
Sebulan berlalu akhirnya Narendra pulang ke tanah air, Narendra merahasiakan kepulangannya dari sang kekasih.
Di sini lah Narendra berada, setelah dari bandara dia meminta sopirnya untuk langsung kesekolahan Ara untuk menjemputnya.
Dari kejauhan terlihat Ara dan teman-temannya baru saja keluar dari dalam kelasnya.
Narendra keluar dari mobilnya dan bersandar di depan mobil dengan menggunakan kaca mata hitam sambil menatap Ara dari kejauhan.
"Ra, bukannya itu kak Narend ya" tunjuk Marissa kearah Narendra yang sedang berdiri di depan mobilnya.
"Jangan halu Mar, pacar gue sedang di Inggris noh" sahut Ara tak mau melihat ek arah yang di tunjukkan Marissa.
"Marissa tidak halu Ra, sepertinya yang di katakan Marissa benar Ra" timpal Indri sambil mengamati Narendra dari kejauhan.
"Lo jangan ikut-ikutan halu kek Marissa Ndri, biarin aja dia gila lo jangan ikut gila" kekeuh Ara tak percaya dengan ucapan mereka.
Marissa yang gemeas langsung memegangi kepala Ara dan mengarahkannya ke arah Narendra yang sedang berdiri.
"Noh lihat, siapa yang halu sekarang" ucapa Marissa sambil memegangi kepala Ara supaya tidak bergerak-gerak.
"Bang Narend" lirih Ara.
Dia mengucek ngucek matanya, takut kalau dirinya juga ikut halu kek kedua sahabatnya, dia menguceknya dan membuka matanya.
"Masih sama" ucap Ara.
Dia kembali menepuk-nepuk pipinya untuk memastikan kalau dirinya tidak mimpi.
"Astaga Ara, kamu ini kenapa sih, udah jelas-jelas itu yang di depan Kak Narend masih aja tidak percaya." kesal Indri.
"Cubit aku Ndri cubit" pinta Ara konyol.
Indri pun langsung mencubit kedua pipi Ara gemas.
"Awwww...." teriak Ara kesakitan karena Indri mencubitnya dengan keras hingga pipinya memerah.
"Ini namanya kekerasan dalam pertemanan Ndri" sungut Ara memegangi kedua pipinya
"B*do amat" ketus Indri.
"Huwaaa....ayang pulang" teriak Ara girang lalu dia berlari menghampiri Narendra.
Indri dan Marissa merotasi bola matanya malas melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Narendra merentangkan kedua tangannya ketika melihat Ara berlari kerahnya.
"Abang..." teriak Ara sambil lari, Narendra tersenyum manis melihat sang kekasih begitu bahagia karena kedatangannya.
Happ......
Saat sudah dekat, Ara lansung menubruk tubuh Narendra.
"Hahahaha....ternyata Ara tidak mimpi, Ara kira mata Ara salah lihat" ucap Ara sambil tertawa girang di pelukan Narendra.
"Mata kamu tidak salah lihat sayang, aku memang sengaja memberi kejutan untuk" sahut Narendra.
__ADS_1
"Dan abang berhasil membuatku terkejut" ujar Ara.
Narendra melepaskan pelukannya pada tubuh Ara. Lalu menatap wajah Ara sambil merapihkan tambut Ara yang berantakan.
"Ayo pulang" Ajak Narendra.
"Tapi Ara bawa motor bang" sahut Ara.
"Kalau begitu kita naik motor aja, biar sopir abang pulang sendiri" ucap Narendra di balas anggukan oleh Ara.
Narendra menoleh kearah sang sopir.
"Bapak pulang duluan saja, nanti bilang sama mamah kalau Narend pulang sama Ara naik motor" ucap Narendra kepada sang sopir.
"Baik den" sahut sang sopir.
Sopir Narendra pun pulang duluan dan mereka berdua langsung menuju ke tempat parkir untuk mengambil motor Ara.
Terlihat di parkiran ada Marissa, Indri dan Aciel sedang ngobrol.
"Hai guys, gue pulang dulu ya sama ayang" ucap Ara dengan gaya tengilnya, membuat mereka semua melengoskan wajahnya males.
Narendra menyapa mereka dengan hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayo naik" titah Narendra sambil menoleh kebelakang.
Ara pun naik ke atas motor di bonceng Narendra.
