
Hari ini merupakan hari di mana perlombaan Basket akan di lakukan. Tiap kelas sudah menyiapkan jagoannya untuk mengikuti lomba basket yang di adakan oleh pihak sekolah.
Mereka sudah berkumpul di lapangan basket untuk memberikan dukungan kepada timnya masing-masing.
Pertandingan sudah berlangsung, kali ini tim basket putralah yang sedang bertanding.
Kelas Narendra melawan kelas tiga yang lain.
Mereka akan mencari siapa pemenang dari kelas 3, begitu juga kelas 2 dan kelas 1 akan mencari siapa pemenangnya.
Kelas tiga ada tiga kelas, yaitu A-C begitu juga kelas 1 dan 2 masing-masing ada tiga kelas.
dan setelah mereka mendapat pemenang dari masing-masing kelas 1 sampai 3.
Mereka akan final untuk memperebutkan juara 1.
Perlombaan berlangsung cukup sengit.
Ara dan semua teman-temannya bersorak memberi dukungan kepada Narendra.
"Semangat abang Narend" teriak Ara.
"Semangat calon imamku" teriak Indri percaya diri.
Membuat semuanya tertawa.
"Cih, dasar norak" decih Bella ketika melihat kelas Ara bersorak mendukung Narendra.
Ada rasa tak terima ketika ada perempuan lain yang mensupport laki-laki yang ia sukai.
"Biar norak tapi tetap cantik kan" sahut Marissa sengaja memancing emosi Bella.
Bella dan dua sahabatnya langsung diam, memang kenyataannya mereka jauh lebih cantik ketimbang dirinya.
"Kok diam mbak, mengakui ya kalau kita lebih cantik" ledek Marissa.
"Terserah lo" ketus Bella, setelah itu pergi dan mencari tempat yang jauh dari tempat Ara.
Bella malu menjadi bahan ledekan mereka.
Ara dan yang lain tertawa terbahak melihat wajah kesal Bella.
"Sok-sokan mau ngbully kita, baru di gituin saja sudah kena mental mereka" sinis Marissa.
"Tega banget lo Mar, liat tuh anak orang sampai malu begitu" ucap Aciel.
"Diam lo bocil, siapa suruh dia ngusik kita" sahut Marissa tak terima di salahkan.
Aciel tak lagi menyahut, dia memilih diam dari pada urusannya makin panjang. Dia juga sebelumnya tidak tahu perseteruan geng Bella sama Ara.
Setelah melewati permainan yang begitu panjang dan sengit, akhirnya pertandingan di menangkan oleh tim Narendra.
Pertandingan masih terus bergulir, tim Ara juga memenangkan pertandingan, nantinya tim Ara lah yang akan mewakili kelas 2 di final nanti melawan tim Bella.
__ADS_1
Bella juga tak kalah jago dengan Ara, karena Bella dari dulu sudah ikut ekstrakulikuler Basket.
Nayla tidak ikut basket, dia terlalu malas untuk mengikuti olah raga tersebut, dia lebih suka rebahan di rumah sambil menonton drakor kesukaannya.
Kini memasuki final untuk basket putri. Ara dan teman-temannya sudah bersiap-siap memasuki area lapangan.
"Kita harus kompak, supaya bisa mengalahkan boneka Anabell itu Rak" ucap Indri sambil berjalan menguncir rambutnya seperti ekor kuda.
"Kita juga harus hati-hati, sepertinya boneka Anabell sedang merencanakan sesuatu, terutama lo Ra" timpal Marissa.
"Gue juga berfikir seperti itu, kita harus waspada dengan pergerakan mereka" ucap Ara.
Indri dan Marissa mengangguk tanda mengerti.
Tim Ara dan Tim Bella sudah berada di lapangan basket. Wasit memanggil kapten dari masing-masing tim.
Ara dan Bella pun maju sebagai perwakilan dari timnya. Wasit menjelaskan semua aturan mainnya. Ara dan Bella mengangguk tanda mengerti.
Bella menatap Ara dengan tatapan permusuhan, akan tetapi Ara meresponnya dengan biasa saja.
Pertandingan segera di mulai.
Wasit mulai melemparkan bola ke atas di antara kedua tim lawan.
