berjalannya waktu hati seseorang akan berubah, terlebih Narendra yang masih remaja labil, sudah pasti akan berubah ubah.
"Terserah mami saja mau percaya sama papi atau tidak. Papi berangkat ke kantor dulu mi" kata Andre dan pamit kepada istrinya.
Andre mencium kening serta bibir istrinya, dia hari ini tidak mengantar Shaka ke sekoalh, kebetulan Shaka tadi sudah berangkat duluan bersama sopirnya.
*
__ADS_1
Sedangkan di sekolah, mobil mereka secara bersamaan tiba di sekolah, mereka bertiga menjadi pusat perhatian dari Fans Aciel dan juga Narendra.
"Ck, pasti mereka akan memusuhiku kalau aku berjalan bersama Aciel dan bang Narendra, lebih baik aku tunggu di mobil dulu aja nunggu mereka berdua masuk dulu" Ara bermonolog.
Dia terlalu malas menjadi bahan guncingan para fans mereka berdua, udah bener Bella tak mengusiknya. Jangan sampai ada musuh baru lagi yang akan membuat hidupnya rumit.
Tok
Tok
Tok
"Ayo turun" ajak Narendra.
Ara menurunkan kaca jendelanya.
"Abang jalan duluan saja sama Aciel, Ara belakangan saja" kata Ara.
"Bareng aja sekalian, sebentar lagi guru mau masuk" ucap Narendra sedikit memaksa.
"Tidak mau, lagian tujuan kelas kita kan berbeda" tolak Ara kekeuh, kakinya belum sembuh sepenuhnya, jangan sampai ada yang ngajak gelut cuma memperebutkan Narendra.
__ADS_1
Bersambung