Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 45


__ADS_3

"Gass....om" teriak Ara membuat mereka semua melongo.


Mereka berempat tak menyangka kalau Ara ternyata justru sangat antusias dengan ide Raka yang ingin mereka bertunangan.


"Dasar Ara, kamu ini masih sekolah Ra kamu juga masih di bawah umur, memangnya kamu tidak malu sama teman-temanmu kalau ketahuan sudah bertunangan dengan Bang Narend" cetus Nayla heran dengan jalan pikiran Ara.


"Kan cuma tuanangan aja, nanti nikahnya kalau Ara sudah umur 17th. Ngapain Ara mesti malu Ara yakin kalau di luaran sana banyak wanita yang ingin menjadi istri bang Narend, memangnya siapa yang tidak mau jadi menantu keluarga Wijaya, pasti semua wanita akan berebut untuk menjadi menantu di keluarga ini.


"Maka dari itu Ara harus menyelamatkan keluarga ini dari wanita-wanita di luaran sana yang haus akan harta, kalau Ara tidak butuh harta Ara cuma butuh bang Narend selalu mencintai Ara, itu saja sudah cukup tidak di kasih makan tidak apa-apa karena papi Ara sudah kaya" ucap Ara panjang lebar.


Mereka menganga mendengar ucapan Ara yang panjang kali lebar kali tingga, gadis muda itu hanya berpikir kalau orang menikah itu cuma karena cinta saja, dia tidak tahu aja kalau cinta itu tidak akan membuat perutnya kenyang.


Dan apa lagi tadi katanya dia ingin menyelamatkan harta keluarga Wijaya dari perempuan matre di luaran sana, ingin rasanya Raka dan Alana tertawa keras bagaimana bisa Ara mempunyai pikiran seperti itu.


"Kenapa kalian pada diam, memangnya ucapan Ara ada yang salah ya?" tanya Ara bingung.


Narendra mencubit kedua pipi Ara gemes.


"Kamu ini kenapa crewet sekali, memangnya siapa yang berani menggeser posisimu" ucap Narendra gemas.


"Hahahah....tidak akan ada yang berani, kalaupun ada nanti orang itu akan hilang dari bumi ini" ucap Ara sambil tertawa.


"Kau membuatku takut Ra" timpal Nayla bergidik ngeri.


"Kenapa kak Nay takut, memangnya siapa yang ingin menghilangkan kak Nay dari bumi ini" ucap Ara mengerutkan dahinya.


Nayla hanya mengendikan bahunya malas, niatnya dia hanya bercanda saja.


Raka dan Alana menghela nafas panjang.


"Jadi kalian berdua setuju" tanya Raka kepada Narendra dan Ara.


"Terserah bang Narend aja om, Ara sebagai wanita hanya bisa menurut saja, kalau di nikah ayo kalau ngga ya Ara cari lagi" ucap Ara tanpa beban.


Mendapatkan pelototan langsung dari Narendra. Ara membalasnya dengan cengiran dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Narend setuju aja pah, tapi memangnya apa alasan papah menyuruh kita untuk tunangan?" sahut Narendra penasaran dengan permintaan orang tuanya yang tiba-tiba.


Sebelum menjawab Raka menarik nafas dulu lalu menghembuskannya.

__ADS_1


"Orang tua Bella datang ke perusahaan papah, dan meminta papah untuk menjodohkan kamu dengan putrinya" jawab Raka.


"Bella anak kepala sekolah di sekolahan kita" tanya Nayla memastikan.


"Iya, pak Seno itu menemui papah di kantor sebulan yang lalu" sahut Raka.


"Ck, boneka Anabell lagi, dia menggunakan orang tuanya untuk mendapatkan kamu bang" decak Ara kesal.


"Biarin aja, yang penting aku maunya sama kamu kan, bukan sama yang lain" gombal Narend.


"Jiahhh...sekarang sudah bisa menggombal" seru Ara membuat Narendra malu.


Bukan Ara yang malu karena di gombali Ara tapi justru Narendra yang malu sama respon kekasihnya itu.


