
"Jalan yuk guys, badmood gue di rumah" ajak Indri setelah habis jam sekolah.
"Kemana?" tanya Ara.
"Ketempat yang kemarin aja gimana? , kangen juga sama bocil-bocil itu" sahut Aciel.
Aciel mengajak mereka kembali menemui anak-anak jalanan itu, banyak pelajaran yang bisa Aciel ambil dari anak-anak itu.
Dari cara mereka bertahan hidup membuat Aciel salut akan perjuangan mereka yang tak pernah menyerah dan tak sedikitpun mengeluh, mereka menjalani hidupnya dengan ikhlas.
Selama ini Aciel selalu mengeluh karena melihat orang tuanya yang lebih sibuk mencari uang ketimbang menemaninya di rumah, makanya Aciel selalu berulah di sekolah untuk mencari perhatian orang tuanya.
Dan sekarang ia sadar, kalau selama ini orang tuanya mencari uang untuk dirinya agar hidup enak tidak seperti mereka yang kurang beruntung.
Kini pandangan Aciel terhadap orang tuanya berubah, tidak seperti dulu yang selalu menilai orang tuanya egois hanya mementingkan pekerjaannya saja ketimbang dirinya.
"Ayolah, kita juga sudah lama tak mengajar mereka" ucap Ara menyetujui ajakan mereka.
"Mau kemana?" tanya Narendra yang baru saja datang untuk mengajak Ara pulang.
"Mau kekolong jembatan sama mereka, jadi bang Narend pulang sendiri aja nanti Ara minta di antar sama Marissa" sahut Ara.
"Tidak, abang akan ikut denganmu" kata Narendra posesif.
Dalam hati Ara tersenyum senang melihat Narendra yang posesif dengannya.
"Gimana guys" tanya Ara kepada teman-temannya. Ia takut kalau keberadaan Narendra akan membuat mereka tak nyaman.
"Ajak aja, kita juga butuh dana tambahan untuk membelikan mereka buku dan kebutuhan mereka yang lain" sahut Indri, yang lain pun mengangguk setuju.
"Kalau begitu kita langsung ke mall aja, kita mencari buku terlebih dahulu untuk mereka" ajak Ara.
Mereka mengangguk dan masuk kedalam mobilnya masing-masing. Mereka melajukan mobilnya menuju ke mall.
Hanya butuh waktu lima belas menit, mobil yang mereka kemudikan sudha sampai di mall. Mereka keluar dari mobil dan berjalan masuk kedalam Mall.
Mereka langsung menuju ke toko buku, mereka membeli beberapa buku tulis dan alat tulisnya juga.
"Abang nanti pulang telat di cariin sama aunty Alana tidak?" tanya Ara kepada Narendra, karena setahu Ara Narendra paling dekat dengan sang mama, dan mamanya itu biasnya akan mencarinya kalau sang putra pulang terlambat.
"Tidak, kau pikir abang anak kecil apa" cebik Narendra.
"Kan Ara cuma nanya, siapa tahu aja Aunty Alana akan mencari putra kesayangannya ini" sahut Ara mengejek Narendra.
__ADS_1
"Ngeselin banget sih, suka sekali ngejek abang" ucap Narendra sambil mengacak ngacak rambut Ara gemas.
Membuat Ara kesal dan mengerucutkan bibirnya sambil merapihkan rambutnya yang berantakan.
"Itu bibir tidak usah di maju-majuin gitu, nanti abang cium biar tahu rasa" ucap Narendra sambil merangkul Ara, lalu menyusul yang lain.
"Kenapa sekarang banyak omong sih, udah bener jadi manusia es aja" gerutu Ara.
Narendra tak menggubris ucapan Ara. Setelah mereka selesai belanja alat tulis, sekarang mereka membeli nasi dan susu serta cemilan yang lain.
"Sudah semua kan" tanya Ara kepada mereka, ia ingin memastikan kalau semuanya sudah kebeli dan tidak ada yang kurang.
"Sudah semua Ra" sahut Aciel setelah mengecek barang yang mereka beli.
"Kalau begitu kita langsung meluncur kelokasi saja" kata Ara.
Mereka langsung meluncur menuju ke lokasi yang mereka tuju.
"Sejak kapan kamu mendatangi lokasi itu sayang" tanya Narendra sambil menyetir mobilnya.
