
Bip
Bip
Bip
Terdengar suara klakson mobil Aciel yang sudah berada di depan rumah Ara.
Seorang pelayan masuk menghampiri Ara yang sedang sarapan bersama orang tuanya.
"Non Ara temannya sudah datang, dia ada di depan menunggu non Ara" ucap pelayan rumah.
"Terima kasih, sebentar lagi Ara akan kesana Bi" sahut Ara seraya mengelap mulutnya menggunakan tissu.
Kemudia sang bibi berlalu dari ruang makan.
"Mam, Ara berangkan dulu ya, teman Ara sudah datang" pamit Ara kepada maminya, tak lupa ia mencium punggung tangan maminya.
"Apa itu temanmu yang kemarin? "tanya Chika ingin tahu.
"Hmmm.. " gumam Ara malas.
"Kenapa tidak di suruh masuk dulu, suruh dia sarapan dulu Ara" saran Chika.
"Tidak, Ara sudah mau telat" tolak Ara.
Dia malas mengajak Aciel ketemu maminya, pasti maminya itu akan banyak tanya kepada Aciel.
Chika mendengus kesal karena penolakan putrinya itu.
Ara beralih pamit kepada papinya.
"Pi, Ara berangkat dulu ya" pamit Ara.
"Papi akan mengantarmu ke depan" ucap Andre, seraya berdiri dari temoat duduknya.
Ia ingin lihat orang yang menjemput putrinya.
Ara mengerucutkan bibirnya, papi nya begitu posesif, ke depan saja mesti di antar.
Ara dan Andre berjalan bersama keluar dari rumah, ia menghampiri Aciel yang masih setia berada di dalam mobilnya.
Aciel yang melihat Ara keluar bersama ayahnya pun, akhirnya dia keluar dari mobil lalu menyalami Andre.
"Selamat pagi om, saya mau menjemput Ara" ucap Aciel sopan, setelah mencium punggung tangan Andre.
Andre menelisik menatap Aciel dari atas sampai bawah. lalu mengangguk ngangguk seoalah merasa puas dengan Aciel.
Dia tak menemukan kekurangan dari diri Aciel, dia sopan dan terlihat baik.
Sebenarnya Andre sudah mendapatkan identitas Aciel, bahkan ia tahu kalau sebelumnya Aciel di keluarkan darinsekolahnya yang lama akibat tawuran.
Tapi bagi Andre bukan masalah besar, bukankah itu hal yang wajar yang sering di lakukan oleh anak seusianya.
__ADS_1
"Baiklah, om titip Ara sama kamu. Tolong jaga dia baik-baik" ujar Andre.
Ara merotasi bola matanya malas, Andre selalu memperlakukannya dirinya seperti anak kecil.
"Baik om, saya akan menjaga Ara untuk om" sahut Aciel.
"Kalau begitu kami permisi berangkat dulu om" lanjut Aciel pamit kepada Andre.
"Hati-hati" balas Andre.
Ara dan Aciel masuk kedalam dan melajukan mobilnya menuju ke sekolah.
"Gila, bokap lu posesif banget sama lo Ra" ucap Aciel sambil fokus menyetir mobilnya.
"Ya begitulah, gue juga kadang kesel dengan keposesifan papi gue itu" sahut Ara.
"Harusnya lo seneng Ra, itu tandanya bokap lo sayang sama lo," kata Aciel.
"Seperti nyokap lo ya," kata Ara.
"Ya iyalah, gue kan anak tunggal, makanya nyokap gue selalu khawatir sama gue" ucap Aciel.
"Makanya jangan tawuran mulu lo, ntar kalau lo mati yang ada nyokap lu ngga punya anak lagi," ceplos Ara.
"Si*lan lo Ra, malah nyumpahin gue mati" kesal Aciel.
Sampai saat ini Aciel hanya menganggap Ara sebagai teman tidak lebih, dia merasa Ara satu frekuensi dengannya, makanya dia nyaman berteman dengan Ara.
Setibanya di sekolah, Ara menjadi pusat perhatian karena dia keluar dari mobil Aciel.
"Sampai kapan kau akan membohongi perasaanmu sendiri Nar" ucap Vian tiba-tiba sambil mengikuti arah Narendra yang melihat Ara sedang berjalan dengan Aciel.
"Hmmm" gumam Narendra.
