
Ara langsung di tangani oleh dokter, sedangkan Narendra menunggu di luar ruangan bersama Indri dan juga Marissa.
Dari kejauhan terlihat Nayla dan Chika yang berlari sambil menggandeng tangan Shaka
Sebelum menyusul abangnya ke rumah sakit, Nayla menghubungi Chika terlebih dahulu, dan ternyata mereka secara bersamaan tiba di rumah sakit.
"Narendra, gimana keadaan Ara nak" tanya Chika dengan nafas ngos-ngosan karena lari.
"Ara sedang di tangani dokter di dalam aunty" jawab Narendra.
"Ya ampun bagaimana caranya anak itu bisa celaka seperti ini" ucap Chika tak habis pikir dengan putri barbarnya itu.
Chika duduk di ruang tunggu sambil memangku Shaka.
"Ara sengaja di jegal oleh Bella kakak kelas kami aunty" adu Marissa.
"Itu pasti musuhnya kak Ara di sekolah Mi, makanya dia jegal kaki kak Ara" timpal Shaka sok tahu.
"Bocil ngga usah ikutan" ejek Nayla. membuat Shaka memanyunkan bibirnya.
Tak lama dokter membuka pintu ruangannya.
"Orang tua Ara" tanya dokter.
"Saya dok, bagaimana keadaan putri saya dok" jawab Chika seraya beranjak dari tempat uduknya, lalu mendekati sang dokter.
"Tidak usah khawatir bu, anak ibu hanya kesleo saja, dan sekarang pun anak ibu sudah bisa di bawa pulang" jelas dokter sambil tersenyum manis.
"Syukurlah kalau begitu, terima kasih dok" ucap Chika lega.
Chika dan yang lainnya langsung masuk kedalam ruangan Ara.
Terlihat Ara sedang berbaring dengan kaki yang di perban menggunakan perban elastis, untuk membatasi pergerakan kaki. Membalut perban dapat di lakukan di antara jari kaki, telapak tangan, naik ke arah tumit hingga pergelangan kaki.
"Mami, kaki Ara sakit" rengek Reva ketika melihat Chika masuk.
"Cuma kesleo kak, bukan patah tulang... setidaknya dengan kejadian ini kamu lebih banyak diam di rumah" ujar Chika.
"Mi, Ara ini habis kena musibah, kenapa mami malah senang melihat anaknya sakit" kesal Ara.
__ADS_1
"Dasar mak tidak punya akhlak" gerutu Ara dalam hati.
"Tentu saja mami seneng, jadi kan sementara ini kamu tidak bisa klayapan keluar rumah" ucap Chika.
"Boleh di return ngga sih mak gue, punya mak gini amat...bukannya sedih melihat anaknya celaka, ini malah seneng" dumel Ara.
Indri menyentil kening Ara.
"Sssttttt.... sakit bo*oh" umpat Ara seraya mengusap keningnya.
"Siapa suruh kurang ajar sama orang tua, itu mami lo Ara, bisa-bisanya mau di retur. pingin di kutuk lo sama tuhan" omel Indri.
"Aku setuju sih sama ucapan mami lo Ra, mungkin ini karma untuk lo karena sering kluyuran" timpal Marissa.
"Hei asal lo tahu, gue klayapan juga perginya sama lo pada, pakai sok-sokan nasihatin gue. ini tuh bukan karma, dasar boneka Anabell nya aja sirik sama gue" ucap Ara tidak terima.
Chika memutar bola matanya jengah.
"Sudah ayo Nay, kita pulang" ajak Chika sekian menghentikan perdebatan mereka.
Chika merangkul tangan Nayla dan juga Shaka.
"Iya mama, Ara kan tidak bisa jalan, mama tega banget sih mau tinggalin Ara" rengek Ara.
"Kan tadi kamu ke rumah sakit di gendong sama bang Narend Ra, sekarang kamu minta gendong lagi aja, suruh nganterin sampai rumah" sahut Nayla tersenyum mengejek ke arah kembarannya.
Tanpa banyak omong, Narendra langsung mengangkat tubuh Ara dari brankar rumah sakit.
Narendra keluar dari ruangan sambil menggendong Ara ala bridal style.
"Abang, kenapa abang gendong Ara, kan ada kursi roda" protes Ara sambil berontak di gendongan Narendra.
"Diam, nanti kamu jatuh" tegas Narendra.
Ara langsung bungkam, tak berani protes.
"Cie... yang di gendong abang ganteng, gue mau dong bang, di punggung juga gak apa-apa" goda Indri.
Ara yang malu langsung menduselkan wajahnya ke dada Narendra.
__ADS_1
Sedangkan yang lain langsung tertawa melihat wajah Ara yang memerah karena malu.
"Cepat bang jalannya, Ara malu" pinta Ara.
Tanpa sadar Narendra tersenyum tipis melihat tingkah lucu Ara.
Narendra mempercepat langkahnya sesuai kemauan Ara. Dia keluar dari rumah sakit lalu menuju ke tempat parkir mobilnya.
"Buka pintunya Ra" titah Narendra.
Ara pun langsung membuka pintu depan.
Setelah terbuka, Narendra langsung mendudukan tubuh Ara di kursi sebelah kemudi. kemudian dia memasangkan seatbelt di tubuh Ara.
Bugh
Usai memasangkan seatbelt, Narendra langsung menutup pintu, kemudian dia mengitari mobil lalu masuk dan duduk di kursi kemudi.
Narendra mulai menyalakan mesin mobilnya, setelah itu dia menginjak pedal gas, dan secara perlahan mobil mulai menjauh dari area Rumah sakit.
Sedangkan di parkiran Indri dan Marissa di buat jengkel, pasalnya tadi dia ke rumah sakit nebeng mobilnya Narendra, dan sekarang dia bingung balik ke sekolahnya, pasalnya mereka juga tidak bawa uang sepeserpun, ponsel pun mereka tak bawa.
"Kalian kenapa" tanya Nayla.
"Kita bingung pulang ke sekolahnya kak, kita kan tadi ngga sempet ambil uang sama ponsel dulu" jawab Indri lesu.
"Kalian ikut aku saja, aku juga mau balik ke sekolah" ajak Nayla.
"Serius tak apa kak" tanya Indri memastikan.
"Iya ayo" jawab Nayla.
Mereka berdua pun langsung bergegas masuk ke mobil Nayla.
Sedangkan Chika dan Shaka sudah pulang juga bersama sopirnya.
Bersambung
Hapoy reading guys🙏
__ADS_1