
"Sekolah yang rajin, nanti pulangnya aku jemput" ucap Narenda sambil menepuk pelan kepala Ara.
"Humm" sahut Ara mengangguk patuh.
Ara keluar dari mobilnya Natendra, ia melambaikan tangan saat mobil Narenda mulai bergerak maju meninggalkan area sekolahnya.
Setelah mobil tunangannya sudah tidak terlihat, barulah Ara berbalik dan berjalan menuju kelasnya.
Di sepanjang jalan Ara senyum-senyum sendiri seperti orang gila. hingga tepukan di bahunya menyadarkannya.
"Lo kenapa senyum-senyim sendiri, libur sehari membuat lo gila" ucap Aciel.
"Ngagetin aja lo, ngga tahu apa gue lagi bayangi wajah tampan si abang" sahut Ara sambil tersenyum.
"Abang cilok depan maksud lo" ledek Aciel.
Plakk....
"Bisa-bisanya abang Narendranya gue di samain sama kang cilok depan" kesal Ara.
"Ya kali aja Ra, kan sama juga panggil nya abang" sahut Aciel.
"Tapi kan ngga gitu juga jamil" seru Ara
__ADS_1
Aciel mengendikan bahunya lalu meninggalkan Ara, Ara pun berlari mengejar Aciel yang seenaknya saja meninggalkannya.
"Aciel tunggu" panggil Ara sambil berlari.
Bukannya berhenti Aciel malah berlari kencang meninggalkan Ara, mereka berdua seperti anak Tk yang bermain kejar-kejaran.
Indri dan Marissa menggelengkan kepalanya melihat kedua sahabatnya memasuki kelas sambil kejar-kejaran.
Masuk kelas bukannya langsung ke tempat duduknya malah kejar-kerjaran sambil memutari meja yang ada di kelasnya
"Mereka berdua sedang apa sih" tanya Indri tak habis pikir dengan kelakuan kedua sahabatnya itu.
"Entahlah, liatin saja sampai mereka lelah" sahut Marissa.
Ara berhenti mengejar Aciel dan duduk di sebelah Marissa dengan nafas ngos-ngosan. Aciel juga duduk di sebelah Indri karena lelah berlari dari kejaran Ara.
"Dia yang mulai" sahut Ara sambil menunjuk Aciel.
"Lah lo yang mulai ngejar gue duluan" timpal Aciel tak terima di salahkan oleh Ara.
"Gue kan cuma mau nyusulin lo doang, tapi lo nya malah lari" kesal Ara.
indri sama Marissa menepuk jidatnya, jadi mereka kejar-kejaran itu tanpa tahu penyebabnya apa. Aciel mengira Ara mengejarnya karena sudah meledeknya, tapi ternyata bukan, Ara hanya ingin menyusulnya masuk kedalam kelas.
__ADS_1
Tapi kenapa sudah di dalam kelas Ara juga masih mengejarnya, pikir Aciel pusing.
"Dasar ngga jelas kalian berdua" ucap Marissa.
Tak lama guru masuk kedalam kelas dan memberikan pengumuman kepada mereka.
"Pagi anak-anak, minggu depan khusus kelas tiga akan diadakan acara camping di bandung, saya akan memberikan surat ijin ini dan berikan kepada orang tua kalian, jika orang tua kalian setuju maka suruh orang tua kalian menandatanganinya, bagi yang tidak ikut tidak usah di tandatangani. Setelah itu kumpulkan kembali surat tersebut kepada saya." ucap Guru.
"Baik pak" ucap mereka kompak.
Guru memberikan surat itu kepada ketua kelas, ketua kelas langsung membagikan surat itu keseluruh siswa yang ada di kelas tersebut.
"Gimana Ra? lo ikut ngga?" tanya Marissa.
"Ikutlah, masak ngga ikut" jawab Ara.
"Memangnya papi lo bakal ngijinin" tanyanya lagi
"Pasti papi gue bakal ijinin tapi dengan syarat di pantau sama pengawal bayangan miliknya" sahut Ara mengerucutkan bibirnya.
Marissa terkekeh, ia tahu papi Ara begitu posesif dengan putrinya, tak jarang Marissa juga ikut mengelabuhi anak buah papinya agar Ara terbebas dari penjagaan anak buah papinya Ara.
Bersambung
__ADS_1
Happy reading guys
Jangan lupa, like, koment, vote