Sebenarnya Narendra mulai menyadari perasaannya, kalau dia menyukai Ara, tapi dia selalu menepis perasaannya sendiri. Dia berfikir perasaan itu lambat laun akan hilang dengan sendirinya.
Tapi ternyata dia salah, semakin hari justru semakin membuat dirinya tersiksa.
Ara tak menyadari kalau Narendra sedang memperhatikan dirinya dari kejauhan, dia berjalan santai sambil berbincang dengan Aciel.
Hingga Ara dan Aciel berjalan melewati Bella, tapi Bella tak sedikitpun mengeluarkan kata-kata sindiran untuk Ara seperti biasanya.
"Tumben boneka Anabell kalem Ra" ucap Aciel yang merasa heran dengan perubahan sikap Bella kepada Ara yang tak seperti biasanya.
"Mungkin habis ruqyah, makanya dia diam" sahut Ara asal.
"Maksud lo setan yang ada di diri Bella sudah keluar begitu, makanya dia berubah jadi kalem" seloroh Aciel.
"Dasar bocil kalau ngomong suka sembarangan, memang kau pikir selama ini Bella kesurupan apa" ucap Ara sambil menoyor kepala Aciel.
"Lah kan lo sendiri yang bilang maemunah, lo kan yang bilang kalau dia habis di ruqyah" sahut Aciel tak terima.
"Memangnya ruqyah hanya untuk mengeluarkan makhluk halus saja apa" balas Ara.
__ADS_1
"Lah mana gue tahu, gue aja ngga pernah ruqyah" ujar Aciel.
Tiba-tiba mereka berdua di kagetkan oleh Marissa dan Indri yang baru sampai.
"Woy, kalian ini kalau berdua selalu saja berantem" ucap Marissa tiba-tiba yang berjalan di belakang Ara.
"Yee... siapa juga yang berantem, kita tuh lagi berdiskusi, iya kan Ciel" kilah Ara seraya mencari dukungan kepada Aciel.
"Iya" sahut Aciel malas membuat Ara mencebik kesal.
Indri dan Marissa tertawa cekikikan.
Mereka berempat masuk ke kelas, dan tak lama guru juga masuk ke kelasnya.
Mereka mulai mengikuti pelajaran dengan begitu serius, hingga tak terasa waktu istirahat pun tiba.
"Baiklah, berhubung bel istirahat sudah bunyi, kalian kerjakan di rumah halaman 95-97, besok bapak akan memeriksa PR kalian" ucap sang guru yang bernama Basuki.
"Aelah pak, PR mulu... di rumah tuh waktunya kumpul keluarga pak, bukan mengerjakan tugas," protes Ara.
"Iya pak betul kata Ara, kita sudah seharian belajar di sekolah, sampai rumah maaih harus mengerjakan tugas, lalu kapan waktu kita berkumpul sama keluarga, kita juga butuh main agar tak stress belajar mulu" sahut ketua kelas yang bernama Rendy.
"Iya pak" seru semua murid.
Pak Basuki menghela nafas sabar.
"Tidak ada alasan, kalian tetap harus kerjakan dirumah" tegas Pak Basuki.
Setelah itu ia bergegas keluar dari kelas sebelum muridnya protes lagi.
"Dasar Basuki, kerjaannya ngasih PR mulu, sepertinya gue harus mengajaknya ngopi, biar hidupnya selow dikit" dumal Marissa.
"Basuki Basuki aja lo, itu guru lo Maryati" ucap Ara sambil memukul lengan Marissa.
"Biarin aja, dia ngeselin sih" sahut Marissa.
"Dari pada ngdumel mending kita ke kantin" ajak Indri.
"Kuy lah" sahut Ara seraya menarik lengan Aciel agar ikut ke kantin.
"Lo napa narik tangan gue dah" kesal Aciel.
"Kita ke kantin, gue lupa bawa uang saku, jadi lo harus bayarin gue makan" ucap Ara seenaknya.
"Udah mah tadi berangkat gue jemput, sekarang malah suruh bayarin makan, dasar tidak ada terima kasihnya lo" dengus Aciel.
"Oh lo ngga mau bayarin gue" tanya Ara dengan nada ancaman.
"Sudah ayo gue bayarin, bisa di gantung sama bokap lo gue, kalau tahu anaknya kelaparan" ucap Aciel mengalah.
Ara tersenyum penuh kemenangan.
Bersambung
__ADS_1
Hapoy reading guys🙏