Mereka semua tertawa melihat Narendra yang malu-malu, jarang sekali melihat Narendra seperti itu.


"Nanti kita akan bicarakan terlebih dahulu dengan kedua orang tuamu Ara, bagaimanapun juga om harus meminta persetujuan dengan kedua orang tuamu" ucap Raka.


"Ribet om, tidak usah tanya papi nanti malah tidak di setujui, om langsung datang kerumah Ara aja sambil bawa lamaran." usul Ara.


Raka di buat geleng-geleng dengan kelakuan anak asistennya itu.


"Mana bisa begitu, Om tetap akan bicara dulu sama papi kamu" ucap Raka.


"Yasudah deh," sahut Ara pasrah.


Narendra mengusap kepala Ara dengan penuh kasih sayang.


"Ayo kau antar kamu pulang sekalian kita jalan-jalan" ajak Narendra.


Ara melihat jam yang ada di ponselnya. Dia juga melihat banyak pesan masuk dari mami nya.


Dia menepuk keningnya, ternyata di sudah telat dua jam waktu pulang sekolah.


"Antar Ara pulang dulu bang sebelum ibu negara mengamuk" ucap Ara panik sambil memakai jaket dan juga tasnya.


Di pamit dulu sama Raka dan juga Alana.


"Calon ibu mertua dan calon papah mertua. Calon mantu pulang dulu ya" ucap Ara sambil mencium punggung tangan Raka dan Alana secara bergantian.

__ADS_1


Ara menarik lengan Narendra membawanya keluar dari mansion keluarga Wijaya.


"Aku yakin Chika di rumah pasti sedang marah-marah melihat putrinya belum pulang" ucap Alana.


"Memangnya dia tidak ijin dulu mau kesini" tanya Raka.


"Melihat dari tingkah Ara sih sepertinya dia tidak bilang dulu sama maminya" sahut Alana.


"Aunty Chika pasti pusing menghadapi tingkah random Ara mam" timpal Nayla.


Raka dan Alana terkeke mengingat Andra yang sering cerita dengan Raka tentang kelakuan Ara, begitu juga dengan Chika yang sering cerita dengan Alana tentang anak-anaknya.


🍀🍀🍀🍀


"Assalamualaikum...Ara cantik pulang ini" teriak Ara memasuki rumahnya.


"Darimana saja kamu hah?" Bukannya membalas salam Ara Chika justru langsung menyembur putrinya.


"Waalaikum salam mami" sindir Ara kepada maminya.


Chika melengoskan wajahnya malu karena di sindir oleh putrinya, saking keselnya dengan sang putri sampai membuat dia lupa menjawab salam putrinya itu.


"Eh Narend, kamu pulang nak" sapa Chika lembut ketika melihat keberadaan Narendra di rumahnya.


"Iya aunty, maaf aunty tadi Narend bawa Ara pulang ke rumah dulu" sahut Narendra meminta maaf kepada Chika karena sudah membawa putrinya tanpa ijin.


"Tidak apa boy, aunty senang kalau kamu bawa Ara pergi" ucap Chika sambil melirik putrinya.


Ara merotasi bola matanya malas, giliran bicara sama Narendra lembut, giliran ngomong dengannya maminya suka ngegas.


Maksudnya apa tadi, maminya suka kalau Narendra membawanya pergi, apa maminya itu senang kalau dirinya tidak ada di rumah.


"Sok-sokan suruh bang Narend bawa Ara pergi, orang Ara pulang telat aja mami ngamuk-ngamuk" seru Ara.


"Beda kalau itu mah, kalau sama Narend kan jelas, mami juga sudah tahu rumah Narend dan juga keluarganya, beda kalau kamu perginya sendiri nanti kalau ada apa-apa dengan kamu mami mau cari kamu kemana coba?" sahut Chika tak mau kalah


Bersambung


Jangan lupa like, koment, vote, gift🙏

__ADS_1


Happy reading guys🙏


__ADS_2