
"Selamat atas pertunangannya boy, jaga hati apalagi setelah ini kalian akan ldr lagi" ucap Arga menasihati keponakanya.
"Iya om, Narend janji bakal jaga hati Narend untuk Ara" ucap Narendra janji.
Arga menepuk kepala keponakannya pelan, ia yakin kalau ponakannya itu akan menepati janjinya.
"Ara nanti kalau Narendra berani macam-macam laporkan saja sama orang tuanya" ucap Arga kepada Ara.
"Tenang saja om, nanti kalau macam-macam langsung Ara samperin kesana" seru Ara.
Arga terkekeh mendengarnya, Ara memang seru dan ramai, tidak ada jaim-jaimnya.
Kini giliran Zara yang memberikan selamat kepada keponakan suaminya.
"Selamat boy" ucap Zara tersenyum.
"Terima kasih aunty" sahut Narendra.
Setelah mengucapkan selamat Arga mengajak istrinya turun dan bergabung kembali bersama keluarganya yang lain.
Tak lama Nayla datang menghampirinya.
"Om Arga kemana saja kenapa baru datang" seru Nayla saat melihat om nya sedang mengobrol dengan papahnya.
"Om sudah datang dari tadi princess, bahkan dari tadi om juga melihatmu sedang mengobrol dengan seorang pria" sahut Arga.
Nayla memegangi pipinya yang tiba-tiba memerah.
"ganteng kan om, senyumnya bikin hati Nay meleleh" ucap Nayla dengan pipi yang masih merah merona.
"Kak lihatlah putrimu, dia sudah bisa memuji pria ganteng, sepertinya sebentar lagi kamu bakal punya saingan kak" ucap Arga memanasi kakaknya.
"Tidak ada yang ganteng selain papah sama abang kamu" seru Raka tidak terima.
Nayla tersenyum lalu memeluk papahnya, Raka juga membalas pelukan putrinya.
"Papah memang ganteng, tapi mas gantengnya Nayla lebih ganteng" ucap Nayla mengklaim Damian.
"Mas ganteng mas ganteng memangnya kalian sudah jadian hmm" tanya Raka sebal.
"Belum, tapi akan" sahut Nayla tersenyum penuh maksud.
"Jangan bilang kamu yang akan menembaknya duluan kak" tebak Arka anak Arga.
"Kau lihat saja nanti, memangnya siapa yang bisa menolak pesona Nayla Wijaya" sahut Nayla dengan gaya centilnya, Arka merotasi bola matanya malas.
__ADS_1
Raka memiting kepala putrinya gemas. membuat Nayla tertawa dan terus meronta minta di lepaskan.
"Siapa yang ngajarin genit begitu, lama-lama papa karungin kamu ya biar tidak bisa keluar rumah" ucap Raka.
"Papah ngarang, masak Nay cantik begini mau di karungin" sahut Nayla masih berusaha lepas dari pitingan sang papa.
Semua geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan bapak itu.
"Menginaplah kali ini saja Ga, kau sudah lama tak menginap di rumah mommy" ucap mommy Ella kepada putra bungsunya.
"Iya mom, kebetulan anak-anak juga lagi libur sekolah" sahut Arga.
"Lalu dimana putrimu" tanya mommy Ella clingukkan kesana kemari.
Arga dan Zara menepuk keningnya, ia melupakan putrinya tadi putrinya itu ijin mau ketoilet namun sampai sekarang tak kunjung kelihatan.
"Dia kemana bee, tadi katanya mau ketoilet tapi sampai sekarang tak juga kelihatan" tanya Zara mulai cemas.
"Tunggu saja, nanti juga kesini sendiri anaknya" sahut Arga cuek.
Ia tahu putrinya itu tidak akan kemana-mana. Dan benar saja tak lama Ruby datang menghampiri mereka.
"Kamu darimana saja sih sayang, kamu membuat mommy cemas" oceh Zara kepada putrinya. Ruby hanya nyengir sambil mengaruk kepalanya.
