Gadis Barbar Dan Pria Kaku

Gadis Barbar Dan Pria Kaku
BAB 25


__ADS_3

"Turun sekaramg atau aku akan meggendongmu" ancamnya kepada Ara.


Ara melototkan matanya marah, apa-apaan Narendra ini, dulu saja menolaknya, giliran sekarang mendekatiknya, sangat sulit di mengerti pikir Ara.


Ara lebih memilih keluar dari mobil dari pada harus menghadapi sikap nekad Narendra.


"Ayo" ajak Narendra sambil merangkul bahu Ara. Aciel merotasi bola matanya malas lalu mengikutinya dari belakang.


Ara melirik kesamping melihat tangan Narendra yang ada di bahunya.


"Apa-apaan orang ini, sebenarnya maunya apa sih... sangat membangongkan" batin Ara jengah.


Ara menyingkirkan tangan Narendra dari bahunya, hingga membuat Narendra menoleh kepadanya.


"Kenapa?" Tanya Narendra sambil melihat ke arah Ara.


"Tangan abang membuat Ara risih, lihat noh di lihatin banyak orang" sahut Ara sambil menunjuk ke arah orang-orang yang melihatnya dengan sorot mata penuh permusuhan.


Narendra mengendikkan bahunya acuh, ia tak peduli dengan pandangan para fans nya, menurut Narendra mereka berlebihan, terlebih Narendra hanya orang biasa bukan artis atau model apapun.


Narendra kembali merangkul Arada melanjutkan kembali langkahnya, ia akan mengantar Ara ke kelasnya terlebih dahulu, setelah itu baru dia akan pergi ke kelasnya.


Selama perjalanan menuju ke kelas, Ara mendengar bisik-bisik siswa yang mengatainya. Ara hanya menghela nafas sabar.


Narendra mengantar Ara hingga sampai di mejanya.


"Belajar yang rajin, istirahat nanti aku akan kesini" ucap Naredra sambil mengusap kepala Ara, dan setelah itu ia keluar dari kelas Ara

__ADS_1


Ara di buat melongo dengan tindakan Narendra, tak hanya Ara, Indra sama Marissa pun terbengong melihat perlakuan Narendra ke Ara yang terkesan romantis.


"Cubit gue Ndri cubit" pinta Marissa sambil menyenggol Indri.


Indri pun ikuti kemauan Marissa, ia mencubit lengan Marissa dengan lumayan kencang.


"Aowwww......sakit bo*oh" pekik Marissa sambil menepis lengan Indri.


"Kan tadi lo sendiri yang nyuruh Maemunah" kesal Indri.


"Tapi kan ngga usah kencang-kencang juga bisa Ndri" omel Marissa.


"Kalau tidak kencang mana kerasa" ucap Indri tak mau kalah.


Aciel yang jengah pun, akhirnya membenturkan kepala mereka berdua.


"Aaaaa.... sakit, dasar bocil si*lan" pekik mereka bedua kompak.


Aciel dan Ara terbahak-bahak melihat mereka berdua yang kesakitan.


"Di kira kepala gue batok kelapa apa, maen di adu begitu" gerutu Indri sambil mengusap kepalanya.


"Ra Ara," panggil Marissa


"Apa?, gue tidak tahu" ketus Ara, sudah lebih dulu memberikan jawaban sebelum sahabatnya itu bertanya.


"Apaan, gue kan belum bertanya, kenapa kau sudha jawab seperti itu" kesal Marissa.

__ADS_1


"Gue tahu lo mau tanya apa, pasti lo mau tanya tentang bang Narend kan" tebak Ara yang seolah tahu isi kepala sahabatnya itu.


Prok


Prok


Prok


Indri dan Marissa langsung tepuk tangan, karena semua tebakan Ara benar, kalau dirinya memang penasaran dengan perubahan Narendra.


"Lo semenjak jatuh jadi cenayang Ra," kata Indri.


"Bagaimana kalau kita buat Ara terjatuh lagi, siapa tahu dia berubah jadi paranormal" saran konyol Marissa membuat mereka semua tertawa.


Ara menoyor kepala Marissa kesal, kaki kesleo saja sudah membuatnya menderita. ya kali mau di jatuhin lagi.


"Sekata kata ya lo kalau ngomong" seru Ara.


"Keren tahu Ra kalau lo jadi peramal, siapa tahu lo bisa ngramalin jodoh gue" shaut Marissa asal.


"Tuh bocil nganggur, kenaoa ngga lo sikat saja si mar" seloroh Ara.


"Main sikat-sikat saja, memangnya gue ubin" timpal Aciel tak terima.


Ara, Marissa, serta Indri tertawa cekikikan.


Mereka akhirnya berhenti bercanda ketika sang guru sudah masuk kedalam kelasnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2