Ara melompat ke atas merebut bola, karena postur tubuh Bella lebih pendek dari Ara, alhasil Ara lah yang bisa mendapatkan bola terlebih dahulu.
Ara berlari menghindari Bella sambil mendrible bolanya, Bella dan kedua temannya sengaja memepet Ara terus.
Indri berlari sambil mendrible bola dan setelah itu ia masukkan ke dalam ring.
Goallllll......
Sorak para penonton ketika melihat lemparan Indri yang sukses membuat timnya mencetak 2 angka untuk pertama kalinya.
"Semangat guys" teriak Ara menyemangati tim nya.
Pertandingan terus berlangsung, Tim Bella mengejar ketertinggalannya, kini Skor mereka selisihnya sangat tipis sekali.
Tim Ara unggul dengan skor 21.
Sedangkan tim Bella mendapat skor 18, perbedaan yang sangat tipis memang. akan tetapi waktu sisa 3 menit lagi pertandingan akan berakhir.
Kini giliran Marissa yang membawa bola,.
"Ara" panggil Mariss seraya melemparkan bola kepada Ara.
Hap
Ara menangkap bola tersebut.
Brughhh
"Akhhh.... " jerit Ara jatuh sambil memegangi kakinya.
__ADS_1
Wasit langsung menghentikan pertandingan.
Bella sengaja membuat kaki Ara cidera, dengan cara menjegalnya hingga membuat Ara jatuh.
"Sakitttt.... "ringis Ara meringkuk.
"Ara.... " panggil Indri dan Marissa secara bersamaan seraya berlari mendekati Ara.
Sedangkan Bella tersenyum smirk tanpa ada orang yang mengetahuinya, akan tetapi Narenda melihat itu.
Aciel langsung berlari memasuki area lapangan, ia berniat ingin mengendong Ara.
Namun sebelun terjadi, sudah terlebih dahulu di cegah oleh Narendra.
"Minggir, biar aku yang membawanya ke rumah sakit" ucap Narendra langsung mengangkat tubuh Ara, Ara reflek langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher Narendra. kemudian berlari keluar lapangan, menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir.
"Sakit bang" ringis Ara sampai meneteskan air matanya.
"Tahan sebentar, abang akan membawamu ke rumah sakit" sahut Narendra lembut sambil mempercepat langkahnya.
"Tunggu, kami ikut" teriak Marissa dan Indri sambil berlari menyusul Narendra dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Cepat masuk" titah Narendra kepada Marissa dan Indri.
Indri dan Marissa langsung masuk kedalam mobil Narendra. Indri duduk di depan, sedangkan Marissa duduk di belakang sambil memangku kepala Ara.
Narendra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, ia tak tahan mendengar Ara yang terus merintih kesakitan.
"Jangan ngebut-ngebut kak, nanti kita malah ikut masuk rumah sakit juga seperti Ara" ucap Indri memperingati Narendra.
"Diamlah, kau bisa menganggu kosentrasiku" ucap Narendra dengan nada dingin tanpa ekspresi.
Akan tetapi masih terlihat jelas kekhawatiran di wajah Narendra.
Gluk
Indri menelan salivanya.
"Eh buset, ternyata auranya mengerikan juga" batin Indri.
Tiba di depan rumah sakit Narendra langsung saja keluar dari mobil, lalu membuka pintu belakang, ia kembali menggendong tubuh Ara.
"Dokter tolong teman saya dok" teriak Naredra sambil berlari memasuki rumah sakit.
Sedangkan Indri dan Marissa masih melongo melihat tingkah heroik Narendra, ia juga tak menyangka Narendra meninggalkan mobilnya begitu saja.
"Perasaan Ara cuma kesleo akibat di jegal boneka Anabell itu, tapi kenapa kak Narend sekhawatir itu sama Ara ya Ndri" tanya Marissa merasa aneh dengan perlakuan Narendra ke Ara yang terkesan berlebihan.
"Tau, apa jangan-jangan Kak Narend naksir sama Ara ya, secara kan sejak kecil mereka selalu bersama" sahut Indri menerka nerka.
Bersambung
Happy reading guys🙏
__ADS_1