
"Abang berangkat dulu, jagan nakal dan jaga diri baik-baik, doakan abang segera lulus dan langsung menikahimu" ucap Narendra sambil menguspa puncak kepala Ara.
"Iya Ara akan berdoa supaya abang cepat lulus, tapi ingat abang harus jaga hati untuk Ara, jangan sampai abang tergoda sama perempuan lain" sahut Ara memberi sedikit peringatan kepada Narendra.
"Iya sayang, bagaimana mungkin abang selingkuh darimu, perjuangan abang untuk meluluhkan hatimu aja sulit" sahut Narendra sambil mencubit pipi Ara gemas.
Perjuangan Narendra meluluhkan hati Ara aja cukup sulit, jadi tidak mungkin dia akan menyia-nyiakan Ara atau usaha dia selama ini mendapatkan Ara akan sia-sia.
"Pesawatnya sudah mau berangkat bang" ucap Raka mengingatkan putranya yang terus menempel sama Ara.
"Iya pah" sahut Narendra.
Narendra menakup wajah Ara dan memberanikan diri untuk mencium keningnya. Hanya kening sepertinya tak jadi masalah yang penting jangan yang lain.
"Hati-hati" ucap Ara tersenyum dan di balas anggukan sama Narendra.
Kini Narendra berpamitan dengan orang tuanya dan juga orang tua Ara serta dengan kembaranya Nayla.
__ADS_1
"Selama abang ngga ada kamu harus jaga dirimu baik-baik, karena abang tidak bisa mengawasimu secara langsung" ucap Narendra kepada adiknya.
Meskipun Narendra terlihat cuek tapi dia selalu memperhatikan keluarganya terutama keselamatan adiknya, ia tak membiarkan siapapun menyakiti adiknya.
"Iya bang, abang juga harus jaga diri baik-baik disana. Nanti kalau Nay kangen Nay akan menghubungi abang" sahut Nayla dan memeluk Narendra, Narendra pun membalas pelukan sang adik sambil mencium puncak kepalanya.
Tak lama mereka pun melerai pelukannya.
Narendra menghela nafas berat sambil menatap seluruh keluarganya, rasanya berat harus meninggalkan mereka semua, tapi ini sudah menjadi konsekuensinya sebagai pewaris keluarga Wijaya.
Narendra berjalan mudur menuju pesawat sambil tersenyum melambaikan tangannya, semua keluarga juga membalas melambaikan tangan.
Setibanya di rumah Ara meminta ijin kepada Andre untuk mengikuti kegiatan camping minggu depan.
"Pi, minggu depan sekolah Ara mengadakan camping di Bandung, Ara mau ikut ya" ucap Ara dengan tatapan memohon, ia berharap kalau papinya akan mengijinkannya.
"Tidak boleh" tegas Andre, tak tahu kenapa Andre merasa khawatir dengan putrinya, ia merasa tak rela kalau putrinya ikut acara tersebut.
__ADS_1
"Kenapa? teman-teman Ara aja pada ikut masak Ara ngga" rengek Ara.
"Tapi itu jauh Ara, kalau hanya disekitar sini papi ijinkan, tapi ini di luar kota lho" sahut Andre.
"Tapi kan Bandung dekat pi, cuma beberapa jam aja juga sampai" kekeuh Ara.
Andre menghela nafas pelan, Ara kalau sudah punya keinginan memang sulit di bantah, ia akan terus merengek kalau tidak di ijinkan.
"Baiklah, tapi kamu harus bawa bodyguard" ucap Andre akhirnya mengijinkan dengan syarat membawa bodyguard.
"Ngga mau, nanti yang ada teman-temanku takut melihat bodyuard papi itu" tolak Ara.
Lebih tepatnya kalau dirinya membawa bodyguard yang ada dia malu, karena pastudia kan menjadi pusat perhatian teman-temannya.
"Iya atau tidak sama sekali" tegas Andre, ia tak mau terjadi sesuatu dengan putrinya .
"Iya deh, tapi dari jauh aja jangan dekat-dekat" ucap Ara sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
__ADS_1
Padahal tanpa bodyguard pun Ara bisa menjaga dirinya sendiri, percuma saja selama ini ia berlatih bela diri kalau maish di dampingin sama bodyguard.
Bersambung.