"Ngapain" tanya Zara meicingkan matanya menatap putrinya.
"Tidak ngapa-ngapain hanya ingin saja" sahut Ruby sekenanya
Lalu ia menyalami oma dan opanya tak lupa dia juga menyalami tante dan om nya.
"Astaga Ruby kamu sudah cantik pakai dress tapi kenapa bawahnya pakai sneakers bukannya pakai high heels" ceplos Nayla saat melihat penampilan Ruby.
Ruby melototi sepupunya itu, ia sudah berusaha menyembunyikannya dari mommy nya tapi sepupunya ini malah lemes.
ia mendekati Nayla dan membekap mulutnya.
"Diam kak, nanti mommy marah" bisik Ruby sedangkan Nayla justru cekikikan.
Sebenarnya tadi dia tadi kembali kemobil dan mengganti sepatu high heels nya dengan sneakers. pada dasarnya Ruby tomboy jadi dia tidak nyaman pakai high heels.
Namun tindakan Ruby telat, mommy nya sudah terlajur mendengar ucapan Nayla.
"Kamu ganti sepatu Ruby" sela Zara yang mendengar ucapan Nayla.
"Iya mom, Ruby susah jalannya kalau pakai high heels" sahut Ruby sambil wajahnya di buat seimut mungkin supaya mommy nya tidak mengomelinya.
__ADS_1
"Sudah sayang biarin saja, sudah untung dia mau ikut kemari" ucap Arga.
"Dasar anak itu selalu saja membuatku emosi" gerutu Zara kesal.
Berbeda dengan Arka yang kalem, Ruby yang anak gadis malah sering membuat Zara pusing.
*
Bella tidak hadir di acara pertunangan Narendra, karena Raka takut Bella akan membuat kekacauan di pesta pertunangan putranya.
Acara sudah mau selesai, satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan tempat acara.
Narendra dan Ara pun turun dari atas panggung menghampiri keluarganya.
"Mami ayo pulang, Ara sudah ngga betah pakai baju ini" rengek Ara yang mulai tidak nyaman dengan gaun yang ia kenakan.
"Ini belum seberapa Ara, nanti kalau menikah bisa saja gaun pengantinya lebih besar dari ini" sahut Nayla.
"Kalau begitu nikah di KUA saja biar ngga ribet" ucap Ara mengerucutkan bibirnya.
"Kau benar kak Ara, nanti Ruby kalau menikah juga maunya di KUA saja biar ngga ribet pakai gaun" seru Ruby, langsung mendapat jitakan dari kakaknya.
"Masih kecil" ucap Arka.
"Kan Ruby bilangnya nanti kak bukan sekarang, Aelah... " sahut Ruby kesal sambil mengelus kepalanya yang baru saja kena jitakan kakaknya.
Mereka akhirnya memutuskan pulang ke kediaman Wijaya, sedangkan Ara kembali ke rumahnya sendiri.
"Kenapa Ara tidak pulang sama bang Narend saja" ujar Ara.
"Kalian baru bertunangan Ara bukan menikah, jadi masih belum bisa tinggal satu atap" ucap Chika gemas.
"Kenapa tadi tidak nikah langsung saja, dengan begitu Ara bisa tidur berdua dengan bang Narend" sahut Ara.
"Papi ini dengar tidak, anak mu ini ngebet sekali ingin menikah, apalagi otaknya sudah mulai mesum" ucap Chika.
"Kamu tidak boleh begitu sayang. kamu ini anak perempuan jadi kamu harus jaga image dikit biar tidak terkesan gampangan" ucap Andre sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Apa sih pi kan bang Narend sudah jadi tunangan Ara, jadi untuk apa jaim-jaim yang ada nanti bang Narend nya di rebut sama boneka Anabell" sahut Ara tak mau dengar nasihat papinya.
Andre hanya bisa menghela nafas pelan.
Bersambung.
Happy reading.
__ADS_1