
"Tidak usah sok kuat bang, tadi aja pas Nayla obatin, abang teriak-teriak" cibir Nayla.
Bugh
Narendra melempar bantal sofa mengenai wajah Nayla.
"Lihat pa, abang Narend selalu kasar sama Nay" adunya manja sambil memeluk perut papanya.
"Narend, jangan kasar begitu sama adiknya" tegur Raka.
"Ck, dasar manja" ejek Narendra.
"Biarin saja, abang juga suka manja sama mama" sahut Nayla tak mau kalah.
Raka menghela nafas sabar, beginilah suasana di rumah Raka selalu ramai dengan keributan kedua anaknya.
Nayla yang banyak omong selalu membuat Narendra kesal.
"Tunggu mama ambil salep dulu untuk mengobati lukamu" ucap Alana.
Lalu bangkit dari tempat duduknya, Alana melangkah menuju ke kamarnya.
Alana masuk kedalam kamar, lalu menuju ke nakas untuk mengambil kotak p3k.
Setelah mendapatkannnya, Alana turun dan kembali bergabung dengan anak dan suaminya yang masih berada di ruang keluarga.
"Tengkurep sayang" titah Alana.
Narendra menurut, ia berbaring dengan posisi tengkurep. Sebenarnya bagi Narendra itu hanya luka kecil saja.
Tapi tak ada gunanya menolak perintah mamanya itu, karena akan percuma.
Mungkin karena terlalu sayang dengan anak-anak nya, maka tiap kali ada anaknya terluka Alana akan heboh.
"Pelan ma" ringis Narendra ketika Alana mulai mengolesi punggungnya dengan salep.
"Iya, ini mama sudah pelan sayang, makanya besok lagi tidak sok-sokan jadi superhero." omel Alana.
Narendra bergeming, dia juga tidak tahu kenapa, dirinya selalu tak rela jika melihat Ara terluka.
"Apa kau menyukai Ara son" goda Raka kepada putranya.
"Tidak" jawab Narendra langsung tanpa berpikir panjang.
"Lalu kenapa abang selalu menyelamatkan Ara?" tanya Nayla.
"Rasa kemanusiaan saja, tidak lebih" jawab Narendra acuh.
"Tapi Nay tidak yakin, pasti abang memiliki perasaan sama Ara" terka Nayla.
__ADS_1
"Terserah" ucap Narendra jengah.
Jika di sahuti, Nayla tidak akan berhenti berbicara.
Dia akan terus mengoceh hingga mendapatkan jawaban yang memuaskan dirinya.
"Sudah sayang, nanti abang kamu marah" tegur Raka ketika putrinya ingin berbicara lagi.
Nayla mendengus kesal, lalu menduselkan wajahnya ke ketiak papanya.
......................
Di rumah Andre.
"Ara, kapan kamu akan belajar binis seperti papi" tanya Andre.
"Ya ampun pi, Ara masih sekolah...bahkan lulus aja belum, sudah di suruh belajar bisnis" jawab Ara mendengus.
"Bukankah lebih bagus belajar sejak dini hmm, jadi nanti setelah lulus SMA kamu bisa kuliah sambil bekerja membantu papi di perusahaan" saran Andre.
Andre sebenarnya punya perusahaan sendiri milik keluarganya, akan tetapi Andre lebih senang menjadi asisten Raka.
Meskipun begitu Andre masih bisa memantau perusahaannya sendiri, rencananya Ara akan di siapkan untuk menjadi asisten Narendra di perusahaan Wijaya.
Makanya Andre menyuruh putrinya belajar tentang bisnis mulai dari sekarang.
Tapi Ara tetap lah Ara, yang ingin bebas dan tak mau di atur, akan ada masanya dirinya akan belajar bisnis tapi tidak sekarang, begitulah kira-kira pemikiran Ara.
Andre menghela nafas panjang, putrinya memang keras kepala seperti dirinya dulu saat masih muda.
Belajar sekarang atau nanti ujung-ujungnya akan masuk ke perusahaan juga. Jadi mumpung masih sekolah dia puas-puasin main dulu, soalnya kalau sudah kerja pasti dia akan sibuk dan susah untuk main seperti sekarang.
...----------------...