Ara tercengang mendengar panggilan sayang yang di tujukan untuknya. Ara langsung memegang kedua pipinya yang terasa memanas.
Ingin rasanya Ara menjerit dan meminta papinya untuk mengeluarkannya dari mobil Narendra, tidak baik untuk kesehatan jantungnya jika terlalu sering berada di dekat Narendra.
"Kenapa tidak jawab sayang" tanya Narendra lagi.
"Dari SMP" sahut Ara gugup, lalu melengoskan wajahnya kesamping.
Jangan sampai Narendra melihat wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.
Mobil tersebut kembali hening, Ara menjadi lebih pendiam dari sebelumnya, dia masih mencoba menetralkan detak jantungnya yang sejak tadi ajep-ajep.
"Hai jantung, bisa diam tidak sih" ucap Ara dalam hati mengomeli jantungnya.
Mobil mereka sampai di lokasi, mereka mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya agar tak menganggu pengendara lain.
Mereka keluar dari mobil sambil membawa barang-barangnya yang tadi yang mereka beli.
"Kak....." Teriak mereka sambil melambaikan tangan ketika melihat kedatangan Ara dengan yang lain.
Ara membalas melambaikan tangannya dan menyuruh mereka untuk mendekat.
"Kalian sudah pada makan belum" tanya Ara ketika mereka sudah mendekat.
__ADS_1
"Belum kak" jawab mereka secara bersamaan.
"Yasudah, ini kak Ara sama teman-teman kak Ara membawakan kalian nasi, tolong jangan berebut... semua pasti kebagian" ucap Ara lalu memperingatkan mereka.
"Baik kak" sahut mereka patuh.
Ara di bantu yang lain membagikan nasi beserta minum untuk mereka, semua kebagian tidak ada yang terlewat.
"Sudah semua belum" tanya Ara.
"Sudah kak" jawab mereka kompak, mereka terlihat senang dengan kedatangan Ara yang membagikan nasi kepada mereka.
"Sekarang kalian cari tempat duduk untuk makan, ngamennya di lanjut nanti" titah Narendra.
Mereka pun patuh, mereka pindah dari pinggir jalan kembali ke kolong jembatan dan mencari posisi duduk masing-masing.
"Nasinya masih sisa Ra, kalian pada mau makan tidak?" tanya Marissa.
"Ayo kita makan bareng-bareng aja, sisanya kita kasih ke yang lain, coba lihat kesekeliling kali aja ada yang membutuhkan" usul Ara.
Tak lama ada ibu-ibu berpakaian lusuh seperti orang pemulung menghampiri mereka sambil menggendong anaknya.
"Permisi neng, tadi ibu lihat kalau neng membagikan nasi untuk mereka, apa nasinya masih sisa neng? anak ibu belum makan" ucap sang ibu tersebut.
"Masih bu, ini buat ibu sama anak ibu" sahut Marissa lalu memberikan dua bungkus nasi dan minum kepadanya.
Sang ibu pun menerima dua nasi bungkus itu dengan tangan bergetar, dia merasa bersyukur masih ada orang baik yang mau menolongnya, karena sejak tadi pagi anaknya belum makan.
"Alhamdulillah,... terima kasih neng, semoga kebaikan kalian di balas sama Allah" ucap sang ibu mendoakan mereka.
"Amin" sahut mereka kompak.
Setelah itu sang ibu pergi meninggalkan mereka.
"Nasinya tinggal tiga Ra, bagaimana" tanya Marissa.
"Kamu bardua saja sama Indri, lalu yang dua kasih ke Aciel sama bang Narend, aku belum lapar" ucap Ara yang selalu mementingkan temannya terlebih dahulu ketimbang dirinya sendiri.
Marissa memberikan nasinya kepada Aciel dan juga Narendra. lalu mereka mencari tempat duduk untuk makan, mereka tak jijik meskipun harus duduk di tanah.
"Kita makan berdua saja, aku tahu pasti kamu lapar" ucap Narendra kepada Ara.
Ara mengangguk, Narendra menyuapi Ara dengan menggunakan tangannya. Ara menerima suapan Narendra karena tak bisa di pungkiri Ara memang sebenarnya merasa lapar.
__ADS_1
Bersambung
Happy reading guys 🙏