"Pegangan biar ngga jatuh" ucap Narendra sambil menarik tangan Ara dan Ara pun melingkarkan kedua tangannya di perut Narendra.
Ara menoleh kebelakang sambil melambaikan tangannya kepada sahabatnya, Mereka bertiga pun membalas lambaian tangan Ara.
Tak sampai satu jam mereka sampai di mansion keluarga Wijaya.
Narendra dan Ara turun dari atas motor lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum calon mertua..." teriak Ara memenuhi rumah Raka.
Narendra menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ara yang tak pernah berubah, dia masih suka berteriak ketika datang kerumahnya.
"Waalaikum salam calon mantu" sahut Alana membalas ucapan Ara.
Alana menghampiri Ara dan menciumi wajah Ara.
Narendra mencebikkan bibirnya sebal,dia berasa anak yang tak di anggap, padahal dirinya baru juga pulang dari luar negeri tapi mamahnua seolah tidak kangen dengannya.
"Khemmm...." dehem Narendra menyadarkan mereka berdua.
"Yang anak mamah sebenarnya siapa sih, aku atau Ara kenapa malah lebih dulu menyambut Ara bukan Narend" ucap Narendra cemburu.
Dalam hatinya dia merasa senang melihat mamahnya dan juga kekasihnya begitu akrab.
"Ehh...anak mamah ternyata sudah pulang" ucap Alana membuat Narendra menghela nafas panjang.
Kenapa mamahnya hanya biasa saja menyambut kepulangannya, padahal dia bukan pulang dari luar kota melainkan dari luar negeri, apa di tinggal beberapa bulan membuat mamahnya lupa dengan dirinya, apa mamahnya tidak merindukannya? batin Narendra.
__ADS_1
Terlihat Raka turun dari atas tangga, kebetulan hari ini di cuti tidak masuk kerja karena ingin menyambut kepulangan putranya.
"Apa kabar son" sapa Raka sambil memeluk tubuh putranya.
"Narend baik pah" sahut Narendra membalas pelukan papahnya.
Mereka berdua melerai pelukannya.
"Bang Narend" teriak Nayla yang baru saja pulang dari kampusnya.
Dia berjalan cepat mendekati kakaknya.
Brughh....
Nayla menubruk tubuh kakaknya, membuat Narendra mundur beberapa langkah, untung mereka berdua tidak jatuh.
"Nay kangen sama abang" ucap Nayla sambil memeluk kakaknya.
"Tapi sayangnya abang tidak kangen sama kamu" goda Narendra langsung mendapat pukulan dari Nay.
"Jangan pukul pacar aku kak Nay" ucap Ara tak terima melihat Narendra di pukul oleh Nayla.
Nayla mendengus kesal melihat kebucinan mereka berdua.
Narendra tersenyum puas karena dapat pembelaan dari wanitanya.
"Ayo duduk, ada yang ingin papah bicarakan sama kamu dan Ara" ucap Raka menyuruh mereka semua duduk.
Ara menatap Alana minta penjelasan, namun Alana hanya mengendikkan bahunya tak tahu.
"Ada apa bang, apa jangan-jangan om Raka meminta kita untuk putus" bisik Ara di telinga. Narendra.
"Tidak mungkin papah akan melakukan itu, aku malah lebih curiga kalau kita berdua di suruh nikah" balas Narendra lirih.
"Kalau itu mah gas bang" ucap Ara girang sambil memperlihatkan deretan giginya.
Narendra memiting kepala kekasihnya gemas.
"Hahah...bang bau" teriak Ara sambil tertawa.
"Sembarangan kalau ngomong, mana ada ketek aku bau" ucap Narendra tak terima.
Alana dan Raka tersenyum melihat putranya yang kini berubah menjadi lebih banyak omong ketika bersama Ara, sepertinya keputusan Raka untuk menikahkan mereka sudah benar.
Mereka semua duduk di ruang tamu,semua mata tertuju pada Raka, mereka menunggu apa yang ingin Raka katakan kepada Narend dan Ara.
"Papah ingin kalian berdua bertunangan" ucap Raka membuka suara.
"Gass....om" teriak Ara membuat mereka semua melongo.
Bersambung
Jangan lupa koment, vote gift, biar othor semangat up nya guys🙏
Happy reading guys🙏
__ADS_1