Esok hari di sekolah Ara.
Ketika Ara ingin ke ruang guru, tak sengaja Ara mendengar sayup-sayup suara seseorang yang seperti sedang berantem.
Ara mencoba mencari ke asal suara tersebut, Ara berjalan dengan senyap, karena dia tidak ingin ketahuan kalau sedang menguntit.
"Gue peringatkan sama lo, jangan pernah dekat-dekat dengan genk nya Narendra, karena mereka semua adalah milik gue dan juga teman-teman gue" hardik Bella.
Narendra mempunyai tiga teman dekat, mereka bernama, Daniel, lucas, Azam. Mereka merupakan cowok terpopuler di sekolah itu.
Bella dan kedua temannya tak punya malu, selalu mengeklaim kalau mereka adalah miliknya kecuali Azam.
"Saya tidak berani mendekati mereka Bell, kamu tadi kan juga tahu kalau guru menyuruh kita membentuk kelompok" ucap Nina gugup.
Nina merupakan teman satu kelas Bella dan juga Narendra. tadi di kelas guru menyuruh mereka untuk membentuk kelompok untuk mengerjakan tugas fisika.
__ADS_1
Berhubung kelompok Narendra kurang satu, mereka menawarkan Nina untuk masuk ke kelompoknya, kebetulan juga Nina termasuk murid yang pintar.
Sedangkan Nayla dan Jihan sudha punya kelompok sendiri, makanya Narendra tidak memasukan adiknya ke dalam kelompoknya.
"Kamu kan bisa menolaknya hah, dasar cewek murahan" sentak Bella sambil mendorong tubuh Nina hingga tersungkur ke lantai.
Sedangkan di depan pintu Ara sedang mengi tip dari celah pintu yang tak tertutup rapat, sambil memvideokan aksi bully yang di lakukan Bella.
"Gila tuh orang, hoby banget membully orang, dan lagi-lagi masih berhubungan dengan bang Narend" gerutu Ara sambil memegang ponselnya.
Dari celah pintu Ara bisa melihat, kalau sekarang Bella dan temannya sedang membully Nina.
Telihat Bella mulai emosi lalu menjambak rambut Nina dari belakang dengan begitu kencang. Hingga membuat wajah Nina menengadah ke atas.
Ara yang sudah geram akhirnya keluar dai persembunyiannya.
Brakkk
Bunyi pintu di banting oleh Ara.
Prok
Prok
Prok.
"Ternyata beginilah kelakuan anak dari kepala sekolah di sekolahan ini, sungguh tak bermoral dan tidak keren sama sekali." ucap Ara sambil bertepuk tangan mengalihkan perhatian Bella dan juga temannya.
"Kamu..."
"Ngapain lo kesini hah? Cepat pergi dari sini atau gue akan melakukan hal yang sama seperti Dia " sentak Bella.
Ara dengan santainya mendekati Bella, lalu mendudukan bokongnya di kursi gudang tersebut.
Ara menggoyang goyangkan ponselnya yang berisi bukti pembulian yang di lakukan Bella.
"Lepaskan dia, atau gue akan menyebarkan video pembullian ini" ucap Ara dengan senyum smirk.
"Gue yakin, kalau video ini tersebar maka reputasi bapak lo sebagai kepala sekolah di sini pasti akan tercoreng. Lo bisa bayangin kan anak kepala sekolah tapi justru menjadi tukang bully hanya karena memperebutkan seorang laki-laki, sungguh miris" ucap Ara sambil menyilangkan kedua kakinya.
"Hapus video itu, atau gue akan membuat perhitungan sama lo" ancam Bella.
Bella mencoba menekan kepanikannya, dia juga merasa takut kalau sampai video itu tersebar, dia tak mau membuat ayahnya di pecat juga dari pekerjaannya.
"Ck, kau mengancamku" Sahut Ara santai.
"Jangan bermain- main dengan ku Ara, atau kau akan menyesalinya" ucap Bella masih dengan keangkuhannya.
"Lepaskan dia, atau kau sendiri yang akan aku hancurkan" tegas Ara dengan sorot mata tajam menatap Bella dan kedua temannya.
__ADS_1
Bersambung
Happu reading guys🙏