Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 20


__ADS_3

Setibanya di kantin Indri langsung memesan makanan untuk mereka. Sedangkan yang lain mencari meja kosong untuk mereka tempati.


Aciel membantu menarik kursi buat Ara duduki.


"Terima kasih ciel" ucap Ara dengan wajah di buat seimut mungkin, lalu mendudukan dirinya di kursi tersebut.


"Sama-sama" sahut Aciel seraya mengacak acak rambut Ara gemas.


Hal itu justru membuat Ara jengkel.


"Kau membuat rambutku berantakan," ketus Ara sambil merapihkan rambutnya.


Aciel terkekeh lalu menghampiri Indri yang tengah kesulitan membawa makanan untuk mereka.


"Sini gue bantu Ndri" tawar Aciel.


Indri mengangguk lalu memberikan nampan yang berisi minuman kepada Aciel.


"Terima kasih, jadi makin sayang" goda Indri dengan suara genitnya, membuat Aciel jengah.


"Dasar gila" decih Aciel sambil berjalan membawa nampan.


"Biarin saja gila, yang penting gue tetap cantik, " ucap Indri dengan percaya diri.


Aciel geleng-geleng kepala.


"Sepertinya gue salah memilih teman" gumam Aciel


Indri terkekeh sambil menyusul Aciel ke meja dimana sahabatnya berada.


Mereka mulai memakan makanan yang mereka pesan, di sela-sela makannya mereka terus ngobrol dan bercanda, membuat suasana di meja semakin ramai.


Sedangkan di sudut yang lain, Bella dan kedua temannya berjalan mendekati meja Narendra yang sedang duduk dengan Vian.


"Boleh kita gabung" tanya Bella kepada Narendra.


"Hmm," gumam Narendra seraya matanya tak pernah lepas menatap Ara.


Dengan wajah berbinar Bella langsung duduk di hadapan Narendra, ia tak mau menyianyiakan kesempatan untuk mendekati Narendra, kapan lagi Narendra mengijinkan dirinya duduk bersama satu meja.


"Nar, setelah lulus lo mau nerusin kuliah dimana" tanya Bella mulai obrolannya.


"Tidak tahu" jawab Narendra dengan wajah datarnya.


"Bagaimana kalau satu kampus denganku saja" tawar Bella, dia berusaha mengakrabkan diri dengan Narendra.


Narendra hanya menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak mau.

__ADS_1


Bella melihat ke arah tatapan mata Narendra, pasalnya sejak tadi ia mengajak berbicara sama dengannya, Narendra tak sedikit pun menatap ke arahnya, ia justru menatap ke arah lain.


"Kenapa Narendra terus melihat Ara ya, apa mungkin Narendra menyukai Ara?" batin Bella bertanya-tanya.


Narendra yang melihat Ara pergi pun, dia mengajak Vian untuk masuk ke kelasnya.


"Ayo ian, kita ke kelas, bosen gue di sini" ajak Narendra.


"Ayo lah, gue juga sudah malas kelamaan di sini" sahut Vian sambil melirik ke arah Bella.


Dari awal Vian sebenarnya tidak setuju Bella bergabung di mejanya, dia dari dulu tidak suka dengan Bella, terlebih sikap Bella yang sombong dan arogan itu, tapi Narendra yang sedang tidak fokus malah mengijinkannya begitu saja.


Akhirnya Vian mengikuti Narendra kembali ke kelasnya.


Sedangkan di meja Bella sedang mengumpat kesal.


"Sial, susah sekali di ajak ngobrol" umpat Bella ketika Narendra tak banyak merespon dirinya.


"Lo harus sabar Bell, yang penting lo jangan pernah menyerah mendekati Narendra. gue yakin suatu saat pasti Narendra akan bertekuk lutut sama lo" kata Stevi mmeberikan semangat kepada temnnya. Silvy mengangguk tanda setuju dengan ucapan Stevi.


Bella menghela nafas sabar, dia harus sabar demi tujuannya. Setelah itu mereka juga pergi dari kantin menyusul Narendra, kebetulan jam istirahat juga sudah habis.


Tiba jam pulang sekolah, Ara yang sedang berada di parkiran, tiba-tiba ponsel Aciel berbunyi.


Aciel melihat layar ponselnya, ternyata nama ibunya yang tertera di layar.


Ara menunggu Aciel yang sedang mengangkat telpon sambil bersandar di mobil Aciel, Karena Marissa dan Indri sudah pulang lebih dulu.


"Maaf Ra, gue ngga bisa mengantar lo pulang, nyokap gue minta di antar ke rumah sakit. gue pesenin lo taksi aja ya" ucap Aciel yang baru saja selesai mengangkat dari ibunya.


kebetulan ibu Aciel berprofesi sebagai dokter kandungan di sebuah rumah sakit swasta milik keluarganya, sedangkan ayahnya sebagai pengusaha properti.


"Tak apa, aku ngerti kok" kata Ara.


"Ayo gue antar ke depan dulu, gue temenin sampai lo dapet taksi" ajak Aciel.


"Tak usah, biar gue yang antar Ara pulang" ucap seseorang tiba-tiba dari arah belakang


Ara dan Aciel menoleh ke asal suara, dan ternyata Narendra yang baru saja datang di parkiran sekolah.


"Lo tak apa Ra pulang sama dia?" tanya Aciel.


Sebelumnya Aciel sudah tahu kalau Narendra mengenal Ara, karena pada waktu itu Narendra orang pertama yang menolong Ara ketika mengalami insiden tempo hari.


"Gak apa-apa lah, yang penting geratis... kan gue tidak bawa uang saku" kata Ara.


"Jangan kek orang susah, kan lo bisa bayar taksi di rumah, lagian gue juga bisa bayarin lo taksi" ucap Aciel.

__ADS_1


"Yee, sayang Ciel, kalau ada yang geratis kenapa harus milih yang bayar"


"Iye, kalau begitu hati-hati, gue cabut dulu" pamit Aciel seraya mengacak rambut Ara, dan berlalu masuk kedalam mobil.


Sepertinya mengacak rambut Ara sudah menjadi hoby baru Aciel.


Sedangkan Narendra sejak tadi memegang dadanya yang terasa nyeri akibat melihat kedekatan Aciel dan Ara.


"Kenapa dada gue terasa sakit, tiap kali melihatnya berdekatan dengan pria lain" batin Narendra.


"Ayo bang pulang" ajak Ara langsung masuk kedalam mobil Narendra begitu saja.


Ajakan Ara membuat Narendra tersadar dari lamunannya, dia menyusul Ara masuk kedalam mobilnya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, di dalam mobil hanya ada keheninggan, mereka berdua sama-sama tak mau memulai obrolan terlebih dahulu.


Narendra yang penasaran dengan kedekatan Ara dengan Aciel akhirnya memulai obrolan terlebih dahulu.


"Sepertinya dia sedang mendekatimu" ucap Narendra memecah keheningan di antara mereka berdua.


"Kita memang dekat, kan dia teman sekelas Ara" sahut Ara sambil menatap lurus ke depan.


"Apa kamu tak merasa kalau dia menyukaimu" ucap Narendra semakin ingin tahu hubungan mereka berdua.


"Tidak, karena kita sudah terbiasa seperti itu" sangkal Ara.


Memang kedekatannya dengan Aciel hanya sebatas teman, tidak lebih.... mereka berempat memang suka bercanda seperti itu, bahkan Indri juga suka merayu Aciel dan terkadang Aciel juga suka meladeni kegilaan Indri itu.


Jadi kalau orang yang tidak tahu pasti tahunya mereka pacaran, tapi kalau teman satu kelasnya biasa aja, karena mereka semua tahu kesomplakan mereka berempat.


"Jangan seperti itu, bisa saja dia salah paham sama kamu" ucap Narendra.


Ara memicingkan matanya melihat wajah Narendra.


"Apa abang sedang cemburu melihat kedekatan Ara sama Aciel" tanya Ara.


Bersambung


Jangan lupa like


koment


vote


gift


Happy reading guys🙏

__ADS_1


__ADS_2